Search
Search
Close this search box.
EFEKTIVITAS BIOCHAR TECTONA GRANDIS L.F. SEBAGAI AGEN  FILTRASI BAHAN ORGANIK PADA LIMBAH CAIR PRODUKSI TAHU  DI PEMALANG
EFEKTIVITAS BIOCHAR TECTONA GRANDIS L.F. SEBAGAI AGEN FILTRASI BAHAN ORGANIK PADA LIMBAH CAIR PRODUKSI TAHU DI PEMALANG

LAPORAN PENELITIAN OPSI

EFEKTIVITAS BIOCHAR TECTONA GRANDIS L.F. SEBAGAI AGEN

FILTRASI BAHAN ORGANIK PADA LIMBAH CAIR PRODUKSI TAHU

DI PEMALANG

TWO BOYZ

  1. Rafi Naufal Zaky
  2. Ariq Prasudian Haz

BIDANG KOMPETISI PENELITIAN:

ILMU PENGETAHUAN ALAM

BIOLOGI – EKOLOGI

MADRASAH ALIYAH NEGERI PEMALANG

KABUPATEN PEMALANG, JAWA TENGAN

TAHUN 2025ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas biochar daun jati kering (Tectona grandis

L.F.) sebagai agen filtrasi bahan organik pada limbah cair industri tahu di Kabupaten Pemalang. Biochar

diproduksi melalui proses pirolisis tertutup selama 5-6 jam. Menghasilkan rendeman sebesar 24,5% dari

biomassa awal. Penelitian menggunakan metode eksperimen laboratorium dengan dua variasi dosis

biochar, yaitu 15 gram (Formula I) dan 25 gram (Formula II), masing-masing diaplikasikan pada 500 mL

limbah cair tahu. Parameter yan diuji meliputi pH, Biochemichal Oxygen Demand (BOD), dan Chemical

Oxygen Demand (COD), dengan pengujian dilakukan di Laboratorium Dinas Lingkungan Hidup (DLH)

Pemalang menggunakan metode SNI 6989:2019.

Hasil menunjukkan bahwa biochar daun jati mampu menetralkan tingkat keasaman limbah,

meningkatkan pH dari 4,76 menjadi 6,97 (Formula I) dan 7,52 (Formula II), sehingga memenuhi baku

mutu 6-9. Secara organoleptic, perlakuan biochar memperbaiki aroma limbah menjadi netral dan

memengaruhi kekeruhan visual. Namun, efektivitas biochar dalam menurunkan beban organik belum

optimal. Meskiun nilai BOD Formula I tetap rendah (<5 mg/L), nilai COD justru meningkat signifikan

hingga 729,41 mg/L pada Formula I dan 688,24 mg/L pada Formula II, diduga akibat pelepasan senyawa

organik dari biochar yang belum teraktivasi sempurna. Fenomena ini menunjukkan bahwa biochar daun

jati belum efektif dalam mengadsorpsi bahan orgnaik terlarut, dan memerlukan proses aktivasi fisik atau

kimia serta pencucian awal sebelum diaplikasikan sebagai media filtrasi.

Kata kunci: biochar, daun jati (Tectona grandis L.F.), limbah cair tahu, filtrasi, bahan organic

This study aims to examine the effectiveness of teak leaf biochar (Tectona grandis L.F) as an

organic material filtration agent for tofu industry wastewater in Pemalang Regency. The biochar war

produced through a closed pyrolysis process for 5-6 hours, yielding 24,5% of the initial biomass. The

research employed a laboratory experimental method with two variations of biochar dosage: 15 grams

(Formula I) and 25 grams (Formula II), each applied to 500 mL of tofu wastewater. The tested parameters

included pH, Biochemical Oxygen Demand (BOD), and Chemical Oxygen Demand (COD), with analyses

condected at the Euvironmental Agency (DLH) Laboratoryp of Pemalang using the SNI 6989:2019

standard methods.

The results showed that teak leaf biochar was able to neutralize the acidity level of the

wastewater, increasing pH from 4,76 to 6,97 (Formula I) and 7,52 (Formula II), thereby meeting the

quality standard range of 6-9. Organoleptically, the biochar treatment improved the odor to a neutral level

and affected the visual turbidity of the wastewater. However, the biochar’s effectiveness in reducing

organic load was not yet optimal. Although the BOD value of Formula I remained low (<5 mg/L, the

COD values increased significantly to 729,41 mg/L (Formula I) and 688,24 mg/L (Formula II),

presumably due to the release of organic compunds from unactivated biochar. This phenomenon indicates

that teak leaf biochar has not yet been effective in adsorbing dissolved organic matter and requires

physical or chemical activation and pre-washing before being applied as a filtration medium.

Keywords: biochar, teak leaves, tofu wastewater, filtration, organic matterBAB 1. PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Biochar adalah material karbon yang dihasilkan melalui pirolosis biomassa dalam kondisi

tanpa oksigen atau dengan oksigen terbatas. Proses ini menghasilkan material dengan struktur unik

dan kaya karbon yang lebih spesifik digunakan untuk aplikasi lingkungan dan pertanian

dibandingkan dengan arang tradisional. Karakteristik utama bichar adalah porositas tinggi, yang

memungkinkan kemampuan adsorpsi polutan organic dan anorganik dari air dan tanah. Keefektifan

adsorpsinya dipengaruhi oleh jenis biomasa dan kondisi pirolisis seperti suhu dan waktu. Selain itu,

biochar juga memiliki kapasitas tukar kation yang tinggi yang mendukung pertumbuhsn tanaman.

Biochar dapat dibuat dari berbagai bahan organik, seperti limbah pertanian, hutan, dan kotoran

hewan, sehingga dapat diproduksi secara local dan mengurangi biaya transportasi. Dengan sifat-sifat

tersebut, biochar menjadi alternatif yang menjanjikan untuk mengelola polusi air dn meningkatkan

kesuburan tanah (Zhu et al., 2018; Videgain et al., 2020; Rawat et al., 2019; Nartey & Zhao, 2014;

Ding et al., 2017).

Biochar yang dihasilkan dari Tectona Grandis L.F (kayu jati) memiliki karakteristik

fisikokimia yang penting untuk aplikasinya sebagai media filtrasi. Ukuran partikel biochar

mempengaruhi luas permukaan untuk proses adsorpsi, di mana partikel yang lebih kecil memiliki

kapasitas adsorpsi yang lebih tinggi. Suhu pirolisis yang optimal sekitar 500°C, menghasilkan

biochar dengan porositas yang baik, meningkatkan kemampuannya dalam menyerap kontaminan.

Aktivasi biochar, baik secara kimia maupun fisik, dapat lebih meningkatkan kapasitas adsorpsinya.

ketebalan biochar dalam kolom filtrasi dan waktu kontak antara biochar dan limbah cair juga

memengaruhi efisiensi filtrasi. Volume biochar yang digunakan perlu dioptimalkan agar proses

filtrasi berjalan efektif tanpa menyebabkan penyumbatan pori. Selain itu, biochar dapat digunakan

untuk menghilangkan berbagai kontaminan dari air, dan kemampuannya dapat ditingkatkan melalui

modifikasi fisik, kimia, atau biologis (Chafik et al., 2025; Nepal et al., 2023; Tang et al., 2017; Zhu

et al., 2018).

Biochar dapat diproduksi dari berbagai jenis bahan organik, termasuk limbah pertanian,

hutan, dan kotoran hewan, yang membuatnya menjadi solusi berkelanjutan untuk pengelolaan limbah

dan pengurangan biaya transporatasi (Shakya & Agarwal, 2017). Modifikasi fisik atau kimia, seperti

aktivasi menggunakan uap dan gas CO2, dapat meningkatkan kapasitas adsorpsi biochar terhadap

kontaminan tertentu, meningkatkan efisiensinya sebagai media penyaring (Zhu et al., 2018; Li et al.,

2016). Dengan beragamnya jenis biomassa dan kondisi pirolisis yang digunakan, biochar

menunjukkan variasi dalam komposisi kimia, yang mempengaruhi kinerja adsopsinya (Senadheera

et al., 2023) Oleh karena itu, biochar memiliki potensi besar sebagai alternative adsorben yang efektif

untuk menghilangkan kontaminan dari air, termasuk logam berat dan bahan kimia berbahaya lainnya

(Sun et al., 2013).

Biochar juga memiliki aplikasi yang luas di bidang pertanian, terutama dalam meningkatkan

kesuburan tanah dan mendukung pertmbuhan tanaman (Tang et al., 2013). Selain itu, biochar juga

telah digunakan untuk menghilangkan polutan organik dari sisem berair, menjadikannya alat yang

efisien dan ramah lingkungan dalam upaya remediasi (Inyang & Dickenson, 2015).

Selain di bidang pertanian, biochar juga telah terbukti efektif dalam mengurangi pencemaran

organik dalam limbah cair tahu dengan mengurangi parameter seperti Biochemical Oxygen Demand

(BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD), yang menujukkan penurunan jumlah bahan organikyang dapat secara terurai secara biologis dan senyawa kimia yang ada di dalam air. Proses adsorpsi

biochar dapat membantu menghilangkan polutan seperti logam berat, senyawa organic, serta

meningkatkan kualitas fisikkokimia air, seperti pH dan bau. Selain itu, biochar dapat mendukung

proses bioremediasi dengan menyediakan permukaan yang luas untuk pertumbuhan mikroorganisme

yang membantu degradasi polutan. Modifikasi biochar melalui aktivasi fisik dan kimia dapat

meningkatkan kapasitas adsorpsinya dan efektivitasnya dalam mengatasi berbagai kontaminan

(Curcio et al., 2025; Bui et al., 2024; Inyang & Dickenson, 2015; Tang et al., 2017).

Limbah cair yang dihasilkan dari produksi tahu memiliki kandungan organic yang tinggi,

seperti protein, lemak, karbohidrat, yang menyebabkan tingginya Biological Oxygen Demand (BOD)

dan Chemical Oxygen Demand (COD). Hal ini menjadikan limbah tahu berpotensi mencemari

lingkungan jika tidak diolah dengan baik. Selain itu, limbah cair ini sering mengandung padatan

tersuspensi yang menyebabkan kekeruhan dan bau yang tidak sedap. Pembuangan langsung limbah

cair tahu ke badan air tanpa pengolahan dapat menurunkan kualitas air, mengganggu ekosistem, dan

berisiko menyebabkan eutrofikasi akibat kandungan nutrisi tinggi seperti nitrogen dan fosfor.

Mikroorganisme dalam limbah tahu juga mengurangi kadar oksigen dalam air, yang membahayakan

kehidupan akuatik. Oleh karena itu, pengolahan limbah cair tahu yang efektif sangat penting untuk

mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat (Arafat et al., 2022;

Maulana & Marsono, 2021; Muhammad, 2021; Sunarsih, 2014).

