CERPEN
BUKU HARIAN YANG TAK PERNAH DIAM
By : Poer Manise
Raka selalu duduk di bangku paling belakang, tepat di dekat jendela yang catnya mulai mengelupas dan berdebu di beberapa sudutnya. Dari tempat itu, ia bisa melihat halaman sekolah dengan pohon ketapang yang berdiri diam diterpa angin. Posisi itu seolah menjadi batas tak kasatmata antara dirinya dan dunia kelas yang terasa terlalu ramai. Ia tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari kelasnya, hanya hadir sebagai bayangan yang menempati kursi dan mengisi daftar absensi.
Saat teman-temannya tertawa keras membicarakan tren terbaru, saling menyahut dengan antusias dan penuh semangat, Raka memilih menunduk. Suara mereka terdengar seperti gema jauh yang tak benar-benar menyentuhnya. Di atas buku tulisnya, ia menggambar garis-garis tak bermakna, kadang melengkung, kadang berpotongan,seolah setiap goresan adalah cara untuk menyalurkan kata-kata yang tak mampu ia ucapkan. Sesekali ia melirik ke depan kelas, memperhatikan cara orang lain berbicara dengan mudahnya. Ia ingin seperti itu, tetapi setiap kali mencoba, suaranya terasa terperangkap di tenggorokan. Maka ia kembali pada garis-garis itu, pada diam yang sudah terlalu akrab. Ia bukan anak yang nakal, tetapi sering dianggap bermasalah.
“Raka, kenapa kamu tidak pernah aktif?” tanya Bu Rini suatu hari, nada suaranya lebih lelah daripada marah.
Raka hanya mengangkat bahu.
Di mata guru, ia murid yang sulit diajak bekerja sama. Setiap kali diskusi berlangsung, Raka lebih banyak diam, menunduk, atau pura-pura sibuk mencatat. Sikapnya yang tertutup sering disalahartikan sebagai tidak peduli atau tidak menghargai pelajaran. Padahal, ia mendengarkan dengan saksama, hanya saja pikirannya bergerak lebih cepat daripada keberaniannya untuk berbicara. Guru-guru mulai melabelinya sebagai anak yang pasif dan kurang partisipatif.
Di mata teman-teman, ia dianggap aneh. Ia jarang ikut bercanda, tidak pandai menanggapi lelucon, dan sering terlihat tenggelam dalam dunianya sendiri. Ketika pembagian kelompok tiba, suasana selalu berubah canggung. Nama Raka hampir selalu disebut paling akhir, atau lebih sering ditambahkan dengan terpaksa ketika tak ada lagi pilihan. Ia bisa merasakan jeda singkat sebelum seseorang berkata,
“Ya sudah, Raka saja,” dengan nada enggan.
Beberapa kali ia mencoba berbicara, mencoba menyampaikan pendapat atau sekadar menyapa lebih dulu. Namun setiap kata terasa seperti batu yang tersangkut di tenggorokan. Jantungnya berdegup keras, telapak tangannya berkeringat, dan kalimat yang sudah tersusun rapi di kepala tiba-tiba buyar begitu saja. Akhirnya, ia kembali memilih diam, meski diam itu perlahan membuatnya semakin jauh dari siapa pun. Akhirnya, ia berhenti mencoba.
Setiap sore, sepulang sekolah, Raka duduk di meja kecil dekat kamarnya yang menghadap ke dinding penuh tempelan jadwal dan potongan kertas kecil. Cahaya matahari senja masuk melalui jendela, membentuk bayangan lembut di lantai. Di atas meja itu tergeletak sebuah buku bersampul cokelat tua, sudutnya sedikit terlipat dan kertasnya mulai menguning. Tidak ada yang tahu tentang buku itu, bahkan orang tuanya. Buku itu selalu ia simpan rapi di laci paling bawah, seolah menyimpan rahasia terbesar dalam hidupnya. Hanya di sanalah Raka berani jujur tanpa takut dihakimi.
Buku harian. Di sanalah Raka berbicara.
Ia menulis tentang bagaimana suaranya terasa tak penting, seolah apa pun yang ingin ia katakan akan tenggelam sebelum sempat didengar. Di halaman-halaman itu, ia mencurahkan perasaan ketika mengangkat tangan namun tak pernah benar-benar dipersilakan berbicara, atau ketika ucapannya ditanggapi sekadarnya lalu dilupakan. Ia menulis tentang tatapan teman-temannya yang seolah berkata, kamu berbeda, tatapan yang tidak selalu kasar, tetapi cukup untuk membuatnya merasa terasing. Ia juga menuliskan tentang Bu Rini yang lebih sering memuji siswa lain yang aktif dan penuh percaya diri, sementara dirinya hanya disebut saat nilai ulangan dibagikan.
Namun buku hariannya tidak hanya berisi luka. Ia juga menulis tentang hal-hal yang tak pernah diperhatikan siapa pun. Tentang petugas kebersihan sekolah yang selalu datang paling pagi, menyapu halaman sebelum siswa berdatangan. Tentang pohon ketapang di halaman yang tetap tegak meski diterpa angin dan hujan, seolah mengajarkan ketabahan tanpa suara. Tentang Dina yang diam-diam menyisihkan uang jajannya untuk membeli makan siang adiknya. Dari balik diamnya, Raka melihat dunia lebih dalam, dan di antara baris-baris tulisannya, ia menemukan arti bahwa menjadi berbeda bukanlah kesalahan.
