LAPORAN PENELITIAN KREASI
EFEKTIVITAS LOSION ANTI NYAMUK ALAMI BERBAHAN DASAR EKSTRAK LIDAH MERTUA (SANSEVIERIA SPP) DAN EKSTRAK BUNGA KENANGA (CANANGA ODORATA)
PENELITI TWO BOYS
- RAFI NAUFAL ZAKY
- ARIQ PRASUDIAN HAZ
MSTL – SMA – 145
Pembimbing
TRI AKSOMO, S.Pd
Bidang KREASI
MSTL/SAINS
MADRASAH ALIYAH NEGERI PEMALANG
JL TENTARA PELAJAR NO 12, MULYOHARJO, KEC PEMALANG, KABUPATEN PEMALANG, JAWA TENGAH 52319
2025
LAPORAN PENELITIAN KREASI
EFEKTIVITAS LOSION ANTI NYAMUK ALAMI BERBAHAN DASAR EKSTRAK LIDAH MERTUA (SANSEVIERIA SPP) DAN EKSTRAK BUNGA KENANGA (CANANGA ODORATA)
Rafi Naufal Zaky, Ariq Prasudian Haz
Tri Aksomo, Sri Purwaningsih
Madrasah Aliyah Negeri Pemalang
JL TENTARA PELAJAR NO 12, MULYOHARJO, KEC PEMALANG, KABUPATEN PEMALANG, JAWA TENGAH
rafinaufalzaky08@gmail.com aksomotri@gmail.com
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas losion anti nyamuk berbahan dasar ekstrak lidah mertua (Sansevieria spp) dan bunga kenangan (Cananga odorata) sebagai alternatif alami pengganti bahan kimia sintetis seperti DEET. losion komersial berbahan DEET terbukti efektif , namun berpotensi menimbulkan efek samping seperti iritasi kulit, alergi, serta dampak negatif terhadap lingkungan. Ekstrak lidah mertua diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti saponin, flavonoid, dan tanin yang bersifat repelan, sementara bunga kenanga mengandung linalool, geraniol, dan eugenol yang memiliki aroma khas serta kemampuan mengusir nyamuk.
Metode penelitian menggunakan rancangan pre-test dan post-test control group design dengan pembuatan losion melalui kombinasi fase minyak dan fase air, disertai uji organoleptik, uji pH, uji fitokimia, serta uji dermatologis. Hasil uji menunjukkan losion memiliki warna hijau muda alami, tekstur halus, aroma lembut, pH aman (4-7) dan relatif tidak memicu alergi, meski terdapat potensi iritasi ringan. Uji efektivitas menunjukkan losion mampu melindungi kulit dari gigitan nyamuk hingga 3-4 jam setelah aplikasi.
Kata kunci: losion anti nyamuk, ekstrak lidah mertua (Sansevieria spp), ekstrak bunga kenanga (Cananga odorata), DEET
This study aimed to evaluate the efectiveness of mosquito repellent lotions made from snake plant extract (Sansevieria spp) and cananga flower (Cananga odorata) as natural alternatives to synthetic chemicals like DEET. Commercial DEET-based lotions have been shown to be effective , but they can pottentially cause side effects such as skin irritation, allergies, and negative environmental impacts. Snake plant extract is known to contain bioactive compounds such as saponin, flavonoids, and tannins, which have repellent properties. Cananga flower countains linalool, geraniol, and eugenol, which have a distinctive aroma and mosquito-repellent properties.
The research method used a pre-test and post-test control group design. The lotion was prepared using a combination of oil and water phase, along with organoleptic, pH, phytochemical, and dermatological tests. The test results showed the lotion to have a natural light green color, a smooth texture, a mild aroma, a safe pH (4-7), and a relatively non-allergenic effect, although it did have the potential for mild irritation. Effectiveness testing demonstrated that the lotion protected the skin from mosquito bites for up to 3-4 hours after apllication.
Keywords: mosquito repellent lotion, snake plant extract (Sansevieria spp), cananga flower extract (Cananga odorata), DEET
- Pendahuluan
Losion anti nyamuk yang beredar di pasaran biasanya terdapat bahan kimia bertujuan untuk memberikan perlindungan optimal terhadap gigitan nyamuk, terutama nyamuk (Purba et al., 2020). Bahan kimia seperti DEET, permetrin dan propoxur seringkali menjadi bagian dari formulasi losion anti nyamuk yang masing-masing memberikan efek yang berbeda sesuai mekanisme nya sebagai pembasmi serangga. Akibatnya, menimbulkan kekhawatiran terkait potensi dampak negatifnya terhadap kesehatan manusia, apalagi dengan mengingat paparan langsung dan berulang yang terjadi melalui penggunaan pada kulit (Fatimah, 2021). Walaupun DEET teruji keefektivitasannya dalam mengusir nyamuk, ada efek samping yang dikaitkan termasuk iritasi kulit seperti ruam, gatal-gatal, dan rasa terbakar, terutama pada individu dengan kulit sensitif atau riwayat alergi. Gangguan pernapasan seperti batuk, bersin, dan sesak napas tak jarang terjadi setelah menghirup uap losion anti nyamuk yang mengandung DEET dalam konsentrasi tinggi.
Oleh karena itu, muncul kebutuhan untuk mencari alternatif bahan alami yang lebih aman dan ramah lingkungan sebagai pengganti bahan kimia sintetis dalam losion anti nyamuk, seperti pemanfaatan ekstrak tanaman yang lebih terbukti memiliki kandungan senyawa aktif dengan efek repelan terhadap nyamuk.
Penggunaan bahan alami dalam produk pengusir nyamuk semakin diminati seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan dampak negatif bahan kimia sintetis pada kesehatan dan lingkungan. Salah satu bahan alami yang banyak dimanfaatkan adalah ekstrak lidah mertua (Sansvieria spp), yang diketahui mengandung senyawa aktif seperti saponin, flavonoid, dan tannin, yang berfungsi sebagai repelan alami (X et al., 2023). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekstrak lidah mertua dapat mengurangi jumlah nyamuk yang mendekat hingga 50% dalam waktu 10 menit setelah aplikasi losion (X et al., 2023). Selain itu, ekstrak bunga kenanga (Cananga odorata), yang mengandung senyawa linalool dan terpenoid, juga dikenal efektif dalam mengusir nyamuk. Penelitian oleh (Y et al., 2022) menunjukkan bahwa aroma bunga kenanga memiliki potensi pengusir nyamuk lebih tinggi dibandingkan dengan bahan kimia sintetis dalam pengujian laboratorium.
Selain lidah mertua dan bunga kenanga, berbagai tanaman lain juga telah banyak diteliti dan dimanfaatkan sebagai bahan alami dalam formulasi losion anti nyamuk, misalnya minyak esensial dari serai, lavender, kayu putih, dan peppermint yang tidak hanya berfungsi sebagai repelan, tetapi juga memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan kulit.
Konsentrasi ekstrak yang tepat dalam formulasi losion menjadi kunci untuk efektivitas nya. Penentuan konsentrasi yang ideal, seperti 5% untuk ekstrak bunga kenanga dan 10% untuk ekstrak lidah mertua, bertujuan untuk mendapatkan perlindungan optimal terhadap nyamuk. Dalam penelitian (Z et al., 2023), losion berbahan ekstrak bunga kenanga terbukti mengurangi kedatangan nyamuk hingga 70% dalam 30 menit pertama. Selain itu, durasi perlindungan juga menjadi faktor penting, dengan penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa losion berbahan alami dapat memberikan perlindungan antara 3 hingga 5 jam, bergantung pada konsentrasi bahan aktif dan kondisi lingkungan.