Penerapan biochar dalam pengelolaan limbah cair juga menawarkan manfaat tambahan,

seperti pengurangan emisi gas rumah kaca dan peningkatan kesuburan tanah (Kavitha et al., 2018).

Dengan kemampuannya dalam meningkatkan kualitas tanah dan mengurangi polutan, biochar

berfungsi sebagai solusi berkelanjutan dengan pengelolaan limbah remidiasi lingkungan yang hemat

biaya (Saletnik & Saletnik, 2025). Oleh karena itu, pengunaaan biohar dalam pengelolaan limbah cair

menjadi alternatif yang menjanjikan untuk mengatasi masalah pencemaran dan meningkatkan

keberlanjutan lingkungan.

Proses filtrasi memiliki pengaruh besar terhadap kapasitas biochar dalam mengadsorpsi

polutan organik terlarut dari limbah cair. Semakin lama waktu kontak, semakin efektif proses

adsorpsi yang terjadi, yang terlihat dari penurunan nilai Biological Oxygen Demand (BOD) dan

chemical Oxygen Demand (COD). Selain waktu kontak, kondisi lain seperti temperatur dan pH juga

mempengaruhi efektivitas filtrasi, dimana fluktuasi pH yang ekstrrem dapat mempengaruhi muatan

permukaan dan kemampuannya dala menyerap polutan. Penentuan dosis biochar yang tepat juga

penting; dosis yang terlalu sedikit atau terlalu banyak dapat mengurangi efisiensi filtrasi. Oleh karena

itu, optimasi faktor-faktor ini sangat penting untuk memastikan biochar digunakan secara efektif

dalam pengolahan limbah cair dan pengelolaan sumber daya air (Gasim et al., 2022; Hong et al.,

2020; Fadlilah et al., 2023).

Perbandingan antara biochar dari daun jati dan biomassa lainnya dalam filtrasi limbah cair

sangat penting untuk memahami perbedaan karakteristik yang memengaruhi kinerjanya. Setiap jenis

biochar, seperti yang dihasilkan dari bambu, sekam padi, atau tempurung kelapa, memiliki sifat

fisikokimia yang berbeda, yang dapat memengaruhi kemampuannya dalam menyerap kontaminan.

Misalnya, biochar dari sekam padi, yang kaya akan silika, lebih efisien dalam menyerap logam berat,

sedangkan bambu memiliki porositas tinggi yang meningkatkan kapasitas adsorpsinya (Jindo et al.,

2014; Rawat et al., 2019). Selain itu, faktor ekonomi dan lingkungan, seperti biaya produksi dan

dampak lingkungan dari biochar, juga harus dipertimbangkan dalam pemilihan bahan baku untuk

aplikasi filtrasi limbah cair. Penelitian komparatif bertujuan untuk memilih biochar yang paling efektif berdasarkan sifat fisikokimia dan kemampuannya dalam menghilangkan kontaminan, serta

mendukung penggunaan solusi yang berkelanjutan dalam pengolahan air (Mukome et al., 2013; Zhan

et al., 2023).

Pengukuran bahan organik dalam limbah cair menggunakan metode BOD, COD, dan TSS

sangat penting untuk mengevaluasi tingkat pencemaran dan efektivitas pengolahan air. BOD

mengukur oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme aerobik untuk menguraikan bahan organik,

sedangkan COD mengukur oksigen yang diperlukan untuk mengoksidasi semua bahan organik dalam

air. TSS mengukur total partikel padat yang tersuspensi dalam air, yang dapat mempengaruhi kualitas

air dan kehidupan akuatik. FIltrasi terbukti efektif dalam menurunkan kadar BOD, COD, TSS dalam

limbah cair, dengan pemilihan jenis filter yang tepat menjadi kunci keberhasilan. Pengukuran yang

akurat dan analisis yang tepat sangat bergantung pada pengambilan sampel yang benar dan

penggunaan metode standar (Firmansyah & Razif, 2016; Hidayah et al., 2018;

Ratnawati & Ulfah, 2020).

1.2 RUMUSAN MASALAH

  1. Bagaimana pengaruh variasi dosis biochar daun jati kering terhadap penurunan bahan organik

dalam limbah cair tahu?

  1. Bagaimana pengaruh filtrasi menggunakan biochar daun jati kering terhadap kualitas air limbah

yang dihasilkan?

1.3 TUJUAN PENELITIAN

  1. Mengetahui pengaruh dosis biochar daun jati kering yang berbeda terhadap penurunan

konsentrasi bahan organik dalam limbah cair produksi tahu.

  1. Mengkaji dampak filtrasi limbah cair industri tahu menggunakan biochar daun jati kering

terhadap kualitas air limbah yang dihasilkan

1.4 HIPOTESIS

  1. Rumusan Masalah 1:

Hasil menunjukkan bahwa pengaruh dosis variasi daun jati kering bisa berpengaruh tergantung

seberapa dosis biochar yang kita gunakan, tetapi juga variasi dosis biochar tidak sepenuhnya

berpengaruh terhadap penurunan konsentrasi bahan organik yang terkandung dalam limbah cair

industri tahu.

  1. Rumusan Masalah 2:

Hasil menunjukkan bahwa dampak filtrasi menggunakan biochar daun jati kering bisa

berpengaruh terhadap kualitas air limbah yang dihasilkan tergantung seberapa dosis biochar yang

kita gunakan, tetapi juga filtrasi menggunakan biochar daun jati kering tidak sepenuhnya

berpengaruh terhadap penurunan bahan organik yang terkandung dalam kualitas air limbah

produksi tahu.

1.5 MANFAAT PENELITIAN

  1. Manfaat Teoritis

Memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang pemanfaatan bahan alami, khususnya biochar

daun jati kering, sebagai media filtrasi dalam pengolahan limbah cair industri makanan.

  1. Manfaat Praktis

Memberikan solusi praktis bagi industri tahu di Pemalang untuk mengelola limbah cair secara

ramah lingkungan, dengan menggunakan biochar daun jati kering yang lebih terjangkau dan

mudah diakses, serta membantu industri tahu mengurangi pencemaran.BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Limbah Cair Industri Tahu

Limbah cair yang dihasilkan dari indusri tahu memiliki karakteristik yang dapat menyebabkan

pencemaran lingkungan, karena mengandung bahan organic dalam jumlah besar, seperti protein,

lemak, dan karbohidrat yang berasal dari kedelai (Muhammad, 2021). Limbah ini memiliki nilai

Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) yang tinggi, yang

menunjukkan potensinya untuk merusak kualitas air jika diolah dengan baik (Arafat et al., 2022).

Selain itu, limbah cair tahu rnengandung padatan tersuspensi yang dapat menyebabkan kekruhan dan

memppengaruhi estetika badan air, serta berpotensi mengaggu keseimbangan akuatik (Wati, 2022).

Jika tidak dikelola dengan benar, limbah ini dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut

dalam air, mengancam kehiduoa akuatik seperti ikan dan organisme lainnya (Arifianto et al., 2023).

Selain dampak terhadap kehidupan akuatik, limbah cair tahu jugga mengandung nutrisi

berlebih, seperti nitrogen dan fosfor, yang dapat menyebabkan pertumbuhan alga yang

berlebihan, auto eutrofikasi, yang akan mengurangi cahaya matahari yang masuk ke dalam

air dan menganggu rantai makanan (Muhammad, 2022). Oleh karena itu, penting untuk

menerapkan pengolahan yang efektif terhadap limbah cair tahu guna meminimalkan dampak

negatif terhadap kualitas air dan ekosistem (Sunarsih, 2014). Pengelolaan limbah yang buruk

dari industri tahu dapat berdampak berlangsung pada kualitas air, kesehatan manusia, dan

keberlanjutan lingkungan (Maulana & Marsono, 2021).

2.2 Faktor yang Memengaruhi Efektivitas Filtrasi Biochar

Proses filtrasi biochar sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adakah

durasi waktu kontak antara biochar dan limbbah cair. Waktu proses filtrasi yang lebih lama

memungkinkan lebih banyak polutan organic untuk berdifusi dan terikat pada permukaan

biochar, meingkatkan kapasitas adsorpsi material tersebut (Gasim et al., 2022). Penurunan

nilai Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) setelah

filtrasi dengan biochar mengindikasikan pengurangan signifikan terhadap senyawa organik

yang berkontribusi pada pencemaran (Hong et al., 2020). Selain durasi waktu, kondisi

temperatur dan pH juga mempengaruhi efektivitas filtrasi, dengan pH yang stabil

menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi interaksi elektrostatik antara biochar dan

polutan (Barquilha & Braga, 2021). Perubahan ekstrem pada pH dapat merusak permukaan

aktif biochar dan mengurangi afinitasnya terhadap polutan (Barquilha & Braga, 2021).

Faktor lainnya adalah volume limbah cair yang diolah, yang mempengaruhi dosis

biochar yang diperlukan. Penentuan dosis yang tepat sangat penting agar proses adsorpsi

berjalan efektif tanpa menyebabkan pemborosan material atau pengurangan efisiensi akibat

penyumbatan pori (Tang et al., 2013). Biochar, dengan karakteristiknya yang memiliki luas

permukaan besar, mampu mengadsorpsi berbagai jenis polutan, termasuk logam berat dan

bahan organik (Sun et al., 2013; Zhu et al., 2018). Modifikasi, biochar, seperti aktivasi kimia

dan fisik, dapat meningkatkan kapasitas adsorpsinya, menjadikannya solusi yang efisien dan

ramah lingkungan untuk pengolahan air limbah (Ding et al., 2017). Secara keseluruhan,

biochar menawarkan pendekatan berkelanjutan yang dapat mengurangi dampak lingkungan dari limbah cair dan berkontribusi pada peningkatan kualitas lingungan dan pengelolaan

sumber daya air (Bui et al., 2024).

2.3 Mekanisme Adsorpsi Biochar terhadap Bahan Organik

Secara mekanisme, proses adsorpsi bahan organik oleh biochar terjadi melalui

kombinasi interaksi fisik dan kimia pada permukaan pori-porinya. Interaksi fisik

berlangsung ketika molekul bahan organik menempel pada dinding pori biochar melalui

gaya Van der Waals dan gaya tarik elektrostatik, sedangkan interaksi kimia melibatkan

pembentukan ikatan hidrogen, pertukaran ion, serta interaksi π–π antara struktur aromatik

senyawa organik dengan permukaan karbon aromatik biochar. Gugus fungsional seperti –

OH, –COOH, dan –C=O pada permukaan biochar berperan penting dalam menarik molekul

organik bermuatan melalui ikatan hidrogen, interaksi elektrostatik, dan interaksi π–π.

Semakin banyak gugus aktif dan semakin luas pori biochar, makan semakin tinggi kapasitas

adsorpsinya terhadap bahan organik (Patel et al., 2022).