Raka memperhatikan dunia dengan sunyi, lalu menuangkannya ke dalam kata-kata. Menulis adalah caranya bernapas.
Suatu malam, saat menjelajah internet dengan ponsel lamanya yang layarnya sedikit retak di sudut, Raka menemukan pengumuman lomba cerpen online untuk pelajar tingkat nasional. Ia membaca syarat dan temanya dengan jantung berdebar pelan. Tanpa berpikir panjang, ia membuka laci meja, mengambil buku hariannya, lalu mulai mengetik ulang salah satu tulisannya. Cerita itu tentang seorang anak yang merasa tak terlihat di tengah keramaian, tetapi diam-diam memperhatikan segalanya dengan saksama. Jari-jarinya bergerak ragu di awal, lalu semakin mantap, seolah setiap kata akhirnya menemukan jalannya sendiri menuju dunia luar.
Ia mengirimkannya dengan nama pena: “Jendela Belakang”. Setelah itu, ia melupakannya.
Seperti biasa, hidup berjalan tanpa banyak perubahan. Raka tetap duduk di bangku belakang. Tetap jarang diajak bicara. Tetap dianggap tidak peduli.
Hingga suatu pagi, Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan masuk ke kelas dengan wajah berbinar.
“Ada kabar membanggakan dari sekolah kita!” katanya. “Salah satu siswa kita menjadi juara pertama lomba cerpen tingkat nasional secara online.”
Kelas langsung riuh.
“Siapa, Pak?” seru beberapa siswa hampir bersamaan.
“Nama penanya ‘Jendela Belakang’. Setelah kami konfirmasi ke panitia, ternyata…” Wakil Kepala Sekolah tersenyum dan menatap ke arah bangku paling belakang. “Raka.”
Sunyi.
Semua kepala menoleh. Raka membeku. Jantungnya berdetak keras.
Bu Rini menatapnya dengan mata yang tak biasa, bukan lelah, bukan kecewa. Kagum.
“Kamu?” bisik seorang teman di depannya.
Raka berdiri perlahan. Kakinya gemetar, tetapi untuk pertama kalinya, ia merasa tidak ingin menghilang.
Beberapa hari kemudian, cerpennya ditempel di mading sekolah dengan kertas berbingkai warna biru. Judulnya tertulis tebal, dan di bawahnya tertera nama pena yang selama ini tak dikenal siapa pun. Satu per satu siswa berhenti untuk membaca. Banyak yang baru menyadari betapa dalam dan jujur tulisannya. Mereka menemukan kisah tentang perasaan terasing di tengah keramaian, tentang pengamatan kecil yang menyentuh hati, tentang luka yang tak pernah terlihat tetapi nyata dirasakan. Beberapa siswa terdiam lebih lama dari biasanya, seolah sedang membaca cermin yang memantulkan sisi diri mereka sendiri.
“Ini kamu banget ya…” kata Dina pelan, matanya berkaca-kaca.
Raka hanya tersenyum kecil. Buku hariannya yang dulu menjadi tempat pelarian, kini menjadi jembatan.
Bu Rini suatu sore menghampirinya ketika kelas sudah hampir kosong. Cahaya matahari senja masuk melalui jendela, membuat ruangan terasa hangat dan tenang.
“Maafkan Ibu kalau selama ini kurang memahami kamu,” katanya tulus, suaranya lembut tanpa nada menggurui.
“Ternyata kamu tidak diam. Kamu hanya menunggu didengar dengan cara yang tepat.”
Raka tertegun. Ia tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut gurunya. Selama ini ia terbiasa menerima penilaian tanpa penjelasan, label tanpa kesempatan. Ia menatap jendela kelas. Angin menggerakkan tirai tipis, sama seperti hari-hari sebelumnya. Pohon ketapang di halaman masih berdiri di tempatnya, tak berubah sedikit pun. Namun entah mengapa, sore itu terasa berbeda. Bedanya, kini ia tidak lagi merasa seperti bayangan yang kebetulan duduk di bangku paling belakang.
“Apa yang kamu tulis… sangat jujur,” lanjut Bu Rini.
“Ibu belajar banyak dari ceritamu.”
Untuk pertama kalinya, Raka merasa keberadaannya diakui bukan karena nilai angka, melainkan karena isi hatinya. Ia tidak tiba-tiba menjadi anak yang banyak bicara. Tidak pula berubah menjadi pusat perhatian. Ia tetap introvert. Tetap lebih nyaman mengamati daripada berbicara, lebih suka merangkai kalimat di atas kertas daripada mengucapkannya lantang di depan kelas.
Tetapi ia tahu satu hal: tidak semua suara harus terdengar keras untuk berarti. Tidak semua keberanian diwujudkan dengan berdiri di depan dan berbicara panjang lebar. Ada keberanian yang lahir dari kejujuran menerima diri sendiri.
Kadang, suara paling sunyi justru mampu menggema paling jauh, menyentuh hati orang-orang yang tak pernah ia sangka sedang mendengarkan.