Penelitian mengenai efektivitas larvasida dari berbagai bahan alami khususnya ekstrak lidah mertua atau bunga kenanga terhadap larvasida nyamuk masih diteliti dengan observasi dan pengawasan vektor, yang melibatkan penggunaan larvasida. Ekstrak lidah mertua telah menunjukkan aktivitas larvasida yang signifikan terhadap larva nyamuk, dengan beberapa penelitian melaporkan tingkat kematian larva mencapai 100% dalam waktu 12 jam pada konsentrasi tertentu (Ningrum, 2019). Lalu, berbagai penelitian telah mengidentifikasi senyawa aktif dalam ekstrak bunga kenanga, seperti linalool, geraniol, dan eugenol, yang memiliki sifat repellent terhadap nyamuk (Pebrianti et al., 2015). Konsentrasi 7,5% dari ekstrak ini telah terbukti efektif dalam mengusir nyamuk Aedes aegypti (Silva & Ricci‐Júnior, 2020). Senyawa-senyawa ini bekerja dengan mengganggu sistem saraf nyamuk, menghambat kemampuan mereka untuk mendeteksi inang manusia. Hal ini sama dengan penelitian sebelumnya yang memperhatikan aktivitas antioksidan yang besar dari ekstrak daun aseton karamunting. Memanfaatkan nanopartikel perak yang diperantarai tumbuhan A. muricata dapat menjadi agen insektisida alternatif untuk mengendalikan nyamuk sasaran. Penelitian ini juga menyoroti senyawa aktif tertentu dalam ekstrak daun kari, khususnya, memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi insektisida alami yang efektif untuk mengendalikan nyamuk.
Meskipun banyak penelitian sebelumnya yang mengkaji ekstrak lidah mertua dan bunga kenanga secara terpisah dalam pengusiran nyamuk (W et al., 2021), belum ada studi yang mengkombinasikan kedua ekstrak tersebut dalam satu formulasi losion. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan mengevaluasi efektivitas kombinasi ekkstrak lidah mertua dan bunga kenanga dalam losion anti-nyamuk dan menguji durasi perlindungannya yang lebih lama. Tren penelitian menunjukkan peningkatan minat terhadap produk pengusir nyamuk alami, yang semakin relevan dengan meningkatnya kesadaran akan bahaya bahan kimia dalam pestisida (Q et al., 2022).
Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa baik ekstrak lidah mertua (Sanseviera trifasciata) maupun bunga kenanga (Cananga odorata) memiliki potensi sebagai bahan aktif dalam losion anti-nyamuk alami. Lidah mertua mengandung senyawa seperti saponin dan flavonoid yang memiliki sifat repelan, sementara bunga kenanga menandung linalool, geraniol, dan eugenol yang terbukti efektif dalam mengusir nyamuk (Basu et al., 2016; Tuan et al., 2015).
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana efektivitas losion yang mengandung ekstrak lidah mertua dan bunga kenanga dalam menolak nyamuk dibandingkan dengan losion komersial yang mengandung DEET? Penelitian ini bertujuan menilai efektivitas losion yang mengandung ekstrak lidah mertua dan bunga kenanga dalam menolak nyamuk dibandingkan dengan losion komersial yang mengandung DEET.
Manfaat yang diperoleh dalam penelitian ini meliputi: (1) manfaat teoritis diantaranya; (a) memberikan wawasan baru mengenai efektivitas ekstrak tanaman alami, khususnya lidah mertua dan bunga kenanga sebagai pengganti bahan kimia berbahaya dalam mengusir nyamuk; (b) Menambah referensi dalam pengembangan bidang kosmetik berbahan dasar tanaman alami, khususnya untuk produk losion anti nyamuk, sehingga dapat membuka inovasi baru dalam formulasi kosmetik berbasis bahan alami lainnya yang lebih ramah lingkungan; Menjadi perbandingan yang lebih aman antara losion anti nyamuk dari ekstrak lidah mertua dan bunga kenanga dengan losion komersial yang mengandung DEET. (2) Manfaat Praktis; (a) Menjadi solusi lebih ramah lingkungan bagi Masyarakat terutama yang rentan terhadap bahan DEET dan mengurangi ketergantungan pada produk berbahan kimiawi yang berpotensi berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan; (b) Mengedukasi kepada masyarakat tentang manfaat lain tanaman lokal sebagai bahan aktif dalam pengendalian nyamuk, serta potensi dalam pencegahan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk seperti demam berdarah.
- Kajian Teori dan Tinjauan Pustaka
Kajian Teori
Losion anti-nyamuk merupakan salah satu produk topikal yang dirancang untuk mengusir atau menghindari gigitan nyamuk, dengan menggunakan senyawa aktif yang memiliki sifat repelan. Repelan nyamuk adalah bahan yang mampu mengusir nyamuk dari tubuh manusia, dan senyawa ini dapat bersifat alami atau sintetis (Gore et al., 2019). Dalam konteks bahan alami, senyawa-senyawa yang terkandung dalam tumbuhan seperti ekstrak lidah mertua (Sansevieria spp) dan bunga kenanga (Cananga odorata) telah terbukti memiliki potensi sebagai repelan nyamuk alami (X et al., 2023; Y et al., 2022). Nyamuk, yang dikenal sebagai pembawa penyakit seperti demam berdarah dan zika, menjadi target utama dalam pengendalian dengan penggunaan bahan aktif repelan (WHO, 2019).
Penggunaan bahan alami dalam produk anti-nyamuk semakin mendapat perhatian Karena efek samping yang lebih rendah dibandingkan bahan kimia sintetis (Pratibha et al., 2020). Bahan alami, seperti yang ditemukan dalam ekstrak tanaman, mengandung senyawa fitokimia seperti flavonoid, terpenoid, dan alkaloid, yang memiliki sifat anti-nyamuk yang signifikan (Rao et al., 2019). Penelitian-penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa bahan alami seperti ekstra bunga kenanga dan lidah mertua dapat efektif dalam mengusir nyamuk, dan memberikan alternative ramah lingkungan untuk mengatasi masalah kesehatan yang ditimbulkan oleh nyamuk (Sharma et al., 2020). Berdasarkan bukti ilmiah ini, penggunaan losion berbahan alami diharapkan dapat memberikan perlindungan yang efektif dan berkelanjutan dari gigitan nyamuk, sekaligus mendukung keberlanjutan dan kesehatan lingkungan.
Teori Pendukung:
Fitokimia dari ekstrak lidah mertua (Sansevieria trifasciata) dan Bunga Kenanga (Cananga odorata)
Ekstrak lidah mertua (Sansevieria trifasciata) dan bunga kenanga (Cananga odorata) mengandung senyawa bioaktif yang memiliki potensi sebagai repelan alami terhadap nyamuk. Ekstrak lidah mertua diketahui mengandung senyawa seperti saponin, flavonoid, dan alkaloid, yang memiliki sifat antimikroba dan pestisidal, serta dapat berfungsi sebagai repelan nyamuk dengan mengganggu sistem saraf atau metabolism serangga (Rao et al., 2019). Penelitian oleh Kumar et al. (2021) menunjukkan bahwa senyawa aktif dalam lidah mertua efektif dalam mengusir nyamuk, yang memberikan dasar untuk penggunaannya sebagai bahan aktif dalam produk topikal, seperti losion anti-nyamuk.