2.4 Perbandingan Biochar dan Arang Aktif

Jika dibandingkan dengan arang aktif konvensional, biochar memiliki beberapa

keunggulan yang cukup menonjol. Dari segi biaya, pembuatan biochar jauh lebih ekonomis

karena tidak memerlukan proses aktivasi kimia atau suhu tinggi seperti pada pembuatan

arang aktif. Selain itu, bahan bakunya mudah diperoleh dan melimpah, terutama daun jati

yang banyak tersedia seperti Pemalang. Pemanfaatan daun jati sebagai bahan baku biochar

tidak hanya mengurangi limbah biomassa tetapi juga menawarkan alternatif lokal yang

murah dan berkelanjutan. Meskipun luas permukaannya umumnya lebih kecil dibanding

arang aktif, biochar daun jati tetap memiliki porositas yang baik serta gugus fungsional aktif

yang mampu mengadsorpsi bahan organik secara efektif, sehingga menjadi pilihan yang

ramah lingkungan dan efisien untuk pengolahan limbah cair tahu.

2.5 Jenis dan Karakteristik Bahan Baku Biochar

Efektivitas biochar dalam filrasi limbah cair sangat dipengaruhi oleh jenis bahan baku

yang digunakan (Pratiwi et al., 2021). Oleh karena itu, diperlukan penelitian komprehensif

untuk membandingkan kinerja biochar yang berasal dari berbagai biomassa, seperti bamboo

dan sekam padi, yang memiliki potensi dalam pengolahan limbah (Citrasari et al., 2017).

Perbandingan ini bertujuan untuk menilai keunggulan biochar dari daun jati dibandingkan

dengan bahan baku lainnya, memberikan pemahaman lebih dalam mengenai factor yang

memengaruhi efisiensi filtrasi (Zhao et al., 2013). Perbedaan ini bertujuan untuk menilai

keunggulan biochar dari daun jati dibandingkan dengan bahan baku lainnya, memberikan

pemahaman lebih dalam mengenai faktor yang mempengaruhi efiesiensi filtrasi (Zhao et al.,

2013). Perbedaan karakteristik bahan baku berperan penting dalam sifat fisikokimia biochar,

seperti luas permukaan spesifik, distribusi ukuran pori, gugus fungsi permukaan, dan

kapasitas adsorpsi (Firmansyah & Razif, 2016; Shakya & Agarwal, 2017). Misalnya, biochar

yang dihasilkan dari biomassa kaya silica seperti sekam padi memiliki sifat kimia yang unik

karena kandungan silika dalam strukturnya (Jindo et al., 2014), sedangkan biochar dari

bahan baku lignoselulosa tinggi seperti kayu cenderung memiliki luas permukaan yang lebih besar dan struktur pori lebih berkembang, meskipun kandungan ineralnya berbeda dari

bochar berbasus sekam padi.

2.6 Parameter Pengukuran Limbah Cair

Dalam pengelolaan limbah cair yang efektif, pengukuran kandungan bahan organic

sangat penting untuk menilai kinerja system pengolahan (Firmansyah & Razif, 2016).

Metode umum yang digunakan untuk tujuan ini meliputo pengukuran Biochemical Oxygen

Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), dan Total Suspended Solids (TSS),

yang saling melengkapi dalam memberikan gambaran lengkap mengenai kualitas limbah cair

(Muliyadi & Sowohy, 2020). BOD mengukur oksigen yang dibutuhkan mikroorganisme

untuk mendegradasi bahan organik yang dapat terurai secara biologis, sementara COD

mengukur oksigen yang diperlukan untuk mengoksidasi semua bahan organik, baik yang

biodegradable maupum non biogredable (Jouanneau et al., 2013). Penurunan signifikan pada

BOD dan COD menunjukkan efektivitas proses filtrasi dalam mengurangi polutan organik.

2.7 Penelitian Terdahulu

2.7.1 Pemanfaatan Biochar dalam Pengolahan Limbah Cair: Potensi dan Tantangan

Pemanfaatan biochar sebagai agen penyaring limbah cair tela menunjukkan potensi besar

dalam menyediakan solusi inovatif dan berkelanjutan untuk masalah pencemaran lingkungan.

Sebagai contoh, penelitian oleh Ahmed et al. (2020) menunjukkan bahwa biochar efektif dalam

mengurangi parameter parameter Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen

Demand (COD) pada limbah cair industri makanan, termasuk limbah dari produksi tahu. Hasil

penelitian ini menunjukkan bahwa biochar mampu mengurangi konsentrasi bahan organik dalam

limbah cair secara signifikan, yang memberikan implikasi penting bagi pengelolaan limbah

industri (Arifianto et al., 2023). Biochar yang dihasilkan dari bambu telah digunakan dalam

proses filtrasi limbah cair untuk menurunkan BOD, COD, dan Total Suspended Solids (TSS),

dengan hasil yang menunjukkan efektivitasnya dalam menurunkan kadar bahan organik dalam air

(Hao et al., 2020).

Penelitian ini sejalan dengan studi-studi sebelumnya yang mengkaji penggunaan biochar

sebagai agen penyaring limbah cair, terutama dalam industri makanan, seperti penelitian Ahmed

et al. (2020). Selain itu, penelitian ini mengintegrasikan teknologi membrane dalam proses

pengolahan limbah, serupa dengan studi sebelumnya yang juga menekankan keuntungan

teknologi membrane seperti konsumsi energy rendah dan pemeliharaan mudah.

Perbedaan utama terletak pada bahan baku yang digunakan, dimana penelitian ini berfokus

pada biochar dau jati, sementara penelitian lain lebih banyak menggunakan bahan baku seperti

bambu atau sekam padi. Penelitian ini juga unik karena dilakukan di Pemalang, sebuah daerah

dengan industri rumahan tahu, yang memproduksi limbah cair dalam jumlah besar. Fokus

penelitian ini adalah pada pengolahan limbah cair tahu dengan bahan baku lokal yang melimpah,

yaitu daun jati, yang menawarkan solusi terjangkau dan ramah lingkungan. Penelitian ini juga

lebih mendalami mekanisme adsorpsi dan kondisi operasional yang optimal, seperti dosis biochar

dan waktu kontak, yang belum banyak dijelajahi dalam penelitian sebelumnya.

2.7.1 Efektivitas Biochar terhadap Parameter Pencemar

Biochar, yang dihasilkan melalui proses pirolisis biomassa, telah terbukti efktif dalam

mengurangi pencemaran dalam limbah cair industri, seperti yang ditunjukkan oleh Zhang et al.

(2018). Penelitian mereka mengungkapkan bahwa biochar dapat menurunkan parameter pencemaran penting, seperti Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand

(COD), dan Total Suspended Solids (TSS) dalam limbah cair industri. Hal ini relevan dengan

limbah cair tahu yang sering mengandung tingkat polutan yang tinggi dan memerlukan

pengolahan khusus sebelum dibuang ke lingkungan (Arifianto et al., 2023). Meskipun penelitian

Zhang et al. (2018) berfokus pada biochar yang dihasilkan dari bambu, perbedaan dalam

komposisi dan struktur pori antara biochar yang dihasilkan dari bambu, perbedaan dalam

komposisi dan struktur pori antara biochar bambu dan biochar daun jati dapat mempengaruhi

efektivitasnya dalam mengadsorpsi polutan. Oleh karena itu, penelitian menganai potensi biochar

dari daun jati sebaai bahan baku untuk pengolahan limbah cair tahu sangat penting untuk

dilakukan (Chávez-García et al., 2020; Hao et al., 2020).

2.7.3 Inovasi Penggunaan Biochar Daun Jati

Terdapat perbedaan signifikan dalam bahan baku yang digunakan antara penelitian ini

dengan penelitian terdahulu. Penelitian Zhang et al. (2018) berfokus pada biochar yang

dihasilkan dari bambu, sedangkan penelitian ini menguji biochar yang terbuat dari daun jati.

Karakteristik fisik dan kimia biochar yang dihasilkan dari bahan baku yang berbeda ini dapat

memengaruhi kemampuan adsorpsi polutan, sehingga penting untuk melakukan penelitian lebih

lanjut mengenai biochar daun jati dalam pengolahan limbah cair tahu. Selain itu, penelitian ini

memperkenalkan penggunaan daun jati sebagai bahan baku biochar, yang merupakan biomassa

lokal melimpah di Pemalang, memberikan potensi solusi yang lebih terjangkau dan ramah

lingkungan dibandingkan dengan metode konvensional yang membutuhkan lahan luas. Hal ini

menjadi inovasi baru yang belum banyak dibahas dalam studi sebelumnya, yang lebih banyak

menggunakan biochar dari bahan baku seperti bambu atau sekam padi.BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Rencana waktu yang dipilih untuk melakukan penelitian yaitu dari bulan Mei sampai dengan

Oktober. Tempat yang dituju untuk menunjang penelitian ini yaitu hutan jati di Penggarit sebagai

sumber daun jati kering, home industry tahu di Jl. Merbabu, Mulyoharjo, Pemalang sebagai sumber

limbah cair, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pemalang sebagai tempat pengujian

parameter limbah cair, dan laboratorium kimia MAN Pemalang sebagai tempat perlakuan terhadap

limbah cair.

3.2 Alat dan Bahan

Untuk pembuatan biochar dari daun jati kering (Tectona grandis L.F) dalam filtrasi bahan

organik pada limbah cair, diperlukan alat dan bahan sebagai berikut:

ALAT

  1. Tong/kaleng pirolisis ukuran 30 liter
  2. Tempat penampung/baskom
  3. Alat penghalus: alu atau sendok
  4. Kertas filter
  5. Gelas beaker
  6. Gelas ukur
  7. Botol penampung sample
  8. Pengaduk
  9. Labu erlenmeyer
  10. Corong
  11. Peralatan pengujian di DLH: pH meter,

alat DO (incubator, DO meter, dll), alat

uji COD (spektrofotometri, dll)

  1. Alat pelindung diri (APD): Masker,

sarung tangan, dan pelindung mata

BAHAN

  1. Daun jati kering: Bahan utama yang akan diproses menjadi biochar.
  2. Briket arang kubus: bahan sebagai proses pirolisis retort dengan karbonisasi tidak langsung
  3. Sampel limbah cair tahu dari salah satu perajin tahu

3.3 Rancangan dan Prosedur Penelitian

  1. Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif eksperimental. Penelitian menggunakan

rancangan eksperimen laboratorium dengan empat tahap: kontrol (tanpa biochar) dan setelah

perlakuan (diberi dua dosis biochar daun jati kering masing-masing 15g dan 25g). Proses

pengujian parameter dilakukan dan bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten

Pemalang. Hasil yang diperoleh dari pengujian COD, BOD, pH, dan organoleptik pada limbah

cair tahu sebelum dan sesudah pemberian biochar dikumpulkan, diolah, dan dianalisis secara

analisis statistik untuk mengukur dan menganalisis data numerik (nilai COD, BOD, pH) sehingga

dapat melihat pengaruh variasi dosis biochar dan kualitas air limbah.

  1. Prosedur Penelitian

1) Persiapan Bahan

  1. Pemilahan dan Pengumpulan Daun Jati: Spesifikasi daun jati yang diperlukan yaitu yang

berwarna coklat kering namun tidak terlalu tua. Daun jati yang berjatuhan di atas tanah

lalu dikumpulkan sampai memenuhi karung berukuran 75 cm x 115 cm dengan berat

±5kg.

  1. Daun jati dikeringkan di bawah sinar terik matahari selama kurang lebih 2 hari sampai

kadar air berkurang atau daun terlihat lebih menyusut daripada saat pengumpulan.3. Pengambilan Sampel: Sumber limbah cair tahu yang digunakan sebagai sampel yaitu

usaha produksi tahu di lokasi A dan lokasi B. Sampel limbah cair tahu diambil secara

grab sample dan sesuai prosedur dengan bantuan DLH Pemalang menggunakan wadah

steril (botol steril berbahan inert), perincian waktu, lokasi, dan kondisi pengambilan.

2) Pengujian Awal Sampel

  1. Pengukuran parameter limbah cair seperti pH, COD, dan BOD pada sampel mula-mula

untuk mengkarakterisasi limbah sesuai metode standar (APHA, 2017) untuk mendapatkan

nilai awal sebelum perlakuan (tanpa biochar). Pengukuran dilakukan di laboratorium

DLH Pemalang. Dari dua sampel yang didapat dari lokasi yang berbeda, akan dipilih

salah satu sampel untuk diberi perlakuan biochar dengan kriteria: nilai yang lebih

konsisten (variansi lebih kecil), sehingga memudahkan analisis statistic. Aspek logistik,

lokasi, ketersediaan sampel berulang, dan kooperasi pemilik, mendukung pelaksanaan

perlakuan secara berkelanjutan.

  1. Pengujian organoleptik seperti aroma, warna, dan tekstur limbah cair sebelum perlakuan

dengan pengamatan langsung.

3) Pembuatan Biochar

  1. Pirolisis Biochar: Daun jati yang telah dikeringkan dimasukkan ke dalam tong/kaleng

hingga terisi ½ lalu letakkan biobriket yang telah dipanaskan sejumlah 4 buah dan

tumpuk dengan daun jati kering. Ulangi lagi saat terisi ¾ dengan 3 buah biobriket dan

saat terisi penuh dengan 2 buah biobriket. Tutup tong tapi tetap menyisakan sedikit celah

supaya gas hasil pirolisis dapat keluar. Waktu pirolisis berlangsung selama 5-6 jam

tergantung lamanya daun jati berubah menjadi biochar.

  1. Pindahkan hasil pirolisis ke dalam wadah lalu diamkan hingga suhu menurun atau dingin.

Haluskan biochar menjadi partikel kecil berukuran 60 mesh (250 µm)

4) Perlakuan Sampel dengan Biochar

  1. Sampel limbah ditempatkan ke dalam dua gelas beaker dengan masing-masing volume

limbah cair 500 mL. Pada tiap gelas ditambahkan biochar yang telah dibuat dengan

variasi dosis: 15 g untuk formulasi 1 (F1) dan 25 g untuk formulasi 2 (F2).

  1. Waktu Kontak dan Pengadukan: Aduk kedua formulasi hingga merata seluruhnya.

Diamkan selama satu hari (24 jam) untuk proses penyerapan optimal.

  1. Filtrasi Menggunakan Biochar: Setelah 24 jam, filtrasi pada percobaan ini dilakukan

secara batch, yaitu pemisahan campuran padat-cair dalam satu siklus penyaringan

menggunakan corong dan kertas saring secara tidak kontinu.

5) Pengujian dan Analisis Pasca-Perlakuan

  1. Pengujian COD dengan metode kalium dikromat (titrasi refluks): konsentrasi limbah 1

mL diencerkan dengan akuades 10 mL, lalu gunakan digestion solution rendah dalam

tabung refluks tertutup. Masukkan tabung ke dalam reaktor COD dan panaskan pada suhu

150° selama 2 jam. Dinginkan lalu ukur dengan spektrofotometer.

  1. Pengujian BOD metode inkubasi 5 hari: sebelum perlakuan, BOD sampel 250 ml

diawetkan dengan ditambahkan NaOH dan digestion solution. Sedangkan pada sampel

setelah perlakuan, masukkan magnet/besi ke dalam botol reagen sampel untuk proses

homogen cairan. Sodium 2 butir diletakkan diatas larutan untuk nutrifications. Lalu

inkubasi di dalam inkubator selama 5 hari. Ukur dengan rumus BOD = (DO1-DO2) x

faktor pengeceran3. Pengujian pH metode potensiometri: kalibrasi pH meter dengan 2 atau 3 titik, lalu

celupkan elektroda ke dalam sampel biochar + limbah tahu, tunggu hingga pembacaan

stabil.

3.4 Pengolahan dan Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil penelitian berupa hasil pengukuran parameter kualitas limbah cair

tahu, meliputi pH, COD (Chemical Oxygen Demand), dan BOD (Biochemical Oxygen Demand) pada

setiap perlakuan dosis biochar daun jati. Data mentah tersebut terlebih dahulu diolah dengan cara

menghitung nilai rata-rata (mean) dari setiap pengukuran yang dilakukan berulang. Apabila terdapat

pengukuran duplikat atau triplikat, maka dilakukan perhitungan rata-rata dan simpangan baku (standar

deviasi). Selanjutnya, dilakukan perhitungan persentase efektivitas penurunan kadar COD dan BOD

menggunakan rumus sebagai berikut:

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik kuantitatif dengan

jenis statistik deskriptif. Analisis statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik

data hasil pengukuran pada masing-masing perlakuan biochar, meliputi nilai rata-rata, standar deviasi,

serta perubahan nilai pH, COD, dan BOD sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil analisis disajikan

dalam bentuk tabel dan grafik agar hasil penelitian mudah dianalisis dan dibandingkan antara

perlakuan dosis biochar 15 g (F1) dan 25 g (F2). Hasil dari analisis ini selanjutnya akan digunakan

sebagai dasar dalam pembahasan untuk menilai kemampuan biochar daun jati dalam memperbaiki

kualitas limbah cair tahu.BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Karakterisasi Limbah Cair Tahu

  1. Hasil Uji Organoleptik Limbah Cair Tahu Sebelum Perlakuan

Pengujian uji organoleptik dilakukan bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik awal

limbah cair tahu sebelum proses perlakuan adsorpsi dengan biochar daun jati. Pengujian ini

dilakukan dengan metode pengamatan langsung melalui visual dan penciuman terhadap beberapa

parameter penting, yaitu warna, tekstur, dan aroma dari limbah. Hasil uji organoleptik pada

limbah tahu sebelum perlakuan pada dua lokasi sampel yang berbeda, yaitu sampel A (limbah cair

dari industri tahu A) dan sampel B (limbah cair dari industri tahu B) disajikan pada Tabel 1

berikut

Tabel 1. Hasil Uji Organoleptik limbah cair tahu sampel A dan sampel B

No Uji Organoleptik

Hasil Sampel A

Hasil Sampel B

Metode Uji

  1.  

Warna

Keruh

Keruh

Pengamatan langsung

  1.  

Tekstur

Koloid

Koloid

Pengamatan langsung

  1.  

Aroma

Berbau tajam dan

khas

Berbau tajam dan

khas

Pengamatan langsung

Dari hasil tabel di atas dapat diketahui bawah kedua sampel memiliki karakteristik

organoleptik yang sama yaitu berwarna keruh, bertekstur koloid dan memiliki aroma yang tajam

dan khas.

Gambar 1 (a) Limbah cair tahu sebagai sampel A

(b) Limbah cair tahu sebagai sampel B

Hasil pengujian juga diperkuat dengan Gambar 1, secara visual terlihat jelas berwarna

keruh menunjukkan adanya kandungan padatan tersuspensi dan bahan organik yang tinggi di

dalam limbah cair, sedangkan tekstur koloid mengindikasikan adanya partikel halus yang tidak

mudah mengendap. Aroma tajam yang tercium berasal dari proses pembusukan sisa protein dan

lemak kedelai yang tidak terurai sempurna selama proses produksi tahu.

  1. Hasil Uji Kualitas Limbah Cair Tahu Sebelum Perlakuan

Pengujian kualitas limbah cair tahu dengan parameter dasar seperti pH, BOD, dan COD

yang mencerminkan tingkat pencemaran limbah dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh

limbah cair yang dihasilkan dari produksi tahu berpotensi mencemari lingkungan. Hasil ini nantinya juga dapat menjadi acuan awal sebagai perbandingan dengan sampel setelah perlakuan,

sejauh mana signifikansi perubahan yang dihasilkan.

Tabel 2. Hasil Uji Kualitas Limbah Cair Tahu Sampel A dan B

No.

Parameter

Hasil Analisa

Baku

mutu

Metode Uji

Acuan Metode

Sampel

A

Sampel

B

  1. pH

4,68

4,76

6-9

Pembacaan langsung

SNI 6989.11:2019

  1. BOD (mg/L) 70

<5

150

Pembacaan langsung

IK7.4-1

  1. COD (mg/L) 70,59

23,53

300

Spektrofotometri

SNI 6989.2:2019

Berdasarkan hasil uji pada tabel 2, nilai pH pada kedua sampel berada di bawah standar

baku mutu yaitu di bawah kisaran 6-9. Nilai pH 4,68 pada sampel A dan 4,76 pada sampel B

menunjukkan bahwa limbah cair bersifat asam. Nilai BOD pada sampel A sebesar 70 mg/L masih

di bawah baku mutu 150 mg/L, Sedangkan pada sampel B nilainya <5 mg/L menandakan adanya

perbedaan signifikan antar sampel. Nilai COD juga menunjukkan perbedaan, di mana sampel A

memiliki nilai 70,59 mg/L dan sampel B 23,53 mg/L, keduanya masih di bawah batas baku mutu

(300 mg/L)

Dari dua sampel yang diambil dari lokasi berbeda, sampel B dipilih untuk diberi

perlakuan biochar karena memenuhi kriteria nilai yang lebih konsisten dan memiliki variasi data

yang lebih kecil sehingga memudahkan analisis statistik pada tahap pengolahan hasil. Selain itu

aspek logistik dan ketersediaan sampel berulang di lokasi pengambilan sampel B mendukung

pelaksanaan perlakuan secara berkelanjutan. Nilai pH, BOD, dan COD pada sampel B juga

menunjukkan karakteristik yang stabil, sehingga lebih representatif untuk menilai efektivitas

biochar dalam meningkatkan kualitas limbah cair tahu.