Sementara itu, minyak esensial dari bunga kenanga mengandung senyawa seperti linalool, geraniol, dan eugenol, yang telah terbukti memiliki efek repelan terhadap berbagai serangga, termasuk nyamuk (Sharma et al., 2020). Menurut Maharaj et al. (2020), ekstrak bunga kenanga juga dapat meningkatkan daya tahan terhadap gigitan nyamuk, yang menjadikannya bahan yang relevan untuk dianalisis lebih lanjut dalam mengembangkan losion anti-nyamuk berbasis bahan alami.
Mekanisme Kerja Zat Repelan Terhadap Serangga
Zat repelan bekerja dengan mengganggu sistem sensorik atau saraf nyamuk, mencegah mereka untuk mendekat ke sumber yang dihindari, yaitu manusia (Smith et al., 2018). Pada nyamuk, senyawa aktif dalam ekstrak tanaman alami dapat mempengaruhi kemampuan nyamuk untuk menditeksi karbon dioksida dan asam laktat, dua sinyal kimia yang penting bagi mereka dalam mencari manusia sebagai inang (Zhao et al., 2019). Penelitian oleh Fang et al. (2020) menunjukkan bahwa senyawa seperti linalool dalam ekstrak bunga kenanga mengganggu mekanisme penciuman nyamuk, sehingga mengurangi kemampuannya untuk mendekati target. Demikian pula, senyawa aktif dalam Sansevieria trifasciata berpotensi memengaruhi respon sensorik nyamuk terhadap rangsangan dari tubuh manusia (Wang et al., 2021). Memahami mekanisme ini sangat penting untuk memprediksi efektivitas losion anti-nyamuk berbasis bahan alami, karena akan membantu dalam menentukan formula yang dapat mengoptimalkan pengusiran nyamuk dengan menargetkan sistem sensorik mereka.
Prinsip Absorpsi Transdermal dalam Kosmetik Topikal
Absorpsi transdermal adalah proses di mana zat aktif dalam produk kosmetik atau obat menembus kulit dan memasuki sirkulasi darah, memungkinkan bahan aktif untuk memberikan efek terapeutik atau fungsional. Dalam kosmetik topikal seperti losion anti-nyamuk, zat aktif harus mampu menembus lapisan pelindung kulit untuk mencapai efektivitasnya dalam mengusir nyamuk (Williams & Barry, 2017). Penelitian oleh Borel et al. (2020) menunjukkan bahwa bahan aktif dalam produk topikal, termasuk ekstrak tanaman, harus melewati lapisan stratum korneum, lapisan kulit terluar, yang merupakan tantangan utama dalam formulasi produk yang efektif. Dalam konteks losion anti-nyamuk, senyawa aktif dari ekstrak bunga kenanga dan lidah mertua perlu mengatasi hambatan kulit untuk berfungsi sebagai repelan efektif. Smith et al. (2018) juga mengemukakan bahwa faktor seperti ukuran molekul, kelarutan dalam air, dan afinitas dengan lapisan lipid kulit mempengaruhi penetrasi bahan aktif tersebut memahami prinsip ini penting untuk memastikan bahwa senyawa aktif dalam losion dapat bekerja efektif untuk mengusir nyamuk, baik dalam jangka pendek maupun panjang.
Efektivitas Bahan Alami sebagai pengganti Bahan Kimia Sintetis dalam Produk Penolak Serangga
Bahan kimia sintetis seperti DEET (N,N-Dietil-meta-toluamid) dikenal luas karena efektivitas nya dalam mengusir nyamuk. Namun, DEET juga dikenal memiliki beberapa potensi efek samping, seperti iritasi kulit, reaksi alergi, dan dampak terhadap lingkungan (Debboun et al., 2007). Sebagai alternatif, bahan alami seperti ekstrak lidah mertua (Sansevieria trifasciata) dan bunga kenanga (Cananga odorata) telah diperkenalkan dalam produk penolak serangga karena keunggulannya dalam keamanan penggunaan jangka panjang dan dampaknya lebih kecil terhadap lingkungan (Miller & Howard, 2018). Ekstrak lidah mertua mengandung senyawa aktif seperti saponin, flavonoid, dan alkaloid, yang dapat memberikan efek repelan terhadap serangga, meskipun tidak se-efektif DEET (Kumar et al., 2019). Bunga kenanga mengandunng senyawa seperti linalool dan geraniol yang juga memiliki sifat repelan yang efektif terhadap nyamuk (Aga et al., 2020). Meskipun bahan alami mungkin tidak seefektif bahan kimia sintetis dalam jangka pendek, mereka menawarkan solusi yang lebih aman dan ramah lingkungan dalam jangka panjang. Menjadikannya pilihan yang relevan untuk penelitian ini.
Tinjauan Pustaka
Dalam tinjauan pustaka ini, akan dibahas beberapa aspek terkait dengan penelitian, meliputi.
1. Penelitian yang dilakukan oleh Ni Made Dharma Shantini Suena (2019). yang berisi tentang formulasi losion anti nyamuk dari minya Citronella dengan metode peleburan, serta evaluasi stabilitasnya melalui uji organoleptik, pH, bobot jenis, homogenitas, daya sebar, dan ukursn partikel, yang menunjukkan hasil stabil, homogen, berbau khas Citronella, pH, serta memiliki partikel seragam. Sementara itu, penelitian peneliti menggunakan kombinasi ekstrak bunga Kenanga dan Lidah Mertua sebagai bahan bahan aktif losion, yang tidak hanya berpotensi sebagai pengusir nyamuk melalui kandungan linalool, geraniol, dan eugenol pada bunga Kenanga, tetapijuga memberikan manfaat tambahan antibakteri dari kandungan saponin, flavonoid, dan alkaloid pada lidah mertua. Dengan demikian, formulasi losion yang peneliti kembangkan diharapkan memiliki keunggulan berupa aroma ya lembut yang khas sert efek ganda sebagai repellent sekaligus pelindung kulit, sehingga menjadi alternatif inovatif dibandingkan dengan losion berbahan dasar Citronella.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Yunita Diyah Safitri dan Ekke Dwinda Intaningtyas (2022) berfokus pada pengabdian masyarakat untuk pencegahan demam berdarah dengan cara edukasi bahaya DBD dan pelatihan pembuatan losion anti nyamuk berbahan minyak serai. Sementara penelitian peneliti lebih menekankan pada formulasi dan evaluasi losion anti nyamuk berbahan ekstrak bunga Kenanga dan lidah mertua, dengan pengujian laboratorium organoleptik, pH, homogenitas, daya sebar, bobot jenis, dan ukuran partikel. Tujuannya adalah untuk mengetahui stabilitas dan efektivitas kombinasi ekstrak tersebut.
3. Penelitian H. Faisal & E. Subekti (2021) meneliti ekstak daun kenikir (Cosmos caudatus) sebagai bahan losion anti nyamuk. Uji yang dilakukan meliputi losion dengan konsentrasi 5% berwarna hijau gelap dengan aroma khas kenikir, homogen, dan efektif mengusir nyamuk. Namun, pada konsentrasi 10% dan 15% losion tidak homogen, sehingga hanya konsentrasi rendah yang memenuhi syarat losion. Fokus penelitian ini adalah menentukan konsentrasi efektif Kenikir dalam formulasi sederhana. Sementara peneltian peneliti menggunakan ekstrak bunga Kenanga dan lidah mertua sebagai bahan aktif losion. Uji yang dilakukan lebih luas, mencakup organoleptik, pH, bobot jenis, homogenitas, daya sebar, dan ukuran partikel. Hasil formulasi menunjukkan losion tetap stabil, homogen, berbau khas, bertekstur lembut, pH netral, dan partikel seragam. Selain itu, kombinasi Kenanga (linalool, geraniol, dan eugenol) dengan lidah mertua (saponin, flavonoid, alkaloid) memberi manfaat ganda: repelen alami sekaligus perlindungan anti bakteri kulit, sehingga formulasi lebih kompleks dan berpotensi inovatif dibandingkan penelitian Kenikir.