4.2 Efek Pemberian Biochar terhadap Limbah Cair Tahu

Pemberian biocar daun jati kering pada limbah tahu dilakukan untuk melihat

kemampuannya dalam memperbaiki kualitas air limbah melalui proses adsorpsi. Biochar

memiliki pori-pori halus dan luas permukaan besar yang mampu menyerap senyawa organik

penyebab tingginya nilai BOD dan COD. selain itu, sifatnya yang sedikit basa dapat membantu

menetralkan pH limbah yang cenderung asam.

  1. Hasil Uji Organoleptik Limbah Cair Tahu Setelah Perlakuan

Uji organoleptik dilakukan kembali setelah limbah cair tahu melalui proses filtrasi

menggunakan biochar daun jati dengan dua variasi dosis, yaitu formula 1 (15 gram) dan formula

2 (25 gram). Pengujian ini bertujuan untuk mengamati perubahan karakteristik fisik limbah cair

tahu secara visual dan sensori, meliputi warna, tekstur, dan aroma. Hasil pengamatan disajikan

pada tabel 3 berikut.

Tabel 3. Hasil Uji Organoleptik limbah cair tahu setelah perlakuan formulasi I

Uji Organoleptik

Formula 1

Formula 2

Warna limbah tahu

Kecoklatan

Lebih Coklat

Tekstur limbah tahu

Cair

Cair

Aroma limbah tahu

Berbau netral

Berbau netral

Berdasarkan hasil pengamatan pada tabel 3, terlihat bahwa terjadi perubahan karakteristik

organoleptik setelah perlakuan menggunakan biochar daun jati. Warna limbah cair tahu yang semula keruh berubah menjadi kecoklatan pada formula 1 dan lebih coklat pada formula 2

menunjukkan adanya pengaruh dari dosis biocal terhadap hasil filtrasi.

Gambar 2 Limbah cair tahu setelah perlakuan

Dari gambar 2, bisa terlihat warnanya lebih kecoklatan daripada awalnya, namun tekstur

pada kedua formula sama-sama berubah menjadi lebih cair dan jernih, sedangkan aroma yang

awalnya berbau tajam kini berubah menjadi berbau netral setelah proses penyaringan

  1. Hasil Uji Kualitas Limbah Cair Tahu Setelah Perlakuan

Uji kualitas limbah cair tahu setelah perlakuan dengan biochar dilakukan untuk

mengetahui efektivitas media biochar dalam menurunkan kadar pencemar seperti BOD dan COD

serta pengaruhnya terhadap perubahan pH. Hasil pengujiannya disajikan pada tabel 4 berikut

Tabel 4. Hasil uji parameter limbah cair setelah pemberian biochar

No.

Parameter

Perlakuan

Baku

mutu

Metode Uji

Acuan Metode

F1

(15 g)

F2

(25 g)

  1. pH

4,68

4,76

6-9

Pembacaan langsung

SNI 6989.11:2019

  1.  

BOD (mg/L) 70

<5

150

Pembacaan langsung

IK7.4-1

  1.  

COD (mg/L) 70,59

23,53

300

Spektrofotometri

SNI 6989.2:2019

Berdasarkan hasil tersebut, nilai pH pada kedua perlakuan meningkat dibandingkan

sampel awal (4,76), dan tengah berada di dalam rentang baku mutu yang ditetapkan (6-9), titik

nilai BOD pada kedua formulasi masih berada di bawah ambang batas 150 mg/L, dengan nilai

kurang dari 5 mg/L pada F1 dan 135 mg/L. Sementara itu, nilai COD pada kedua perlakuan

mengalami penurunan dibandingkan kondisi awal COD awal (23,53 mg/L), namun masih berada

di atas baku mutu yang berlaku yaitu 300 mg/L.

4.2 Pembahasan

4.2.1 Limbah Cair Produksi Tahu

Limbah cair tahu mengandung kadar bahan organik tinggi yang berasal dari sisa protein

karbohidrat dan lemak hasil proses pengolahan kedelai. Kondisi awal limbah sebelum perlakuan

menunjukkan ciri fisik yang keruh koloid dan berbau tajam dengan nilai pH yang rendah,

menandakan kondisi limbah bersifat asam, sedangkan tingginya BOD dan COD menunjukkan

adanya bahan organik yang tinggi yang dapat menurunkan kualitas lingkungan bila dibuang

langsung ke perairan. Perlakuan dilakukan dengan menambahkan belajar daun jati kering sebagai

media adsorben dalam dua variasi dosis yaitu 15 gram dan 25 gram. Proses ini bertujuan untuk

menyerap senyawa organik dan menetralkan keasaman limbah sehingga kualitas air limbah

meningkat mendekati baku mutu.Gambar 3. Perubahan pH, COD, dan BOD limbah cair tahu

Diagram tersebut menunjukkan bahwa biochart daun jati kering mampu memperbaiki

sebagian besar parameter kualitas limbah tahu terutama pada parameter bod dan nilai ph.

meskipun nilai COD belum memenuhi baku mutu, trend penurunan antara F1 dan F2

menunjukkan bahwa proses filtrasi berlangsung efektif namun belum optimal.

4.2.2 Pengaruh Variasi Dosis Biochar Daun Jati terhadap Penurunan Bahan Organik dalam

Limbah Cair Tahu

Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi dosis biochar daun jati berpengaruh terhadap

kemampuan menurunkan kadar bahan organik dalam limbah cair tahu. Berdasarkan hasil uji

laboratorium pada formulasi 1 dan formulasi 2, terlihat bahwa peningkatan dosis filter cenderung

memberikan perubahan kualitas limbah yang lebih baik secara fisik dan kimia.

Pada parameter BOD dan COD terlihat adanya peningkatan nilai setelah filtrasi.

Peningkatan nilai BOD dapat disebabkan oleh terjadinya desorpsi atau pelepasan kembali

senyawa organik dari permukaan biochar akibat kejenuhan adsorben. Fenomena serupa dijelaskan

oleh Rizki, Rilda Aulia dan Agus Jatnika (2020) bahwa yang menyebutkan bahwa peningkatan

dosis adsorben di atas dosis optimum bisa menyebabkan permukaan adsorben menutup satu sama

lain atau terjadi tumpang tindih situs aktif, sehingga efektivitasnya menurun.

Sementara itu, pada nilai COD meningkat karena adanya penguraian senyawa organik

kompleks menjadi bentuk sederhana yang masih terukur dalam COD, meskipun sudah tidak

berbau dan tidak kental. Peningkatan COD dapat muncul apabila partikel karbon dari biochar

terlepas selama proses filtrasi, terutama pada ukuran partikel halus, meskipun secara angka

tampak meningkat dibandingkan sebelum perlakuan. Hal ini dapat diinterpretasikan sebagai

peningkatan kadar organik terlarut sementara akibat terlepasnya senyawa karbon aktif dari biocep

ke dalam air filtrasi.

Apabila ditinjau dari aspek perubahan fisik dan aroma, biochar tetap berfungsi efektif

dalam menurunkan intensitas bau dan kekeruhan, yang secara praktis menandakan berkurangnya

komponen organik volatil penyebab pencemaran. Dosis biochar yang lebih tinggi (25 gram)

cenderung memberikan efek penyaringan yang lebih optimal meskipun reaksi adsorpsi terhadap

zat terlarut masih belum sempurna. Dosis 15 gram biochar memberikan hasil terbaik dalam

menurunkan kadar bahan organik atau BOD tanpa menyebabkan peningkatan signifikan pada

COD. Sedangkan dosis 25 gram cenderung menunjukkan kejenuhan adsorpsi. Adanya variasi

dosis biochar daun jadi berpengaruh positif terhadap peningkatan kualitas limbah secara fisik dan aroma, namun dengan catatan efektivitas penurunan BOD dan COD memerlukan proses kontak

lebih lama atau tahapan filtrasi berulang agar hasilnya lebih signifikan.

4.2.3 Pengaruh Filtrasi Menggunakan Biochar Daun Jati terhadap Kualitas Air Limbah

Filtrasi menggunakan biochar daun jati memberikan dampak nyata terhadap perubahan

karakteristik fisik, kimia, dan organoleptik limbah cair tahu. Berdasarkan hasil pengamatan

limbah yang semula berwarna keruh bertekstur koloid yang berbau tajam mengalami perubahan

menjadi lebih jernih cair dan perubahan berbau netral setelah melalui proses filtrasi. Dari sudut

pandang mekanis, proses ini terjadi karena adanya adsorpsi dan penyaringan fisik. Biochar

berperan ganda yaitu sebagai media filtrasi fisik dan sebagai adsorben kimia. Filtrasi fisik dapat

terjadi karena partikel padat yang ada pada limbah cair tersaring melalui pori-pori biochar.

Sedangkan biochar juga dapat mengikat molekul-molekul organik oleh permukaan biochar

melalui ikatan hidrogen dan gaya Van Der waals. Gaya Van Der waals yang dimaksud adalah

gaya tarik lemah antara permukaan bioce dan molekul organik dalam limbah cair tahu, yang

berperan utama pada absorpsi fisik membantu menempelkan molekul tanpa reaksi kimia namun

secara kolektif berkontribusi besar terhadap penurunan kadar COD dan peningkatan kejernihan

limbah.

Kenaikan pH setelah filtrasi menentukan terjadinya reaksi netralisasi alami antara biochar

dan asam organik dalam limbah tahu. Penurunan aroma menyengat menjadi netral menunjukkan

bahwa biochar dapat mengabsorpsi senyawa volatile organic compounds (VOCs) yang

menyebabkan bau tidak sedap seperti amonia dan asam butirat. Warna limbah yang berubah

menjadi kecoklatan menunjukkan adanya reaksi antara bahan organik dengan karbon aktif, yang

secara visual menandakan proses degradasi awal dari senyawa penyebab kekeruhan.

Filtrasi menggunakan biochar daun jati terhadap limbah cair tahu terbukti meningkatkan

kualitas air limbah tahu secara visual dan aroma serta menetralkan pH meskipun penurunan

parameter bod dan COD masih memerlukan optimasi. Temuan ini menunjukkan potensi besar

biochar daun jati sebagai alternatif teknologi pengolahan limbah cair sederhana, murah, dan

ramah lingkungan bagi industri tahu skala kecil.BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai efektifitas biocep daun jati tectona Grandis L.F. dalam

menurunkan kadar bahan organik pada limbah cair tahu dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

  1. Limbah cair tahu yang diuji memiliki karakteristik awal berwarna keruh bertekstur koloid dan berbau

tajam dengan nilai pH sebesar 4,76 yang menunjukkan kondisi asam. Nilai BOD dan COD awal

tergolong tinggi menandakan tingginya kandungan bahan organik di dalam limbah.

  1. Pemberian biochar daun jati mampu memperbaiki karakteristik fisik dan organoleptik limbah cair

tahu, yaitu mengubah warna menjadi kecoklatan, tekstur lebih cair dan jernih, serta aroma menjadi

netral. Hal ini menunjukkan adanya proses adsorpsi senyawa organik dan penurunan komponen

volatil penyebab bau.

  1. Secara kimia, penggunaan biocaar daun jati meningkatkan nilai pH limbah menjadi lebih netral dan

mendekati baku mutu 6-9. Meskipun terjadi penurunan kadar bahan organik nilai COD belum

sepenuhnya memenuhi baku mutu lingkungan.

  1. Variasi dosis bocor daun jati memberikan pengaruh terhadap efektivitas filtrasi. Dosis 15 gram (F1)

menunjukkan hasil paling stabil dalam menurunkan kadar BOD tanpa meningkatkan COD secara

signifikan, sedangkan dosis 25 gram (F2) menunjukkan indikasi kejenuhan adsorpsi akibat penutupan

pori dan pelepasan partikel karbon ke filtrat.

  1. Secara keseluruhan, penggunaan biochar daun jati efektif dalam memperbaiki kualitas limbah cair

tahu dari segi pH, kejernihan, dan bau, meskipun diperlukan optimasi waktu kontak dan jumlah siklus

filtrasi agar penurunan nilai BOD dan COD lebih maksimal.

5.2 Saran

Penelitian selanjutnya disarankan untuk melakukan optimasi waktu kontak dan ukuran partikel

biochar agar efektivitas penyerapan bahan organik pada limbah cair tahu dapat meningkat. Selain itu,

proses filtrasi sebaiknya dilakukan secara bertahap atau berulang (multi-stage) untuk menurunkan kadar

COD secara lebih signifikan hingga memenuhi baku mutu lingkungan. Untuk penerapan di skala industri

kecil, perlu dilakukan uji lapangan jangka panjang guna mengetahui daya tahan biochar daun jati terhadap

kejenuhan adsorpsi serta potensi regenerasinya. Penelitian lanjutan juga dapat mengkaji kombinasi

biochar daun jati dengan bahan penyerap lain, seperti zeolit atau pasir aktif, guna meningkatkan kapasitas

filtrasi dan efisiensi pengolahan limbah cair tahu.

UCAPAN TERIMA KASIH

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan berkah dan rahmat kepada peneliti, sehingga

peneliti bisa menyelesaikan penelitian ksmi tentang ―EFEKTIVITAS BIOCHAR TECTONA GRANDIS L.F.

SEBAGAI AGEN FILTRASI BAHAN ORGANIK PADA LIMBAH CAIR PRODUKSI TAHU DI PEMALANG‖

  1. Peneliti menyadari bahwa tanpa pembimbing dan pihak-pihak tertentu, peneliti tidak akan bisa

menyelesaikan penelitian ini tepat waktu. Untuk itu, peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Kepala sekolah Man Pemalang: (Drs. Ahmad Najid, M.Pd,I) yang telah memberikan dukungan sepanjang

proses penelitian ini.

  1. Bapak/Ibu selaku orang tua peneliti: yang telah mendukung dan mendoakan peneliti dalam proses

penelitian ini.4. Bapak/Ibu pembimbing: (Tri Aksomo,Spd dan Purwaningsih,Spd) yang telah membimbing, membantu

dalam proses penelitian ini

  1. Keluarga dan teman: yang selalu mendukung dan memotivasi peneliti. Semua pihak-pihak yang telah

memberikan dukungan dan motivasi kepada peneliti.

  1. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pemalang yang telah bekerjasama dalam proses pengujian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Arafat, G. F., Wijayanto, A., & Prasetyo, N. A. (2022). Rancang Bangun Sistem Monitoring Pengolahan

Limbah Cair Tahu Di Kabupaten Purbalingga Berbasis Internet of Things. JURNAL MEDIA

INFORMATIKA BUDIDARMA, 6(3), 1329. https://doi.org/10.30865/mib.v6i3.3863

Arifianto, D., Suwondo, A. J., Abdullah, M. H., Octavia, C. W., Hindratmo, A., & Purnamayudhia, O.

(2023). Perancangan Alat Destilasi Limbah Ampas Tahu Menjadi Bahan Bakar Bioethanol

Melalui Metode Quality Function Deployment (QFD). In Journal of System Engineering and

Technological Innovation (JISTI) (Vol. 2, Issue 1, p. 118).

Barquilha, C. E. R., & Braga, M. C. B. (2021). Adsorption of organic and inorganic pollutants onto

biochars: Challenges, operating conditions, and mechanisms. Bioresource Technology Reports,

15, 100728. https://doi.org/10.1016/j.biteb.2021.100728

Bui, V. K. H., Nguyen, T. P., Tran, T. C. P., Nguyen, T. T., Duong, T.-T., Nguyen, V.-T., Liu, C.,

Nguyen, D. D., & Nguyen, X. C. (2024). Biochar-based fixed filter columns for water treatment:

A comprehensive review. The Science of The Total Environment, 176199. https://doi.org/10.1016/

j.scitotenv.2024.176199

Chafik, Y., Sena-Vélez, M., Henaut, H., Idrissi, M. M. E., Carpin, S., Bourgerie, S., & Morabito, D.

(2025). Synergistic Effects of Compost and Biochar on Soil Health and Heavy Metal Stabilization

in Contaminated Mine Soils. Agronomy, 15(6), 1295. https://doi.org/10.3390/agronomy15061295

Chávez-García, E., Aguillón-Martínez, J., Sánchez‐González, A., & Siebe, C. (2020).

CHARACTERIZATION OF UNTREATED AND COMPOSTED BIOCHAR DERIVED FROM

ORANGE AND PINEAPPLE PEELS. Revista Internacional de Contaminación Ambiental, 36(2).

https://doi.org/10.20937/rica.53591

Citrasari, N., Pinatih, T. A., Kuncoro, E. P., Soegianto, A., Salamun, S., & Irawan, B. (2017). Potency of

bio-charcoal briquette from leather cassava tubers and industrial sludge. AIP Conference

Proceedings. https://doi.org/10.1063/1.4985398

Curcio, R., Bilotti, R., Lia, C., Compitiello, M., Cangemi, S., Verrillo, M., Spaccini, R., & Mazzei, P.

(2025). Short-Term Effects of Wood Biochar on Soil Fertility, Heterotrophic Respiration and

Organic Matter Composition. Agriculture, 15(10), 1091.

https://doi.org/10.3390/agriculture15101091

Ding, Y., Liu, Y., Liu, S., Huang, X., Li, Z., Tan, X., Zeng, G., & Zhou, L. (2017). Potential Benefits of

Biochar in Agricultural Soils: A Review. Pedosphere, 27(4), 645. https://doi.org/10.1016/s1002-

0160(17)60375-8Fadlilah, I., Pramita, A., Triwuri, N. A., & Anggorowati, H. (2023). Pemanfaatan Karbon Aktif Kulit

Pisang Kepok dan Karbon Aktif Tempurung Nipah sebagai Biosorben untuk Pengolahan Limbah

Cair Laundry. Eksergi, 20(2), 118. https://doi.org/10.31315/e.v20i2.9681

Fang, L., Huang, T., Lu, H. et al. Biochar-based materials in environmental pollutant elimination,

H2 production and CO2 capture applications. Biochar 5, 42 (2023).

https://doi.org/10.1007/s42773-023-00237-7

Firmansyah, Y. R., & Razif, M. (2016). Perbandingan desain IPAL anaerobic biofilter dengan rotating

biological contactor untuk limbah cair tekstil di Surabaya. Jurnal Teknik ITS, 5(2).

Gasim, M. F., Choong, Z.-Y., Koo, P.-L., Low, S.-C., Abdurahman, M. H., Ho, Y., Mohamad, M.,

Suryawan, I. W. K., Lim, J. W., & Oh, W. (2022). Application of Biochar as Functional Material

for Remediation of Organic Pollutants in Water: An Overview. Catalysts, 12(2), 210.

https://doi.org/10.3390/catal12020210

Hao, Y. S., Kong, H., Zaini, M. A. A., & Yunus, M. A. C. (2020). A Review of Production, Properties

and Application in Scavenging of Dyes of Biochar. Advances in Engineering Research, volume

200 https://doi.org/10.2991/aer.k.201229.031

Hidayah, E. N., Djalalembah, A., Asmar, G. A., & Cahyonugroho, O. H. (2018). Pengaruh aerasi dalam

constructed wetland pada pengolahan air limbah domestik. Jurnal Ilmu Lingkungan, 16(2), 155.

https://doi.org/10.14710/jil.16.2.155-161

Hong, J., Lee, J., Choi, J., & Shin, H. (2020). Chemical and physical activation of biochar for improved

adsorption capacity. Journal of Environmental Management, 250, 109458. https://doi.org/10.1016

/j.jenvman.2019.109458

Inyang, M., & Dickenson, E. (2015). The potential role of biochar in the removal of organic and microbial

contaminants from potable and reuse water: A review. Chemosphere, 134, 232.

https://doi.org/10.1016/j.chemosphere.2015.03.072

jindo, J., Saxena, J., & Sanwal, P. (2019). Biochar: A Sustainable Approach for Improving Plant

Growth and Soil Properties. In IntechOpen eBooks. Intech Open.https://doi.org/10.5772/intecho

pen.82151

Jindo, K., Mizumoto, H., Sawada, Y., Sánchez-Monedero, M. A., & Sonoki, T. (2014). Physical and

chemical characterization of biochars derived from different agricultural residues. Biogeosciences

, 11(23), 6613. https://doi.org/10.5194/bg-11-6613-2014

Jouanneau, S., Recoules, L., Durand, M. J., Boukabache, A., Picot, V., Primault, Y., Lakel, A., Sengelin,

M., Barillon, B., & Thouand, G. (2013). Methods for assessing biochemical oxygen demand

(BOD): A review. Water Research, 49, 62. https://doi.org/10.1016/j.watres.2013.10.066

Kavitha, B., Reddy, P. V. L., Kim, B., Lee, S. S., Pandey, S. K., & Kim, K. (2018). Benefits and

limitations of biochar amendment in agricultural soils: A review. Journal of Environmental

Management, 227, 146. Elsevier BV. https://doi.org/10.1016/j.jenvman.2018.08.082Maulana, Moh. R., & Marsono, B. D. (2021). Penerapan Teknologi Membran untuk Mengolah Limbah

Cair Industri Tahu (Studi Kasus: UKM Sari Bumi, Kabupaten Sumedang). In Jurnal Teknik ITS

(Vol. 10, Issue 2). Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M).