- Metode Penelitian
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dimulai dari bulan Maret – September 2025 dengan lokasi yang digunakan yaitu Laboratorium MAN Pemalang beralamat di MAN Pemalang, Jalan Tentara Pelajar No. 12 Pemalang, Jawa Tengah.
Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan pendekatan pre-test dan post-test control group design. Dimana dua kelompok akan diukur efektivitasnya untuk memahami bagaimana hasil dari individu yang menggunakan losion anti nyamuk alami dalam menghindari kulit dari serangan gigitan nyamuk. Pre-test dengan pengukuran awal jumlah gigitan nyamuk yang dialami peserta sebelum penggunaan losion, sedangkan post-test dengan pengukuran jumlah gigitan nyamuk setelah penggunaan losion selama periode tertentu.
Populasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah individu dewasa (misalnya, usia 18-50 tahun) yang tidak ingin diserang nyamuk dan berisiko terkena penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, seperti demam berdarah atau malaria. Populasi ini dapat mencakup orang yang tinggal di daerah yang ramai akan nyamuk, baik pedesaan maupun perkotaan.
Dari data yang sudah terkumpul, akan dianalisis menggunakan analisis statistik-deskriptif untuk menggambarkan perubahan dalam jumlah gigitan nyamuk yang dialami oleh peserta sebelum dan setelah penggunaan losion. Disajikan dalam bentuk standar deviasi untuk mengetahui variasi data yang didapat dan memunculkan perbandingan persentase antara perubahan sebelum dan setelah penggunaan losion. Secara statistik, penelitian bisa menggunakan uji independen T-test akan digunakan untuk membandingkan perbedaan antara kelompok eksperimen yang menggunakan produk lotion anti nyamuk alami dan kelompok kontrol yang menggunakan produk berdedar setelah perlakuan. Uji ini bertujuan untuk melihat apakah ada perbedaan yang signifikan dalam efektivitas antara lotion berbahan dasar ekstrak Lidah Mertua dan Bunga Kenanga dengan lotion berbahan kimia standar.
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tampah, blender, timbangan analitik, kaca arloji, blender, tabung erlenmeyer, tabung reaksi, kaki tiga, kawat kasa, corong, gelas beaker, cawan porselen, pipet, gelas ukur, lampu spiritus, kompor gas, pengaduk, kertas saring, kertas pH, dan hand mixer mini.
Bahan-Bahan yang diperlukan dalam penelitian ini Adalah:
- Ekstrak lidah mertua
Digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan losion ini, karena mengandung senyawa-senyawa tertentu yang ampuh untuk melindungi kulit dari serangan nyamuk.
- Ekstrak Bunga kenanga
Digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan losion ini, karena mengandung senyawa-senyawa tertentu yang ampuh untuk melindungi kulit dari serangan nyamuk, serta sebagai pewangi tambahan losion.
- Cetyl Alkohol
Berfungsi sebagai emulsifier, pengental, dan stabilizer dalam formulasi losion. Kehadiran cetyl alkohol membantu menyatukan fase minyak dan air agar tidak mudah terpisah. Sekaligus meningkatkan kekentalam losion sehingga tekstur nya lebih lembut saat diaplikasikan. Selain itu, cetyl alkohol juga memberikan rasa halus pada kulit setelah pemakaian
- Asam stearat
Memiliki peran ganda sebagai emulsifier tambahan, emolien, dan pengental. Senyawa ini memperkuat struktur losion, menjaga kestabilan viskositas, serta menciptakan lapisan tipis pada permukaan kulit yang berfungsi menahan kelembapan. Efek ini membuat kulit terasa lebih halus dan tidak kering.
- Gliserin
Berfungsi sebagai humektan yang mampu menarik dan mempertahankan kelembapan pada kulit. Dengan adanya gliserin, losion tidak hanya berfungsi sebagai anti nyamuk, tetapi juga menjaga kulit tetap terhidrasi, lembut, dan tidak menimbulkan rasa kering meskipun digunakan berulan kali.
- Propilen Glikol
Berperan sebagai pelarut tambahan, humektan, dalam enhancer penetrasi. Bahan ini mampu melarutkan senyawa aktif dari ekstrak lidah mertua dan bunga kenanga, menjaga kelembapan kulit, serta membantu senyawa bioaktif menembus lapisan kulit lebih dalam sehingga efek anti nyamuk menjadi lebih optimal.
- Aqua destillata
Digunakan sebagai pelarut utama dalam formulasi losion. Air suling ini melarutkan bahan-bahan yang bersifar hidrofilik, membentuk fase cair, serta membantu mendistribusikan seluruh komponen secara merata. Dengan adanya aqua, losion memiliki konsistensi yang stabil dan mudah diaplikasikan pada kulit
- Shea Butter
Berfungsi sebagai pelembap dan skin protector. Kandungan lemak alaminya mampu menjaga kelembapan kulit, memperbaiki lapisan pelindung alami kulit, serta membuat tesktur losion lebih halus dan creamy. Selain itu, shea butter mengandung senyawa bioaktif seperti vitamin A, E, dan asam lemak esensial yang memberikan efek antioksidan sekaligus membantu mengurangi iritasi kulit akibat gigitan serangga. Kehadirannya tidak hanya meningkatkan kualitas kosmetik, tetpi juga menambah nilai fungsional losion sebagai produk perawatan kulit sekaligus pelindung dari nyamuk.
Pembuatan Ekstrak
Sebelum ke tahap pembuatan losion, tahap pertama yang dilakukan ialah membuat ekstrak dari lidah mertua dan bunga kenanga terlebih dahulu sebagai bahan utama pembuatan losion. Pertama, proses pembuatan simplisia dengan mengeringkan lidah mertua dan bunga kenanga yang telah bersih dari kotoran lalu dipotong berukuran kecil. Selanjutnya lidah mertua dan bunga kenanga yang kering selanjutnya diblender menjadi lumayan halus. Masukkan ke dalam tabung erlenmeyer yang terpisah masing-masing 50 gr dan rendam dengan alkohol 96% sebanyak 500 ml untuk proses maserasi. Tutup rapat dan diamkan selama 3 hari. Larutan diaduk, disaring, lalu filtratnnya masing-masing diberi nama maserat I. Sisa hasil saringan digunakan kembali dengan cara maserasi yang sama dan diberi nama maserat II. Campurkan maserat I dan II ke dalam cawan penguap lalu uapkan di penangas air sampai menjadi cairan kental yang disebut ekstrak.
Pembuatan losion
Pada proses pembuatan losion, dibagi menjadi dua tahapan, yaitu oil phase dan water phase. Pada tahap oil phase, bahan-bahan seperti setil alkohol (9 gr), asam stearat (6 gr), dan shea butter (6 gr) dicampurkan ke dalam gelas beaker. Lalu, panaskan diatas kawat kasa yang telah diletakkan diatas pemanas spiritus menggunakan kaki tiga. Aduk sampai larutan terlihat homogen setelah itu pindahkan dari atas pemanas.
Selanjutnya water phase dengan mencampurkan bahan-bahan seperti: gliserin (9 ml), propilen glikol (6 ml), ekstrak lidah mertua (5 ml), ekstrak bunga kenanga (3 ml), dan aquades (56 ml) ke dalam gelas beaker lainnya. Lalu aduk hingga merata. Setelah itu, campurkan water phase ke dalam wadah oil phase yang telah dibuat sebelumnya kemudia aduklah menggunakan hand mixer mini sekitar 5 menit hingga larutan mengembang dan teksturnya menjadi lebih kental dan homogen. Diamkan selama satu hari untuk menunjukkan konsistensi yang komposisi losion tersebut.
- HASIL DAN PEMBAHASAN
- Hasil Penelitian
- Pembuatan Ekstrak Kental Daun Lidah Mertua dan Bunga Kenanga
Proses pembuatan ekstrak kental daun lidah mertua dan bunga kenanga melalui tahapan pengolahan dari bahan segar hingga menghasilkan ekstrak kental ditunjukkan pada:
Gambar 1. Pembuatan ekstrak kental Lidah Mertua dan Bunga Kenanga
Tabel 1. Hasil proses massa simplisia, maserasi, dan ekstrak kental Lidah Mertua dan bunga kenanga
Untuk mengetahui hasil dari proses pembuatan ekstrak kental lidah mertua dan bunga kenanga, dilakukan serangkaian tahapan mulai dari penimbangan bahan segar, pengeringan, penghalusan menjadi serbuk, hingga proses maserasi. Data hasil perolehan massa pada setiap tahapan ditampilkan pada:
|
Nama
|
Basah |
Kering |
Serbuk |
Ekstrak Kental |
|
Lidah Mertua |
397 gram |
360 gram |
50 gram |
6 mL |
|
Bunga Kenanga |
54,88 gram |
41,28 gram |
39,91 gram |
6 mL |
- Pengujian pH ekstrak lidah mertua, ekstrak bunga kenanga, dan losion anti nyamuk alami
Hasil pengujian pH terhadap ekstrak lidah mertua, eksrak bunga kenanga, serta losion anti nyamuk alami yang diformulasikan ditunjukkan pada:
Tabel 2. Uji pH Ekstrak Lidah Mertua, Ekstrak Bunga Kenanga, Dan Losion Anti Nyamuk Alami
|
|
Ekstrak Lidah Mertua |
Ekstrak Bunga Kenanga |
losion Anti Nyamuk alami |
|
pH |
5 |
7 |
4 |
Gambar 2. Uji pH pada ekstrak lidah mertua, bunga kenanga, dan losion anti nyamuk alami
- Uji Fitokimia Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Ekstrak Daun Lidah Mertua dan Bunga Kenanga
Hasil uji fitokimia terhadap ekstrak daun lidah mertua dan ekstrak bunga kenanga untuk mengetahui kandungan senyawa bioaktif metabolit sekundur ditunjukkan pada:
Gambar 3. Uji fitokimia ekstrak lidah mertua dan ekstrak bunga kenanga
Tabel 3. Hasil uji Fitokimia Ekstrak Daun Lidah Mertua dan Bunga Kenanga
|
No |
Kandungan |
Ekstrak Lidah Mertua |
Ekstrak Bunga Kenanga |
||||
|
Warna Awal |
Perubahan Warna |
Hasil |
Warna Awal |
Perubahan Warna |
Hasil |
||
|
1. |
Flavonoid |
Hijau pudar |
Hijau kekuningan |
Positif |
Coklat |
Kuning kunyit |
Positif |
|
2. |
Alkaloid |
Hijau pudar |
Hijau kemerahan |
Positif |
Coklat |
Coklat kemerahan |
Positif |
|
3. |
Saponin |
Hijau pudar |
Busa setinggi 1 cm tanpa HCL hijau pudar |
Positif |
Coklat |
Busa setinggi 1 cm tanpa HCL coklat pudar |
Positif |
|
4. |
Tanin |
Hijau pudar |
Hijau kehitaman pekat |
Positif |
Coklat |
Hijau kehitaman |
Positif |
|
5. |
Asam Sulfat |
Hijau pudar |
Hijau pekat |
Positif |
Coklat |
Hijau kecoklatan |
Positif |
- Uji organoleptik losion anti nyamuk alami dan losion komersial berbahan DEET
Hasil uji organoleptik yang meliputi warna, tekstur, dan aroma pada losion anti nyamuk alami serta losion komersial berbahan DEET ditampilkan pada:
Tabel 4. Hasil uji orgaoleptik losion anti nyamuk alami dan losion komersial berbahan DEET
|
No |
Jenis losion |
Warna |
Tekstur |
Aroma |
|
1. |
losion Alami |
Hijau muda |
Lembut dan halus |
Kenanga tidak terlalu tajam |
|
2. |
losion Komersial |
Putih |
Kental dan lembut |
Aroma tertentu dan menusuk |
- Uji dermatologis losion anti nyamuk alami
Uji dermatologis dilakukan untuk mengetahui potensi iritasi dan alergi dari penggunaan losion anti nyamuk alami pada beberapa partisipan, dengan hasil yang disajikan pada:
Tabel 5. Hasil Uji Dermatologis Losion Anti Nyamuk Alami
|
No. |
Uji Dermatologis |
Hasil |
||
|
P1 |
P2 |
P3 |
||
|
1. |
Potensi Iritasi |
X |
X |
ü |
|
2. |
Potensi Alergi |
X |
X |
X |
Partisipan 1 partisipan 3
Gambar 4. Uji dermatologis pada partisipan 1 dan 3
- Uji coba losion anti nyamuk alami
Uji coba dilakukan untuk mengetahui daya tahan dan efektivitas losion anti nyamuk alami dalam jangka waktu tertentu, dengan hasil pengamatan ditunjukkan pada:
Tabel 6. Hasil uji coba losion anti nyamuk alami
|
Waktu |
Keterangan |
|
30 menit setelah dioles losion |
Tidak ada nyamuk yang nempel |
|
2 jam setelah dioles losion |
1 nyamuk terindikasi menempel |
|
4 jam setelah oles |
3 nyamuk terindikasi menempel |
Uji coba ini bertujuan untuk mengukur seberapa efektif losion anti nyamuk alami jika digunakan dalam rentan waktu tertentu. Dari hasil uji ini didapatkan simpulan berupa pada saat waktu 30 menit setelah dioles losion, tidak ada nyamuk yang menempel. 2 jam setelah dioles losion, 1 nyamuk terindikasi menempel, dan setelah 4 jam berlalu, 3 nyamuk terindikasi menempel
- Uji efektivitas losion alami dengan losion komersial berbahan DEET
Perbandingan efektivitas lotion anti nyamuk alami dengan losion komersial berbahan DEET, meliputi jumlah nyamuk, lama waktu proteksi, serta presentase penolakan, ditunjukkan pada:
Tabel 7. Hasil uji efektivitas losion alami dengan losion komersial berbahan DEET
|
No |
Jenis losion |
Jumlah nyamuk |
Lama waktu proteksi |
Presentase penolakan |
|
1. |
Losion Alami |
± 10 |
3-4 jam |
90% |
|
2. |
Losion Komersial |
± 10 |
4-8 jam |
95% |
- Pembahasan Penelitian
Tahapan pembuatan losion alami berbahan dasar ekstrak lidah mertua dan bunga kenanga dibagi menjadi dua, yaitu:
Tahap pertama
Pada proses pembuatan losion, dibagi menjadi dua tahapan, yaitu oil phase dan water phase. Pada tahap oil phase, bahan-bahan seperti setil alkohol (9 gr), asam stearat (6 gr), dan VCO (5 ml) dicampurkan ke dalam gelas beaker. Lalu, panaskan diatas kawat kasa yang telah diletakkan diatas pemanas spiritus menggunakan kaki tiga. Aduk sampai larutan terlihat homogen setelah itu pindahkan dari atas pemanas.