Muhammad, A. T. (2021). Perbandingan Efektivitas Tanaman Lembang (Thypa Angustifolia) Dan

Tanaman Iris (Iris Pseuadacorus) Pada Constructed Wetland Terhadap Limbah Cair Industri

Tahu. Jurnal Phi Jurnal Pendidikan Fisika Dan Fisika Terapan, 2(2), 52. https://doi.org/10.2237

3/p-jpft.v2i2.9785

Muhammad, A. T. (2022). PENYISIHAN POLUTAN PADA LIMBAH CAIR PENATU

MENGGUNAKAN ADSORBEN ARANG AKTIF BERASAL DARI BAMBU. Jurnal Phi

Jurnal Pendidikan Fisika Dan Fisika Terapan, 3(1), 6. https://doi.org/10.22373/p-jpft.v3i1.12409

Muliyadi, M., & Sowohy, I. S. (2020). Perbandingan efektivitas metode elektrokoagulasi dan destilasi

terhadap penurunan beban pencemar fisik pada air limbah domestik. JURNAL KESEHATAN

LINGKUNGAN INDONESIA, 19(1), 45. https://doi.org/10.14710/jkli.19.1.45-50

Nartey, O. D., & Zhao, B. (2014). Biochar Preparation, Characterization, and Adsorptive Capacity and Its

Effect on Bioavailability of Contaminants: An Overview. Advances in Materials Science and

Engineering, 2014, 1. https://doi.org/10.1155/2014/715398

Nepal, J., Ahmad, W., Munsif, F., Khan, A., & Zou, Z. (2023). Advances and prospects of biochar in

improving soil fertility, biochemical quality, and environmental applications. Frontiers in

Environmental Science, 11. https://doi.org/10.3389/fenvs.2023.1114752

Pratiwi, D., Syakur, S., & Darusman, D. (2021). Karakteristik biochar pada beberapa metode pembuatan

dan bahan baku. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian, 6(3), 210.

Rizki, R. A., & Jatnika, A. (2020). Pengaruh dosis adsorben dan waktu kontak terhadap penyisihan

logam berat tembaga (Cu) pada limbah cair elektroplating menggunakan adsorben zeolit alam.

Bandung: Institut Teknologi Bandung. Diakses dari

https://ftsl.itb.ac.id/wp

content/uploads/sites/8/2020/06/3.-Rizki-Rilda-Aulia-dan-Agus-Jatnika-37-52.pdf

Saletnik, A., & Saletnik, B. (2025). Technology–Economy–Policy: Biochar in the Low-Carbon Energy

Transition—A Review. Applied Sciences, 15(11), 5882. https://doi.org/10.3390/app15115882

Santos, F. R., Pereira, R. A., & Silva, P. A. (2025). Produksi dan karakterisasi biochar dari biomassa daun

jati (Tectona grandis L.F). Journal of Environmental Management, 21(3), 212-225.

Senadheera, S. S., Gupta, S., Kua, H. W., Hou, D., Kim, S., Tsang, D. C. W., & Ok, Y. S. (2023).

Application of biochar in concrete – A review. Cement and Concrete Composites, 143, 105204.

Elsevier BV. https://doi.org/10.1016/j.cemconcomp.2023.105204

Shakya, A., & Agarwal, T. (2017). Poultry Litter Biochar: An Approach towards Poultry Litter

Management – A Review [Review of Poultry Litter Biochar: An Approach towards Poultry Litter

Management – A Review]. International Journal of Current Microbiology and Applied Sciences,

6(10), 2657. Excellent Publishers. https://doi.org/10.20546/ijcmas.2017.610.314Sun, Y., Gao, B., Yao, Y., Fang, J., Zhang, M., Zhou, Y., Chen, H., & Yang, L. (2013). Effects of

feedstock type, production method, and pyrolysis temperature on biochar and hydrochar

properties. Chemical Engineering Journal, 240, 574. https://doi.org/10.1016/j.cej.2013.10.081

Sunarsih, E. (2014). Konsep Pengolahan Limbah Rumah Tangga dalam Upaya Pencegahan Pencemaran

Lingkungan. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 5(3).https://ejournal.fkm.unsri.ac.id/index.php/ji

km/article/download/158/114

Tang, J., Zhu, W., Kookana, R. S., & Katayama, A. (2013). Characteristics of biochar and its application

in remediation of contaminated soil. Journal of Bioscience and Bioengineering, 116(6), 653.

https://doi.org/10.1016/j.jbiosc.2013.05.035

Tang, L., Yu, J., Pang, Y., Zeng, G., Deng, Y., Wang, J., Ren, X., Ye, S., Peng, B., & Feng, H. (2017).

Sustainable efficient adsorbent: Alkali-acid modified magnetic biochar derived from sewage

sludge for aqueous organic contaminant removal. Chemical Engineering Journal, 336, 160.

https://doi.org/10.1016/j.cej.2017.11.048

Videgain, M., Marco, P., Martí, C., Jaizme-Vega, M. del C., Manyà, J. J., & García-Ramos, F. J. (2020).

Effects of Biochar Application in a Sorghum Crop under Greenhouse Conditions: Growth

Parameters and Physicochemical Fertility. Agronomy, 10(1), 104. https://doi.org/10.3390/agrono

my10010104

Wati, T. C. (2022). EVALUASI STATUS MUTU AIR SUNGAI LAMANDAU DENGAN METODE

INDEKS PENCEMARAN DI KABUPATEN LAMANDAU PROVINSI KALIMANTAN

TENGAH. Jurnal Teknik SILITEK, 2(1), 24.

Zhang, Y., Wang, Y., Xie, S., & Sun, H. (2018). A review on the biochar-based materials for the removal

of pollutants from aqueous solutions. Environmental Science and Pollution Research, 25(32),

32288-32299.

Zhao, L., Cao, X., Mašek, O., & Zimmerman, A. R. (2013). Heterogeneity of biochar properties as a

function of feedstock sources and production temperatures. Journal of Hazardous Materials, 1.

https://doi.org/10.1016/j.jhazmat.2013.04.015

Zhu, L., Zhao, N., Tong, L., & Lv, Y. (2018). Structural and adsorption characteristics of potassium

carbonate activated biochar. RSC Advances, 8(37), 21012. https://doi.org/10.1039/c8ra03335hLAMPIRAN

  1. Surat Keaslian Karya

https://drive.google.com/drive/folders/1KWQUFWEra-A9QsQHBKzO3A3NqIDGstru

  1. Klirens Etik

https://drive.google.com/drive/folders/1KWQUFWEra-A9QsQHBKzO3A3NqIDGstru

  1. Format Logbook

https://drive.google.com/drive/folders/1DOuiXTLQ_QwKuS6ETol_PR6ZkAZKIoN8

  1. Lampiran Pernyataan Dan/Atau Penjelasan Atas Masukan Reviewer Pada Proposal Penelitian

Nama tim: Two Boys

Judul Penelitian: EFEKTIVITAS BIOCHAR TECTONA GRANDIS L.F SEBAGAI AGEN FILTRASI

BAHAN ORGANIK PADA LIMBAH CAIR PRODUKSI TAHU DI PEMALANG

NO

Komenter Riviewer

Respons Peneliti

  1.  

Latar belakang: Pergunakan alur: menjelaskan masalah

lalu dampak dan fakta lokal disampaikan juga solusi

potensial lalu justifikasi biochar dan tujuan riset.

Walaupun telah disebutkan nilai COD dan BOD limbah

cair tahu di Pemalang berdasarkan satu referensi, akan

lebih baik jika dapat menyajikan data yang lebih

komprehensif atau mengindikasikan bahwa data tersebut

adalah contoh dan perlunya penelitian lebih lanjut, untuk

karakterisasi limbah di berbagai industri tahu di Pemalang.

Di samping keberlanjutan, biaya rendah, dan ketersediaan

lokal, disebutkan juga secara ringkas potensi keunggulan

biochar daun jati dalam hal sifat adsorpsi bahan organik

berdasarkan penelitian yang disitir (Arafat et al., 2022;

Yadav et al., 2017).

Latar belakang telah direvisi

mengikuti alur yang diminta.

Paragraf awal kini menyoroti

masalah li kandungan organik tinggi yang mbah cair tahu dengan

menyebabkan peningkatan BOD dan

COD serta pencemaran lingkungan

(Arafat et al., 2022; Maulana &

Marsono, 2021; Muhammad, 2021;

Sunarsih, 2014). Fakta lokal di

Pemalang dijelaskan bahwa data nilai

BOD dan

COD masih terbatas,

sehingga perlu penelitian lanjutan di

berbagai industri tahu.

Solusi potensial berupa penggunaan

biochar sebagai media filtrasi

berkelanjutan dijelaskan bersama

faktor-faktor yang memengaruhi

adsorpsi seperti porositas, suhu

pirolisis, dan waktu kontak (Shakya

& Agarwal, 2017; Zhu et al., 2018;

Li et al., 2016; Gasim et al., 2022;

Hong et al., 2020). Justifikasi biochar

daun jati (Tectona grandis L.F.)

diperkuat karena memiliki porositas

tinggi dan luas permukaan besar

(Arafat et al., 2022; Yadav et al.,

2017).

Latar belakang ditutup dengan tujuan

penelitian, yaitu menganalisis

efektivitas biochar daun jati dalam menurunkan kadar BOD, COD, dan

TSS pada limbah cair tahu di

Pemalang.

  1.  

Tujuan penelitian : tujuan penelitian konsisten dengan

rumusan masalah.

Tujuan penelitian kami sudah

diperbaiki agar sama dengan

rumusan masalah

  1.  

Tinjauan pustaka : Jelaskan secara ringkas mekanisme

adsorpsi bahan organik oleh biochar (interaksi fisik dan

kimia pada permukaan pori-pori biochar). Walaupun

biochar hampir sama dengan arang aktif, perlu ditekankan

perbedaan dan keunggulan spesifik biochar (terutama dari

daun jati bila ada datanya) dibandingkan dengan arang

aktif konvensional dalam konteks pengolahan limbah cair

tahu (dari segi biaya, ketersediaan)

Bagian tinjauan pustaka telah direvisi

dengan menambahkan uraian

mengenai

mekanisme adsorpsi

biochar terhadap bahan organik,

mencakup interaksi fisik (gaya Van

der Waals dan elektrostatik) serta

interaksi kimia (ikatan hidrogen,

pertukaran ion, dan interaksi π–π)

pada permukaan pori-pori biochar.

Telah dijelaskan pula peran gugus

fungsional aktif (–OH, –COOH, –

C=O) dalam meningkatkan kapasitas

adsorpsi (Patel et al., 2022).

Selain itu, telah ditambahkan

perbandingan antara biochar dan

arang aktif, yang menekankan

keunggulan biochar daun jati dari

segi biaya produksi yang lebih

ekonomis, ketersediaan bahan

baku lokal yang melimpah, dan

sifat ramah lingkungan, meskipun

luas permukaannya lebih kecil.

Biochar daun jati dijelaskan tetap

efektif dalam menurunkan bahan

organik limbah cair tahu.