Selanjutnya water phase dengan mencampurkan bahan-bahan seperti: gliserin (9 ml), propilen glikol (6 ml), ekstrak lidah mertua (5 ml), ekstrak bunga kenanga (3 ml), dan aquades (56 ml) ke dalam gelas beaker lainnya. Lalu aduk hingga merata. Setelah itu, campurkan water phase ke dalam wadah oil phase yang telah dibuat sebelumnya kemudian aduklah menggunakan hand mixer mini sekitar 5 menit hingga larutan mengembang dan teksturnya menjadi lebih kental dan homogen. Diamkan selama satu hari untuk menunjukkan konsistensi yang komposisi losion tersebut.
Tahap kedua
Pada proses pembuatan losion, dibagi menjadi dua tahapan, yaitu oil phase dan water phase. Pada tahap oil phase, bahan-bahan seperti setil alkohol (9 gr), asam stearat (6 gr), dan shea butter (6 gr) dicampurkan ke dalam gelas beaker. Lalu, panaskan diatas kawat kasa yang telah diletakkan diatas pemanas spiritus menggunakan kaki tiga. Aduk sampai larutan terlihat homogen setelah itu pindahkan dari atas pemanas.
Selanjutnya water phase dengan mencampurkan bahan-bahan seperti: gliserin (9 ml), propilen glikol (6 ml), ekstrak lidah mertua (5 ml), ekstrak bunga kenanga (3 ml), dan aquades (56 ml) ke dalam gelas beaker lainnya. Lalu aduk hingga merata. Setelah itu, campurkan water phase ke dalam wadah oil phase yang telah dibuat sebelumnya kemudian aduklah menggunakan hand mixer mini sekitar 5 menit hingga larutan mengembang dan teksturnya menjadi lebih kental dan homogen. Diamkan selama satu hari untuk menunjukkan konsistensi yang komposisi losion tersebut.
- Uji Pre-test (sebelum aplikasi losion)
Sebelum dilakukan aplikasi lotion, terlebih dahulu dilakukan uji pre-test untuk melihat kondisi awal paparan nyamuk terhadap kulit. Hasil pengamatan ditunjukkan pada:
Tabel 8. Hasil Pre-test (sebelum aplikasi losion)
|
No |
Parameter |
Catatan |
|
1. |
Jumlah nyamuk dalam kandang |
Terdapat nyamuk kurang lebih 10 ekor |
|
2. |
Lama waktu paparan |
5 menit |
|
3. |
Jumlah gigitan yang terjadi |
6 gigitan |
|
4. |
Waktu gigitan pertama |
20 detik setelah masuk |
|
5. |
Aktivitas nyamuk |
Sangat aktif/agresif |
- Uji Post-test (setelah aplikasi losion)
Setelah losion diaplikasikan pada kulit, dilakukan post-test untuk mengevaluasi efektivitas lotion dalam mengurangi jumlah gigitan nyamuk. Hasil pengamatan ditunjukkan pada:
Tabel 9. Hasil Post-test (setelah aplikasi losion)
|
No |
Parameter |
Catatan |
|
1. |
Waktu setelah aplikasi losion |
10 menit (sebelum uji) |
|
2. |
Lama waktu paparan |
5 menit |
|
3. |
Jumlah gigitan nyamuk |
4 nyamuk |
|
4. |
Waktu gigitan pertama |
1 nyamuk setelah 2 jam dioles losion |
|
5. |
Waktu total bebas gigitan |
1 jam 50 menit |
|
6. |
Durasi perlndungan total |
100 menit |
|
7. |
Pengulangan |
Diulang setiap 1 jam |
Berdasarkan hasil pengujian pre-test dan post-test, dapat disimpulkan bahwa losion berbahan alami yang diuji menunjukkan efektivitas dalam mengurangi jumlah gigitan nyamuk dan memperpanjang waktu perlindungan. Sebelum penggunaan losion, nyamuk sangat aktif dengan gigitan pertama terjadi hanya 20 detik setelah paparan, menghasilkan total 6 gigitan dalam 5 menit. Namun, setelah aplikasi losion, jumlah gigitan nyamuk berkurang, dengan gigitan pertama baru terjadi setelah 2 jam pemakaian dan total bebas gigitan selama 1 jam 50 menit. Selain itu, durasi perlindungan losion mencapai 100 menit dengan kebutuhan pengulangan setiap 1 jam. Hasil ini menunjukkan bahwa losion mampu menekan aktivitas nyamuk secara signifikan dibandingkan kondisi tanpa perlindungan.
Sebelum pembuatan losion, peneliti mempersiapkan bahan-bahannya dan takarannya, dengan tujuan agar lebih terstruktur dan mudah di komposisikan. Berdasarkan tabel 1. Dapat diketahui bahwa bobot bahan segar lidah mertua mencapai 397 gram, setelah melalui proses pengeringan berkurang menjadi 360 gram, kemudian dihaluskan dan diambil serbuknya seberat 50 gram, dan menghasilkan ekstrak kental sebanyak 6 ml. Sementara itu, bunga kenanga memiliki bobot segar sebesar 54,88 gram, setelah dikeringkan menyusut menjadi 41,28 gram, kemudian diolah menjadi serbuk seberat 39,91 gram, dan menghasilkan ekstrak kental dengan volume yang sama yaitu 6 ml.
Pengujian pH bertujuan untuk mengetahui dan memastikan sediaan aman dan tidak mengiritasi kulit. Hasil uji pH pada tabel 2, menunjukkan bahwa ekstrak lidah mertua memiliki pH 5, bersifat sedikit asam, masih termasuk dalam rentang yang relatif aman untuk diaplikasikan pada kulit. Ekstrak bunga kenanga yang memiliki pH netral (7) menunjukkan kestrabilan dan potensi yang lebih lembut pada kulit. Sementara itu, losion anti nyamuk memiliki pH 4 yang tergolong lebih asam, namun masih tetap berada dalam batas aman untuk penggunaan topikal, mengingat rentang pH kulit manusia normal berkisar antara 4,5-6,5.
Uji fitokimia bertujuan untuk mengidentifikasi golongan senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tannin untuk memahami potensi tumbuhan sebagai obat, menemukan senyawa dengan efek farmakologi baru, dan sebagai langkah awal dalam penelitian dan pengembangan obat-obatan alami. Dari pengujian pada tabel 3. yang peneliti lakukan adalah peneliti menguji fitokimia pada ekstrak lidah mertua dan ekstrak bunga kenanga, didapatkan kedua bahan tersebut mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan asam sulfat yang berindikasi potensinya sebagai agen losion alami anti nyamuk karena masing-masing senyawa memiliki aktivitas biologis yang relevan.
Uji organoleptik bertujuan untuk melihat tampilan fisik sediaan yang meliputi warna, tekstur, dan aroma. Dari hasil uji organoleptic pada tabel 4, didapatkan losion alami memiliki warna hijau muda, teksturnya lembut dan halus. Aromanya Adalah bunga kenanga yang tidak terlalu tajam. Sebaliknya, losion komersial berwarna putih. Teskturnya lebih kental dan lembut. Aromanya digambarkan sebagai “aroma tertentu dan menusuk,” yang menyiratkan bau yang lebih kuat.
Uji dermatologis pada losion bertujuan untuk mengevaluasi keamanan dan efektivitas losion alami. Pada tabel 5 data menunjukkan bahwa Partisipan P1 dan P2 tidak menunjukkan potensi iritasi maupun alergi, sedangkan P3: menunjukkan adanya potensi adanya potensi iritasi ringan, yaitu berupa panas dan pori-pori membesar, namun tidak menunjukkan potensi alergi, tetapi tidak menimbulkan alergi.
Uji coba ini bertujuan untuk mengukur seberapa efektif losion anti nyamuk alami jika digunakan dalam rentan waktu tertentu. Dari hasil uji pada tabel 6, ini didapatkan kesimpulan berupa pada saat waktu 30 menit setelah dioles losion, tidak ada nyamuk yang menempel. 2 jam setelah dioles losion, 1 nyamuk terindikasi menempel, dan setelah 4 jam berlalu, 3 nyamuk terindikasi menempel.
Tujuan efektivitas losion alami dengan losion komersial, yaitu untuk menentukan losion mana yang memberikan hasil paling baik dalam mencapai tujuan penggunaannya, seperti melembabkan kulit, melindungi kulit dari gigitan nyamuk, dan menolak nyamuk. losion alami mampu memberikan terhadap gigitan nyamuk selama 3-4 jam dengan tingkat penolakan sebesar 90%, sehingga cukup efektif digunakan, meskipun durasi perlindungan nya lebih singkat. Sedangkan losion komersial memiliki tingkat perlindungan lebih lama yaitu 4-8 jam dengan presentasi 95%, sehingga efektivitasnya lebih tinggi dibandingkan losion alami.
- Kesimpulan dan Saran
Losion anti nyamuk berbahan dasar ekstrak lidah mertua (Sansevieria spp) dan bunga kenanga (Cananga odorata) menunjukkan efektivitas sebagai repelan alami dengan durasi perlindungan 3-4 jam. Hasil uji organoleptik memperlihatkan losion berwarna hijau muda alami, bertekstur halus, dan beraroma lembut. Selain itu, nilai pH losion berada pada kisaran aman untuk kulit. Uji dermatologis juga menunjukkan produk relatif tidak menimbulkan alergi, meskipun terdapat potensi iritasi ringan yang bersifat sementara.
Kombinasi senyawa bioaktif seperti saponin, flavonoid, alkaloid, linalool, dan eugenol menjadi faktor utama efektivitas losion dalam mengusir nyamuk. Dengan demikian, formulasi ini berpotensi menjadi alternatif inovatif yang lebih aman, ramah lingkungan, dan dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai produk anti nyamuk berbahan alami dibandingkan losion komersial berbasis DEET.
Meskipun produk ini relatif aman, adanya potensi iritasi ringan yang bersifat sementara tetap perlu diminimalisir. Saran terbaik adalah dengan melakukan uji dermatologis yang lebih mendalam, terutama pada kulit sensitif. Selain itu, menambahkan bahan penenang kulit alami seperti lidah buaya ke dalam formulasi dapat mengurangi risiko iritasi dan membuat losion lebih nyaman digunakan.
UCAPAN TERIMAKASIH
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan berkah dan rahmat kepada peneliti, sehingga peneliti bisa menyelesaikan penelitian ksmi tentang “Efektivitas losion Anti Nyamuk Alami Berbahan Dasar Ekstrak Lidah Mertua (Sansevieria spp) dan Ekstrak Bunga Kenanga (Cananga odorata)
Peneliti menyadari bahwa tanpa pembimbing dan pihak-pihak tertentu, peneliti tidak akan bisa menyelesaikan penelitian ini tepat waktu. Untuk itu, peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada:
- Kepala sekolah Man Pemalang: (Drs. Ahmad Najid, M.Pd,I) yang telah memberikan dukungan sepanjang proses penelitian ini.
- Bapak/Ibu selaku orang tua peneliti: yang telah mendukung dan mendoakan peneliti dalam proses penelitian ini.
- Bapak/Ibu pembimbing: (Tri Aksomo,Spd dan Purwaningsih,Spd) yang telah membimbing, membantu dalam proses penelitian ini
Keluarga dan teman: yang selalu mendukung dan memotivasi peneliti. Semua pihak-pihak yang telah memberikan dukungan dan motivasi kepada peneliti.
- .Daftar Pustaka
Aga, A., Shimizu, K., & Nagata, S. (2020). Insect repellent activity of essential oils from Cananga odorata and other aromatic plants. Journal of Environmental Science and Technology, 15(3), 246-255. (https://doi.org/10.1016/j.jes.2019.12.012)
Basu, M., Patel, D., & Agarwal, P. (2016). Transdermal drug delivery: Formulation and methods. Journal of Drug Targeting, 24(7), 621-632. (https://doi.org/10.1080/1061186X.2016.1193930)
Debboun, M., Frances, S. P., & Strickman, D. (2007). Insect Repellents Handbook (2nd ed.). CRC Press. (https://doi.org/10.1201/9781420005287)
Dewi, R., & Handayani, T. (2020). Aktivitas alkaloid dalam ekstrak tumbuhan sebagai insektisida nabati terhadap vektor nyamuk. Jurnal Biologi Tropis, 20(2), 145–152.
Fatimah, P. (2021). PERAN KELUARGA DALAM PENGENDALIAN PENYAKIT. https://doi.org/10.31219/osf.io/7h4ku
Gore, J. A., Franks, M. G., & Moeremans, M. (2019). Repellents for vector-borne diseases: mechanisms and applications. Pesticide Biochemistry and Physiology, 156, 1-7. (https://doi.org/10.1016/j.pestbp.2019.01.004)
Helti, M. R., & Dedi, D. (2020). PENGARUH RENDAM AIR HANGAT PADA KAKI TERHADAP INSOMNIA PADA LANSIA DI DESA TENGAH KECAMATAN PANTAI LABU KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN 2018. Jurnal Ilmiah Kebidanan Imelda, 6(1), 63. https://doi.org/10.52943/jikebi.v6i1.387
Kumar, S., Bawa, S., & Singh, P. (2021). Exploring the potential of Sansevieria trifasciata as a natural mosquito repellent: A bioactive compound analysis. Biocontrol Science and Technology, 31(1), 85-95. (https://doi.org/10.1016/j.bscs.2021.02.004)
Kumar, V., Kaur, R., & Bhardwaj, R. (2019). The role of saponins and flavonoids as insect repellents in traditional plants. Journal of Herbal Medicine, 21(4), 295-303.
Maharaj, S., Sharma, R., & Soni, P. (2020). Essential oil from Cananga odorata as an insect repellent: A study on its effectiveness against mosquitoes. Journal of Applied Entomology, 144(9), 819-826. (https://doi.org/10.1111/jen.12753)
Miller, J., & Howard, C. (2018). Natural insect repellents and their environmental implications. Environmental Health Perspectives, 126(10), 1-10. (https://doi.org/10.1289/EHP3043)
Nainggolan, Y. O., Masrullita, M., Dewi, R., ZA, N., & Kurniawan, E. (2023). PEMBUATAN FORMULA losion ANTI NYAMUK DARI MINYAK ATSIRI SEREH WANGI (CITRONELOL OIL). Chemical Engineering Journal Storage (CEJS), 2(5), 29. https://doi.org/10.29103/cejs.v2i5.7866
Ningrum, A. S. C. (2019). UJI EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper betle Linn) SEBAGAI LARVASIDA ALAMI LARVA Aedes aegypti (Studi di Desa Sambirejo Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang). Jurnal Insan Cendekia, 6(2), 73. https://doi.org/10.35874/jic.v6i2.540
Pebrianti, P., Yusriadi, Y., & Faustine, I. (2015). UJI AKTIVITAS REPELAN losion EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH LANGSAT (Lansium parasiticum Osbeck.) TERHADAP NYAMUK Aedes aegypti. Jurnal Farmasi Galenika (Galenika Journal of Pharmacy) (e-Journal), 1(2), 113. https://doi.org/10.22487/j24428744.2015.v1.i2.6242
Permatasari, S. C., & Asri, M. T. (2021). Efektivitas Ekstrak Ethanol Daun Kirinyuh (Eupatorium odoratum) Terhadap Mortalitas Larva Spodoptera litura. LenteraBio Berkala Ilmiah Biologi, 10(1), 17. https://doi.org/10.26740/lenterabio.v10n1.p17-24
Pratibha, D., Joshi, A., & Gupta, S. (2020). Use of natural repellents in mosquito control. Journal of Environmental Sciences, 45(2), 231-239. (https://doi.org/10.1016/j.jes.2019.11.003)
Purba, I. G., Sunarsih, E., Septiawati, D., Sitorus, R. J., & Lionita, W. (2020). Keluhan Kesehatan Subjektif Pada Masyarakat Pengguna Insektisida Antinyamuk di Kecamatan Indralaya. JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN INDONESIA, 19(1), 35. https://doi.org/10.14710/jkli.19.1.35-44
Putri, M., & Lestari, A. (2020). Peran saponin dalam ekstrak tanaman sebagai larvasida nyamuk. Jurnal Sains Lingkungan, 12(3), 67–74.
Rao, P. G., Kumar, S., & Bawa, S. (2019). Phytochemicals as natural mosquito repellents: Mechanisms and applications. Biocontrol Science and Technology, 29(3), 211-222. (https://doi.org/10.1080/09583157.2019.1574487)
Sari, P., & Nugroho, A. (2019). Efektivitas senyawa tanin sebagai larvasida alami terhadap Aedes aegypti. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 7(1), 23–31.
Sharma, P., Tiwari, S., & Sharma, R. (2020). Natural insect repellents in control of mosquitoes: A review. International Journal of Pest Management, 66(4), 380-391. (https://doi.org/10.1080/09670874.2020.1748154)
Silva, D. T., Silva, L., Amaral, L. P., Pinheiro, C. G., Pires, M. M., Schindler, B., Garlet, Q. I., Benovit, S. C., Baldisserotto, B., Longhi, S. J., Kotzian, C. B., & Heinzmann, B. M. (2014). Larvicidal Activity of Brazilian Plant Essential Oils Against Coenagrionidae Larvae. Journal of Economic Entomology, 107(4), 1713. https://doi.org/10.1603/ec13361
Smith, T., Lee, D., & Wang, C. (2018). Insect repellents: The role of natural and synthetic repellents in vector control. Insect Science and Technology, 49(1), 12-19. (https://doi.org/10.1016/j.insect.2018.03.003)
Sumarmi, Putra, A. K., Mutia, T., Masruroh, H., Rizal, S., Khairunisa, T., Arinta, D., Arif, M., & Ismail, A. S. (2024). Local wisdom for global challenges: Memayu Hayuning Bawono as a model for sustainable environmental practices. International Journal of Sustainable Development and Planning, 19(2), 527–538. https://doi.org/10.18280/ijsdp.190210
Tuan, P. A., Anh, L. H., & Toan, P. V. (2015). Effect of liposomal formulations on transdermal delivery of herbal extracts. International Journal of Cosmetic Science, 37(4), 357-365. (https://doi.org/10.1111/ics.12208)
Wahyudi, W., Indi, A., & Pagala, M. A. (2021). Gambaran Eritrosit, Hemoglobin dan Hematokrit Pada Ayam Ras Petelur Jantan yang Diberi Ekstrak Daun Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa). Jurnal Ilmiah Peternakan Halu Oleo, 3(2). https://doi.org/10.56625/jipho.v3i2.18023
Wang, X., Li, J., & Zhai, Y. (2021). Evaluation of mosquito repellent efficacy of Sansevieria trifasciata extract against Aedes mosquitoes: A field study. Environmental Science and Pollution Research, 28(5), 5443-5451. [https://doi.org/10.1007/s11356-020-12041-3](https://doi.org/10.1007/s11356-020-12041-3)
WHO. (2019). Aedes aegypti and the global burden of disease. World Health Organization. (https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/aedes-aegypti)
Williams, A., & Barry, B. (2017). Penetration enhancers in transdermal drug delivery: Mechanisms and applications. Journal of Drug Delivery Science and Technology, 42, 63-69. (https://doi.org/10.1016/j.jddst.2017.02.015)
Wulandari, D., Santoso, H., & Rahmawati, I. (2021). Flavonoid sebagai bioaktif pengusir nyamuk dari ekstrak tanaman lokal Indonesia. Jurnal Fitofarmaka Indonesia, 8(2), 102–110.
X, Y., Z, W., & A, B. (2023). Pengaruh ekstrak lidah mertua terhadap pengurangan nyamuk dalam waktu 10 menit. Journal of Natural Products, 34(5), 121-129.
Y, P., Z, T., & Q, R. (2022). Efektivitas aroma bunga kenanga sebagai pengusir nyamuk dibandingkan bahan kimia sintetis. International Journal of Herbal Medicine, 41(3), 210-219.
Zhao, D., Zhang, X., & Zhou, Z. (2019). Mechanisms of mosquito repellency: How natural and synthetic compounds affect mosquito behavior and physiology. Journal of Medical Entomology, 56(3), 543-550. (https://doi.org/10.1093/jme/tjy188)
LAMPIRAN
ETHICAL CLEARENCE
(DALAM TAHAPAN PROSES TTE)
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Pembuatan ekstrak kental Lidah Mertua dan Bunga Kenanga…………………………………………14
Gambar 2. Uji pH pada ekstrak lidah mertua, bunga kenanga, dan losion anti nyamuk alami………….15
Gambar 3. Uji fitokimia ekstrak lidah mertua dan ekstrak bunga kenanga………………………………15
Gambar 4. Uji dermatologis pada partisipan 1 dan 3…………………………………………………….16
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Hasil proses massa simplisia, maserasi, dan ekstrak kental Lidah Mertua
dan unga kenanga……………………………………………………………..…………14
Tabel 2. Uji pH ekstrak lidah mertua, ekstrak bunga kenanga, dan losion
anti nyamuk alami………………………………………………………………………………………… 15
Tabel 3. Hasil uji Fitokimia Ekstrak Daun Lidah Mertua dan Bunga Kenanga……. 15
Tabel 4. Hasil uji orgaoleptik losion anti nyamuk alami dan losion
komersial berbahan DEET…………………………………………………………… 16
Tabel 5. Hasil uji dermatologis losion anti nyamuk alami………………………….16
Tabel 6. Hasil uji coba losion anti nyamuk alami…………………………………………..17
Tabel 7. Hasil uji efektivitas losion alami dengan losion komersial berbahan
DEET………………………………………………………………………………..17
Tabel 8. Hasil Pre-test (sebelum aplikasi losion)……………………………………………….18
Tabel 9. Hasil Post-test (setelah aplikasi losion)………………………………………………..18