Bagian jenis dan karakteristik

bahan baku biochar juga telah

diperluas untuk menegaskan

pengaruh bahan baku terhadap sifat

fisikokimia dan kapasitas adsorpsi

biochar, sekaligus memperkuat

justifikasi pemilihan daun jati

sebagai bahan baku potensial.

  1.  

Metode penelitian : Rancangan Penelitian: ini

dikategorikan sebagai penelitian kuantitatif eksperimental,

karena akan mengukur dan menganalisis data numerik

(nilai COD, BOD, pH) untuk melihat pengaruh variasi

dosis biochar. Analisis tematik lebih cocok untuk data

Bagian metode penelitian telah

direvisi dengan menegaskan bahwa

penelitian ini merupakan penelitian

kuantitatif eksperimental.

Rancangan penelitian menggunakan

eksperimen laboratorium dengan kualitatif seperti wawancara.

empat tahap, yaitu kontrol (tanpa

biochar) dan perlakuan dengan dua

dosis biochar daun jati kering (15 g

dan 25 g). Data hasil pengujian

COD, BOD, pH, dan organoleptik

limbah cair tahu sebelum dan

sesudah perlakuan dikumpulkan dan

dianalisis menggunakan analisis

statistik kuantitatif untuk mengukur

serta menilai pengaruh variasi dosis

biochar terhadap kualitas air limbah.

Pendekatan analisis tematik telah

dihilangkan karena tidak relevan

dengan jenis data yang bersifat

numerik.

  1.  

Prosedur Penelitian:Pengumpulan dan Persiapan Daun

Jati: Sebutkan jumlah daun jati yang akan dikumpulkan

dan bagaimana proses pengeringan dilakukan.

Prosedur penelitian telah direvisi

dengan menambahkan penjelasan

lebih rinci terkait pengumpulan dan

persiapan daun jati. Dijelaskan

bahwa daun jati yang digunakan

adalah daun berwarna coklat kering

namun tidak terlalu tua, dikumpulkan

dari daun yang berjatuhan di tanah

hingga memenuhi

karung

berukuran 75 cm × 115 cm dengan

berat sekitar ±5 kg. Selanjutnya,

proses pengeringan dilakukan di

bawah sinar matahari selama

kurang lebih dua hari hingga kadar

air berkurang dan daun tampak lebih

menyusut dibandingkan saat awal

pengumpulan.

  1.  

Pembuatan Biochar: Jelaskan lebih rinci parameter

pirolisis yang akan digunakan (suhu spesifik, waktu, laju

pemanasan jika dikontrol). Jika ada aktivasi biochar

setelah pirolisis (misalnya, aktivasi kimia atau fisik),

sebutkan prosedurnya.

Penggilingan dan Pengayakan Biochar: Sebutkan ukuran

partikel biochar yang akan digunakan

Bagian pembuatan biochar telah

direvisi dengan menambahkan detail

pirolisis daun jati yang dikeringkan

±2 hari. Pirolisis dilakukan 5–6 jam

menggunakan biobriket sebagai

sumber panas dengan tong tertutup

sebagian. Setelah pendinginan,

biochar dihaluskan menjadi partikel

60 mesh (±250 µm). Tidak dilakukan

aktivasi tambahan. Perlakuan sampel

dijelaskan mencakup variasi dosis

(15 g dan 25 g), waktu kontak 24

jam, dan filtrasi batch menggunakan

kertas saring.

  1.  

Persiapan Limbah Cair Tahu: Sebutkan sumber spesifik

limbah cair tahu yang akan digunakan dan bagaimana

Metode penelitian telah direvisi

secara rinci dan sistematis. Penelitian karakterisasi awal limbah (pengukuran COD, BOD, pH

awal).

ini menggunakan pendekatan

kuantitatif eksperimental dengan

rancangan laboratorium yang

mencakup tahap kontrol (tanpa

biochar) dan dua perlakuan

menggunakan variasi dosis biochar

daun jati 15 g (F1) dan 25 g (F2).

Lokasi, alat, dan bahan dijelaskan

secara spesifik, termasuk sumber

daun jati dan limbah cair tahu di

Pemalang. Prosedur penelitian

diperinci mulai dari pengumpulan

bahan, pembuatan biochar melalui

proses pirolisis, pengambilan dan

pengujian sampel limbah (pH, COD,

BOD), hingga analisis pasca

perlakuan. Pengolahan data

dilakukan dengan menghitung nilai

rata-rata dan simpangan baku, serta

menggunakan

analisis statistik

deskriptif untuk menggambarkan

perubahan nilai pH, COD, dan BOD

pada setiap perlakuan. Hasil

disajikan dalam bentuk tabel dan

grafik untuk mempermudah analisis

efektivitas biochar daun jati terhadap

penurunan kadar organik limbah cair

tahu.

  1.  

Filtrasi Limbah Cair: Jelaskan desain sistem filtrasi yang

akan digunakan (misalnya, kolom batch, kolom kontinyu).

Desain sistem filtrasi pada penelitian

ini menggunakan metode batch,

yaitu proses pemisahan campuran

padat-cair dilakukan dalam satu

siklus penyaringan menggunakan

corong dan kertas saring secara

tidak kontinu. Proses filtrasi

dilakukan setelah 24 jam perlakuan

untuk memastikan interaksi optimal

antara biochar dan limbah cair tahu.

  1. Sebutkan variasi dosis biochar yang akan diuji dan volume

limbah cair yang digunakan untuk setiap dosis. Waktu

kontak antara biochar dan limbah cair juga perlu

distandarisasi.

Variasi dosis biochar dan volume

limbah cair telah dijelaskan dalam

prosedur revisi. Setiap formulasi

biochar diuji dengan volume limbah

cair yang sama, sedangkan waktu

kontak distandarisasi selama 24 jam untuk memastikan proses penyerapan

berjalan optimal. Setelah waktu

kontak selesai, proses filtrasi

dilakukan secara batch menggunakan

corong dan kertas saring dalam satu

siklus penyaringan tidak kontinu.

  1. Pengujian dan Analisis: Sebutkan metode analisis COD,

BOD, dan pH yang akan digunakan secara spesifik

(misalnya, metode titrasi untuk COD, metode DO meter

untuk BOD). Lakukan pengulangan untuk setiap

perlakuan dosis biochar (minimal 3 kali) untuk analisis

statistik.

Metode pengujian telah direvisi

secara spesifik sebagai berikut: (1)

COD diuji menggunakan metode

kalium dikromat (titrasi refluks)

dengan pemanasan pada reaktor

COD bersuhu 150°C selama 2 jam,

kemudian hasilnya diukur

menggunakan spektrofotometer; (2)

BOD diuji dengan metode inkubasi 5

hari menggunakan larutan NaOH

dan digestion solution sebelum

perlakuan, serta pengukuran setelah

inkubasi dengan rumus BOD =

(DO₁–DO₂) × faktor pengenceran;

(3) pH diuji dengan metode

potensiometri

menggunakan pH

meter yang dikalibrasi dua atau tiga

titik sebelum pengukuran. Setiap

perlakuan dosis biochar dilakukan

pengulangan sebanyak tiga kali

(triplo) untuk memperoleh hasil

yang valid secara statistik.

  1. Pengolahan dan Analisis Data:

Ganti analisis tematik dengan analisis statistik kuantitatif.

Gunakan statistik deskriptif (mean, standar deviasi) untuk

menggambarkan hasil pengukuran COD, BOD, dan pH

pada setiap dosis biochar.

Gunakan statistik inferensial (misalnya, ANOVA) untuk

menguji apakah ada perbedaan signifikan antara

penurunan bahan organik (COD, BOD) pada berbagai

dosis biochar. Jika ada perbedaan signifikan, lanjutkan

dengan uji post-hoc (misalnya, uji Tukey atau LSD) untuk

melihat dosis mana yang berbeda secara signifikan.

Analisis perubahan pH juga perlu dilakukan

Bagian pengolahan dan analisis data

telah direvisi menggunakan analisis

statistik kuantitatif. Analisis

deskriptif dilakukan dengan

menghitung nilai rata-rata (mean)

dan standar deviasi dari hasil

pengukuran pH, COD, dan BOD

pada setiap dosis biochar daun jati.

Hasil analisis disajikan dalam tabel

dan grafik untuk memudahkan

perbandingan antara perlakuan 15 g

(F1) dan 25 g (F2), sekaligus menjadi

dasar pembahasan efektivitas biochar

daun jati dalam meningkatkan

kualitas limbah cair tahu.

  1. Metode penelitian harus jelas karena akan sangat Metode penelitian telah diperjelas berpengaruh pada jalannya penelitian. Rancangan

percobaan, pengolahan dan analisis data harus jelas dan

tepat.

dengan penjabaran lengkap mengenai

lokasi, waktu, alat, bahan, rancangan

penelitian, prosedur pelaksanaan,

serta metode analisis data. Penelitian

dilaksanakan pada bulan Mei–

Oktober di empat lokasi pendukung

(hutan jati Penggarit, home industry

tahu di Jl. Merbabu, DLH Pemalang,

dan Laboratorium Kimia MAN

Pemalang). Penelitian menggunakan

rancangan eksperimen laboratorium

kuantitatif dengan empat tahap

perlakuan (kontrol, F1=15 g biochar,

dan F2=25 g biochar). Prosedur

penelitian dijabarkan mulai dari

pengumpulan bahan, pembuatan

biochar, perlakuan filtrasi, hingga

pengujian parameter COD, BOD,

dan pH sesuai metode APHA (2017).

Data hasil pengujian diolah secara

statistik deskriptif untuk memperoleh

nilai rata-rata, standar deviasi, serta

efektivitas penurunan kadar COD

dan BOD. Hasil disajikan dalam

bentuk tabel dan grafik agar

perbandingan tiap perlakuan dapat

dianalisis secara sistematis dan

objektif.

  1. Penulisan nama ilmiah untuk spesies pohon jati belum

sesuai ketentuan internasional tata nama binomial.

Penulisan nama ilmiah untuk spesies

pohon jati sudah sesuai dengan

ketentuan internasional tata nama

binomial penulisan kata Tectona

Grandis L.F16. Penulisan daftar pustaka belum sesuai ketentuan dalam

penduan.

Penulisan daftar pustaka sudah kami

kembangkan agar sesuai dengan

ketentuan dalam panduan, contoh:

Zhu, L., Zhao, N., Tong, L., & Lv, Y.

(2018). Structural and adsorption

characteristics of potassium

carbonate activated biochar. RSC

Advances, 8(37), 21012.

https://doi.org/10.1039/c8ra03335h,

menjadi Zhu, L., Zhao, N., Tong, L.,

& Lv, Y. (2018). Structural and

adsorption characteristics of

potassium carbonate activated

biochar. RSC Advances, 8(37),

  1.  

https://doi.org/10.1039/c8ra03335h

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait