Search
Search
Close this search box.
HERBAVAPE-FREE INHALER: SOLUSI TERAPI NIKOTIN BERBASIS AROMATERAPI DENGAN BANGLE (ZINGIBER CASSUMUNAR) UNTUK MENGURANGI KECEMASAN PADA PEROKOK REMAJA
HERBAVAPE-FREE INHALER: SOLUSI TERAPI NIKOTIN BERBASIS AROMATERAPI DENGAN BANGLE (ZINGIBER CASSUMUNAR) UNTUK MENGURANGI KECEMASAN PADA PEROKOK REMAJA

LAPORAN PENELITIAN KREASI

 

 

HERBAVAPE-FREE INHALER: SOLUSI TERAPI NIKOTIN BERBASIS AROMATERAPI DENGAN BANGLE (ZINGIBER CASSUMUNAR) UNTUK MENGURANGI KECEMASAN PADA PEROKOK REMAJA

 

Nisa Khumairoh,  Ayla Safina Anastasya,  Nurhidayah, S. Pd.,  Sri Purwaningsig, S.Pd

Madrasah Aliyah Negeri Pemalang

Jalan Tentara Pelajar 12 Mulyoharjo, Kec.Pemalang, Kab. Pemalang

khumairohnisaa@gmail.com. nurhidayah555555@gmail.com

 

Abstract

The problem statement underlying this study is how effective bangle-based aromatherapy inhalers are in changing smoking habits among adolescents, particularly in terms of anxiety and smoking frequency. The purpose of this study is to measure the effectiveness of bangle-based aromatherapy inhalers in helping to reduce anxiety among adolescent smokers, which is indirectly expected to also reduce their smoking frequency. The target of this study is adolescent smokers. The first primary data was obtained through an experimental method. An experimental method is a systematic and planned experiment to prove the truth of a theory. The second primary data was obtained through research instruments, namely the GAD-7 questionnaire to measure anxiety levels, daily smoking frequency records to monitor changes in respondents’ smoking habits, and structured interviews to explore respondents’ subjective experiences while using the inhaler. Secondary data was obtained through literature studies. The results of the study show that the use of bangle aromatherapy inhalers has a positive effect on reducing anxiety in adolescent smokers. This can be seen from the decrease in GAD-7 scores in almost all indicators, as well as an increase in feelings of relaxation based on the respondents’ subjective scale. These findings are consistent with studies that prove that bangle extracts and essential oils have anxiolytic (anti-anxiety) effects on experimental animals. Based on the research conducted, it can be concluded that the use of HerbaVape-Free Inhaler made from bangle extract (Zingiber cassumunar) shows positive potential in helping to reduce anxiety experienced by adolescent smokers. From the limited trial results on four respondents, there was a decrease in anxiety scores (GAD-7) after a 10-day intervention, as well as a change in smoking behavior in the form of a decrease in daily smoking frequency.

Keywords: Bangle, aromatherapy, inhaler, anxiety, teenage smokers.

 

Abstrak

 

Rumusan masalah yang mendasari penelitian ini adalah bagaimana efektivitas inhaler aromaterapi berbahan dasar bangle berhubungan dengan perubahan pola kebiasaan merokok pada remaja, khususnya dari segi kecemasan dan frekuensi merokok. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur efektivitas inhaler aroma terapi berbasis bangle dalam membantu menurunkan kecemasan remaja perokok, yang secara tidak langsung diharapkan juga bisa mengurangi frekuensi merokok mereka. Sasaran penelitian adalah perokok remaja. Data primer yang pertama di dapatkan melalui metode eksperimen. Metode eksperimen yakni percobaan yang bersistem dan terencana untuk membuktikan kebenaran akan suatu teori. Data primer kedua diperoleh melalui instrumen penelitian, yaitu kuesioner GAD-7 untuk mengukur tingkat kecemasan, catatan harian frekuensi merokok untuk memantau perubahan kebiasaan merokok responden, serta wawancara terstruktur untuk menggali pengalaman subjektif responden selama menggunakan inhaler. Data sekunder didapatkan melalui studi literasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan inhaler aromaterapi bangle memberikan efek positif terhadap penurunan kecemasan pada remaja perokok. Hal ini terlihat dari penurunan skor GAD-7 pada hampir semua indikator, serta peningkatan perasaan rileks berdasarkan skala subjektif responden. Temuan ini konsisten dengan penelitian yang membuktikan bahwa ekstrak dan minyak atsiri bangle memiliki efek ansiolitik (anti-kecemasan) pada hewan percobaan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penggunaan HerbaVape-Free Inhaler berbahan dasar ekstrak Bangle (Zingiber cassumunar) menunjukkan adanya potensi positif dalam membantu mengurangi kecemasan yang dialami perokok remaja. Dari hasil uji coba terbatas pada empat responden, terlihat adanya penurunan skor kecemasan (GAD-7) setelah intervensi 10 hari, serta adanya perubahan perilaku merokok berupa penurunan frekuensi merokok harian.

Kata kunci: Bangle, aromaterapi, inhaler, kecemasan, perokok remaja.

 

 

  1. Pendahuluan

Merokok pada remaja masih menjadi salah satu masalah opularc serius di Indonesia. Data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) tahun 2019 menunjukkan bahwa prevalensi perokok remaja usia 13–15 tahun mencapai 19,2%, angka yang tergolong tinggi di Asia Tenggara (WHO, 2020). Padahal, merokok sejak dini meningkatkan resiko ketergantungan nikotin di kemudian hari (Parrot, 1999). Berbagai opul telah dilakukan untuk membantu remaja berhenti merokok, mulai dari edukasi, kampanye opula, hingga terapi farmakologis. Namun, selalu ada kendala dalam opul tersebut khususnya pada remaja itu sendiri. Ketika remaja mencoba berhenti merokok, mereka sering mengalami gejala putus nikotin seperti kecemasan, gelisah, dan mudah marah, yang dapat menghambat proses penghentian (Hughes, 2007; Taylor et al., 2014).

Upaya untuk menghentikan kebiasaan merokok dalam beberapa tahun terakhir banyak diarahkan pada penggunaan Terapi Pengganti Nikotin (Nicotine Replacement Therapy, NRT), seperti patch, permen karet nikotin, atau semprotan oral (Cahill et al., 2013). Meskipun demikian, efektivitas metode tersebut masih terbatas akibat munculnya efek samping, yang meliputi gangguan tidur, iritasi kulit, serta ketidaknyamanan psikologis (Stead et al., 2012). Oleh karena itu, penting untuk mengeksplorasi pendekatan non-farmakologis yang lebih alami, aman, dan berkelanjutan.

Oleh karena itu, penting untuk mengeksplorasi pendekatan non-farmakologis yang lebih alami, aman, dan berkelanjutan. Salah satu alternatif yang menjanjikan adalah penggunaan aromaterapi. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa minyak esensial, seperti lavender dan chamomile, mampu mengurangi kecemasan melalui stimulasi sistem limbik di otak (Koulivand, Ghadiri, & Gorji, 2013; El-Anssary, 2020). Aromaterapi melalui inhalasi terbukti dapat memberikan efek menenangkan pada sistem saraf pusat (opul al., 2013).

Salah satu tanaman herbal potensial opula Bangle (Zingiber casumunar). Sejarah penggunaan bangle dalam pengobatan tradisional sudah dikenal selama berabad-abad lamanya untuk mengobati berbagai macam penyakit, termasuk peradangan, nyeri tubuh, demam, dan penyakit rematik (Choudhary et al., 2021). Penelitian modern menunjukkan bahwa ekstrak bangle memiliki efek menenangkan serta mampu menurunkan perilaku cemas pada hewan percobaan (Saiprasit et al., 2019). Kandungan utama seperti flavonoid yang ditemukan pada bangle dikategorikan memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat dalam melindungi sel saraf dari kerusakan akibat radikal bebas, yang dapat membantu mengurangi gejala kecemasan (Lailiyah et al.,2023). Selain Bangle minyak esensial lain juga mendukung efek aromaterapi. Minyak lemon diketahui dapat memperbaiki suasana hati (Lv et al., 2013), sedangkan vanilla memberikan Efek menenangkan dan menurunkan respons opula (Fukada et al., 2007). Kombinasi bahan-bahan alami ini menjadikan inhaler berbasis aromaterapi sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan terapi konvensional berbasis obat-obatan.

Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini diberi nama HerbaVape-Free Inhaler. Penting untuk ditegaskan sejak awal bahwa produk ini bukanlah rokok elektronik atau vape dalam pengertian umum. Inhaler ini berbentuk stik herbal penggunaannya dilakukan dengan cara dihirup, sehingga berbeda dengan vape elektrik yang memanaskan cairan mengandung nikotin untuk dihisap ke paru-paru. Penggunaan istilah “Vape” pada judul penelitian ini dipilih secara sadar sebagai bagian dari strategi sosial, psikologi, dan edukatif. Saat ini, vape telah menjadi simbol gaya hidup modern di kalangan remaja, terutama karena dianggap lebih “aman” dibandingkan rokok konvensional, memiliki variasi rasa yang menarik, dan memberi kesan trendi (Kong et al., 2015; Pepper & Brewer, 2014). Dengan kata lain, kata “Vape” di sini bersifat simbolis, bukan teknis, dan bermakna sebagai jembatan transisi gaya hidup adiktif menuju gaya hidup yang lebih sehat.

Rumusan masalah yang mendasari penelitian ini adalah bagaimana efektivitas inhaler aromaterapi berbahan dasar bangle berhubungan dengan perubahan pola kebiasaan merokok pada remaja, khususnya dari segi kecemasan dan frekuensi merokok. Pertanyaan ini penting karena selama ini terapi berhenti nikotin lebih banyak berfokus pada aspek nikotin, sementara faktor psikologis seperti kecemasan sering terabaikan. Padahal, jika kecemasan tidak ditangani, keinginan merokok akan terus muncul meskipun kadar nikotin dalam tubuh sudah ditekan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa kecemasan berperan sebagai pemicu craving (dorongan merokok) pada perokok, dan individu dengan tingkat kecemasan tinggi lebih sulit berhenti merokok meskipun kadar nikotin dalam tubuh menurun (Morissette et al., 2007).

Tujuan penelitian ini opula untuk mengukur efektivitas inhaler aroma terapi berbasis bangle dalam membantu menurunkan kecemasan remaja perokok, yang secara tidak langsung diharapkan juga bisa mengurangi frekuensi merokok mereka. Dengan menguji penggunaan inhaler ini secara langsung pada responden, penelitian ingin mengetahui apakah inovasi berbasis herbal ini benar-benar mampu memberikan manfaat nyata dalam konteks perilaku merokok di kalangan remaja.

Adapun manfaat penelitian dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, manfaat teoritis, penelitian ini diharapkan memperkaya literatur mengenai penggunaan Bangle (Zingiber casumunar) dalam konteks aromaterapi. Selama ini penelitian tentang bangle lebih banyak berfokus pada manfaatnya dalam pengobatan nyeri atau peradangan, sehingga studi ini bisa menambah bukti ilmiah tentang potensinya dalam bidang psikologi opularc. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi dasar pengembangan terapi komplementer berbasis herbal yang lebih ramah bagi tubuh dan lebih mudah diterima opularc.

Kedua, manfaat praktis, produk inhaler ini dapat menjadi alternatif bagi perokok remaja yang ingin mengurangi kecemasan tanpa harus bergantung pada produk berbahan kimia atau nikotin sintesis. Dibandingkan terapi konvensional yang menggunakan obat-obatan, inhaler berbasis bangle menawarkan pilihan yang lebih alami, aman, dan dengan efek samping yang minimal. Selain itu, penggunaan inhaler dengan konsep mirip “Vape” diharapkan lebih mudah diterima oleh remaja karena sesuai dengan simbol gaya hidup mereka, sehingga efek edukatif dan preventif juga lebih kuat.

Secara keseluruhan, penelitian ini berangkat dari realitas bahwa kebiasaan merokok di kalangan remaja seringkali terkait erat dengan kecemasan. Dengan memanfaatkan potensi bangle dan minyak esensial lain, HerbaVape-Free Inhaler diharapkan dapat menjadi opula inovatif: bukan sekadar produk opularc, melainkan juga strategi sosial untuk mengarahkan gaya hidup remaja opular yang lebih sehat.

 

  1. Kajian Teori dan Tinjauan Pustaka
  2. Kajian Teori

Perilaku merokok pada remaja merupakan isu besar dalam kesehatan masyarakat. Masa remaja adalah fase transisi yang penuh dengan perubahan fisik, emosional, dan sosial, sehingga kelompok usia ini sering kali berada pada kondisi psikologis yang labil. Pada periode ini, remaja cenderung mudah dipengaruhi oleh lingkungan, baik dari teman sebaya, media sosial, maupun tekanan akademik dan keluarga. Kebiasaan merokok yang muncul di usia dini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, seperti meningkatnya risiko penyakit pernapasan dan kardiovaskular, tetapi juga berkaitan erat dengan aspek psikologis, khususnya kecemasan.

Kecemasan pada remaja perokok muncul karena adanya ketergantungan nikotin yang menyebabkan tubuh sulit beradaptasi ketika asupan dihentikan. Selain itu, merokok sering digunakan sebagai strategi pelarian atau coping mechanism yang bersifat maladaptif, yaitu cara cepat untuk menenangkan diri dari tekanan yang dihadapi. Sayangnya, strategi ini justru memperburuk kondisi psikologis karena hanya memberikan ketenangan sesaat dan meninggalkan efek jangka panjang yang merugikan. Oleh sebab itu, perilaku merokok pada remaja perlu dilihat bukan hanya sebagai masalah kebiasaan, tetapi juga sebagai persoalan serius yang berhubungan dengan kesehatan mental, khususnya meningkatnya risiko kecemasan dan stres berlebihan.

Nikotin sebagai zat aktif utama dalam rokok memiliki sifat adiktif yang kuat. Zat ini bekerja dengan merangsang pelepasan dopamin di nucleus accumbens otak, yang menciptakan sensasi nyaman dan tenang sesaat. Namun, seiring berjalannya waktu, tubuh memerlukan dosis lebih tinggi untuk mendapatkan efek serupa. Ketika asupan nikotin berhenti, muncul gejala withdrawal berupa kecemasan, mudah marah, sulit tidur, dan menurunnya konsentrasi (Utami & Ramadhanintyas, 2024). Pada remaja, gejala ini cenderung lebih berat karena otak remaja masih dalam proses perkembangan, terutama pada area prefrontal cortex yang berfungsi mengendalikan impuls dan emosi.

Teori kognitif-behavior dalam psikologi menjelaskan bahwa kecemasan dapat muncul karena adanya pola pikir maladaptif, di mana individu merasa tidak mampu menghadapi situasi tertentu. Pada remaja, tekanan akademik, pergaulan, hingga tuntutan lingkungan sering kali menimbulkan stres. Merokok kemudian dijadikan sebagai strategi koping maladaptif untuk menenangkan diri. Sayangnya, strategi ini hanya efektif sesaat dan justru memperburuk kecemasan dalam jangka panjang.

Upaya berhenti merokok umumnya dilakukan dengan terapi farmakologis seperti Nicotine Replacement Therapy (NRT). Akan tetapi, efektivitas NRT pada remaja terbatas. Beberapa penelitian terbaru melaporkan adanya efek samping, seperti gangguan tidur dan rasa tidak nyaman psikologis, sehingga tidak selalu cocok digunakan (Setyani et al., 2020). Oleh sebab itu, dibutuhkan alternatif non-farmakologis yang lebih aman, mudah diterapkan, dan sesuai dengan kebutuhan remaja.

 Salah satu pendekatan non-farmakologis yang semakin dilirik adalah aromaterapi. Aromaterapi menggunakan minyak atsiri dari tumbuhan untuk menstimulasi sistem limbik otak melalui indera penciuman. Sistem limbik berperan dalam mengatur emosi, memori, dan suasana hati. Molekul aroma yang dihirup akan mengaktifkan reseptor olfaktorius, lalu mengirim sinyal ke hipotalamus dan amigdala sehingga memengaruhi pelepasan hormon stres seperti kortisol. Penelitian modern menunjukkan bahwa inhalasi minyak atsiri dapat menurunkan kadar kortisol, meningkatkan serotonin, serta merangsang GABA yang berperan dalam menciptakan ketenangan (Yunitasari et al., 2021). Dengan mekanisme ini, aromaterapi dinilai efektif dan minim efek samping.

Dalam penelitian ini, bangle (Zingiber cassumunar) dipilih sebagai bahan utama. Rimpang bangle memiliki kandungan flavonoid, saponin, dan minyak atsiri yang diketahui bersifat antioksidan, antiinflamasi, dan neuroprotektif. Lailiyah et al. (2023) menjelaskan bahwa flavonoid bangle dapat melindungi sistem saraf dari stres oksidatif serta mengurangi gejala kecemasan melalui modulasi neurotransmiter. Saiprasit et al. (2019) juga menemukan bahwa ekstrak bangle memiliki efek ansiolitik yang signifikan. Potensi inilah yang membuat bangle sangat relevan untuk dikembangkan sebagai inhaler herbal.

Untuk mendukung khasiat bangle, digunakan kombinasi bahan lain, yaitu lemon essential oil, vanilla essential oil, dan Virgin Coconut Oil (VCO). Lemon oil memiliki efek menurunkan kortisol dan meningkatkan mood sehingga baik untuk mengatasi stres akademik (Wulandari et al., 2021). Vanilla oil memberikan efek menenangkan dengan aroma hangatnya, yang terbukti meningkatkan ketenangan psikologis (Nugraheni & Fitriana, 2022). VCO berperan sebagai carrier oil yang menjaga kestabilan minyak atsiri serta memperpanjang daya simpan produk (Setyani et al., 2020). Kombinasi bahan ini menjadikan produk lebih efektif sekaligus menarik secara sensori.

Dengan landasan teori ini, HerbaVape-Free Inhaler bukan sekadar produk aromaterapi, tetapi inovasi yang memanfaatkan kearifan lokal untuk menjawab permasalahan global. Produk ini menghadirkan pendekatan ilmiah yang kuat untuk membantu remaja mengurangi kecemasan akibat rokok, dengan cara yang alami, praktis, dan minim efek samping.

  1. Tinjauan Pustaka

Berbagai penelitian mutakhir mendukung pengembangan HerbaVape-Free Inhaler. Utami & Ramadhanintyas (2024) mengkaji hubungan intensitas merokok dengan tingkat kecemasan pada remaja. Mereka menemukan bahwa remaja perokok aktif memiliki tingkat kecemasan yang jauh lebih tinggi dibandingkan non-perokok. Hal ini menegaskan bahwa merokok bukan solusi, melainkan pemicu tambahan masalah psikologis.

 Yunitasari et al. (2021) meneliti pengaruh aromaterapi citrus oil terhadap penurunan kadar kortisol. Hasil penelitian menunjukkan penurunan signifikan pada individu dengan stres tinggi. Temuan ini didukung oleh Wulandari et al. (2021), yang menemukan bahwa lemon oil dapat menurunkan stres akademik secara efektif pada remaja. Hal ini membuktikan bahwa aromaterapi lemon dapat berfungsi sebagai agen penurun stres yang praktis.

  Penelitian Nugraheni & Fitriana (2022) membuktikan bahwa vanilla essential oil memiliki efek menenangkan yang signifikan. Responden yang diberikan terapi inhalasi vanila melaporkan penurunan kecemasan serta peningkatan perasaan nyaman. Efek ini sesuai dengan teori bahwa aroma hangat vanila dapat memengaruhi sistem limbik untuk menciptakan ketenangan.

Selain itu, penelitian Saiprasit et al. (2019) menunjukkan bahwa bangle memiliki efek ansiolitik dan antiinflamasi. Kandungan flavonoid di dalamnya mampu memberikan perlindungan pada sistem saraf sekaligus menekan gejala kecemasan. Lailiyah et al. (2023) memperkuat temuan ini dengan menyatakan bahwa bangle memiliki potensi besar sebagai neuroprotektif herbal. Dengan demikian, bangle layak diposisikan sebagai bahan utama dalam inovasi inhaler herbal.

Selain itu, dalam formulasi inhaler herbal dibutuhkan bahan pendukung yang mampu menjaga stabilitas dan efektivitas bahan utama. Virgin Coconut Oil (VCO) sering digunakan sebagai carrier oil karena sifatnya yang stabil dan aman dipadukan dengan minyak atsiri. Setyani et al. (2020) menyebutkan bahwa VCO tidak hanya berperan dalam melarutkan minyak atsiri, tetapi juga membantu mempertahankan kualitas aroma agar tetap konsisten selama penyimpanan. Dengan demikian, VCO berfungsi sebagai medium yang memastikan efek relaksasi dari bangle, lemon, dan vanila dapat terjaga dalam jangka waktu tertentu.

Selain penelitian di atas, beberapa kajian lain juga relevan. Misalnya, Lestari & Puspitasari (2020) meneliti kecenderungan remaja dalam menggunakan produk herbal sebagai alternatif gaya hidup sehat. Mereka menemukan bahwa penerimaan remaja terhadap produk herbal cukup tinggi, terutama bila produk tersebut praktis digunakan. Hasil ini mendukung peluang pengembangan inhaler berbasis bangle sebagai solusi yang dapat diterima oleh remaja.

 Penelitian terbaru oleh Andini et al. (2023) mengenai penggunaan aromaterapi berbasis bahan lokal menunjukkan adanya tren positif dalam minat masyarakat terhadap produk herbal. Mereka menekankan pentingnya inovasi yang tidak hanya efektif secara ilmiah, tetapi juga mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sejalan dengan konsep HerbaVape-Free Inhaler, yang dirancang praktis, portable, dan sesuai kebutuhan remaja.

  Dari berbagai penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengembangan inhaler berbahan dasar bangle dengan kombinasi lemon oil, vanilla oil, dan VCO memiliki dasar ilmiah yang kuat. Inhaler ini tidak hanya menjawab kebutuhan terapi non-farmakologis untuk mengurangi kecemasan, tetapi juga mendukung program kesehatan masyarakat dalam mengurangi prevalensi merokok di kalangan remaja.

Dari beberapa penelitian terdahulu dapat ditemukan persamaan dan perbedaan. Persamaannya, seluruh penelitian menekankan bahwa bahan alami seperti bangle, lemon, dan vanila memiliki efek menenangkan, mengurangi stres, serta aman digunakan sebagai terapi non-farmakologis. Semua penelitian juga menunjukkan bahwa remaja cukup terbuka terhadap penggunaan produk herbal, terutama bila dikemas secara praktis.

Adapun perbedaannya, sebagian besar penelitian terdahulu hanya berfokus pada satu jenis bahan, misalnya bangle saja atau lemon saja, tanpa mengombinasikannya. Selain itu, objek penelitian umumnya adalah mahasiswa atau orang dewasa secara umum, bukan secara khusus remaja perokok yang mengalami kecemasan. Penelitian ini hadir untuk mengisi celah tersebut dengan memadukan bangle, lemon, dan vanila menggunakan VCO sebagai pendukung, serta secara spesifik menargetkan remaja perokok. Dengan begitu, penelitian ini tidak hanya memperkuat temuan sebelumnya, tetapi juga menghadirkan kebaruan dari sisi formulasi produk maupun sasaran pengguna.

 

  1. Metode Penelitian
  2. Waktu dan Tempat Penelitian

Waktu : Bulan Agustus-September 2025

Tempat : Laboratorium Kimia MAN Pemalang

Alamat : Jalan Tentara Pelajar No. 12 Pemalang

  1. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:

  1. Data Primer
  • Data primer yang pertama di dapatkan melalui metode eksperimen. Metode eksperimen yakni percobaan yang bersistem dan terencana untuk membuktikan kebenaran akan suatu teori (Hasan Alwi (2005: 290).
  • Data primer kedua diperoleh melalui instrumen penelitian, yaitu kuesioner GAD-7 untuk mengukur tingkat kecemasan (Löwe et al., 2008), catatan harian frekuensi merokok untuk memantau perubahan kebiasaan merokok responden (Sugiyono, 2019), serta wawancara terstruktur untuk menggali pengalaman subjektif responden selama menggunakan inhaler (Miles, Huberman, & Saldaña, 2014).
  • Data Sekunder

Data sekunder didapatkan melalui studi literasi. Metode yang diaplikasikan dalam penelitian ini adalah penggalian data dan informasi  dengan memanfaatkan layanan pencari pustaka seperti Google Scholar, dan website lainnya untuk mendapatkan data yang dibutuhkan.

  1. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik dan alat pengambilan  data dalam pembuatan HerbaVape-Free Inhaler dengan ekstrak bangle dilakukan melalui beberapa tahap:

  1. Eksperimen

1) Pengolahan Rimpang Bangle

Rimpang bangle sebanyak 1 kg dibersihkan, dihancurkan, dipotong kecil, dan dikeringkan tanpa ditumpuk agar cepat kering. Setelah benar-benar kering, rimpang digiling menjadi serbuk halus, diayak, lalu dimaserasi menggunakan etanol 96%. Maserasi dilakukan dua kali: pertama dengan 500 Ml etanol selama 5 hari (maserat I), kemudian residu disari ulang dengan 250 Ml etanol (maserat II). Kedua maserat dicampur, lalu diuapkan pada suhu 40–50 °C hingga menjadi ekstrak kental.

 2)  Uji Fitokimia Ektrak Bangle

Dilakukan uji fitokimia pada ekstrak bangle bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa bioaktif yang terkandung dalam ekstrak kental bangle. Uji alkaloid dilakukan dengan pereaksi Mayer/Wagner, uji flavonoid menggunakan NaOH dan HCl, uji tanin dengan FeCl₃, serta uji saponin dengan metode pembentukan busa. Hasil perubahan warna atau endapan menjadi indikator adanya senyawa bioaktif.

  • Pembuatan HerbaVape-Free Inhaler

Setelah dipastikan mengandung senyawa aktif, ekstrak bangle diformulasikan menjadi HerbaVape-Free Inhaler. Formulasi HerbaVape-Free Inhaler disiapkan dengan mencampurkan 4 Ml ekstrak bangle, 4,5 Ml VCO sebagai pelarut, 1 Ml minyak lemon, dan 1,5 Ml minyak vanilla. Semua bahan dimasukkan ke dalam botol kecil dan dikocok perlahan hingga homogen. Campuran diteteskan 9–12 tetes ke kapas steril, kemudian kapas dimasukkan ke dalam tabung stik akrilik dan ditutup rapat. Produk inhaler ini siap digunakan maksimal tiga kali sehari.

          Pada tahap eksperimen, alat dan bahan yang dibutuhkan adalah:

  1. a) Timbangan analitik (±0,01 g).
  2. b) Blender / grinder, pengayak.
  3. c) Labu Erlenmeyer, gelas ukur, corong, kertas saring.
  4. d) Penangas air (pemandian air) dengan pengontrol suhu (dapat diatur 40–
  • C).
  1. e) Kertas indikator Ph / Ph meter portable.
  2. f) Pipet tetes, botol reagen gelap, botol sampel.
  3. g) VCO, ekstrak bangle, minyak esensial (lemon, vanilla, peppermint),

    kapas steril, tube akrilik stik.

  1. Reagen untuk uji fitokimia (FeCl₃, NaOH, Mayer/Wagner, dll.).
  2. Formulir pencatatan batch/logbook produksi (lembar standar).

 

  1. Insrumen Responden

     Pada tahap ini, teknik pengumpulan data yang diperoleh berasal dari kuesioner GAD-7, catatan harian frekuensi merokok, serta wawancara terstruktur. Ebelum intervensi dimulai pada hari pertama, responden diminta mengisi kuesioner GAD-7 sebagai tes awal untuk mengetahui opular kecemasan mereka. Setelah intervensi berakhir pada hari tertentu, kuesioner yang sama opular diberikan untuk melihat perubahan yang terjadi. Selama masa intervensi, responden juga diminta mengisi catatan harian (daily diary) setiap hari. Di dalamnya mereka menuliskan perasaan sebelum dan sesudah menggunakan inhaler, waktu pemakaian, serta frekuensi penggunaan.

Selain itu, pada hari terakhir dilakukan wawancara semi-terstruktur . Wawancara ini bertujuan menggali lebih dalam pengalaman responden selama menggunakan inhaler, termasuk persepsi terhadap aroma, kenyamanan, manfaat yang dirasakan, hingga kemungkinan adanya efek samping atau saran untuk perbaikan produk. Untuk melengkapi data tersebut, peneliti juga menggunakan checklist observasi saat pemantauan lapangan. Observasi ini mencakup cara responden menggunakan inhaler, reaksi fisik yang muncul setelah pemakaian, serta kepatuhan terhadap instruksi penggunaan.

  Pada tahap instrumen responden, alat yang dibutuhkan adalah:

  • Formulir kertas/Google Form untuk GAD-7.
  • Templat Catatan Harian (kertas/Google Sheet). Kolom: tanggal, jam, perasaan sebelum (skala 1–5), perasaan sesudah (skala 1–5), jumlah tetes, komentar singkat.
  • Panduan wawancara (daftar pertanyaan semi-terstruktur) dan alat perekam suara (dengan izin).
  • Daftar periksa observasi (cetak).
  • Perangkat komunikasi (HP/WA) untuk memantau harian.
  • Formulir informed consent & formulir persetujuan orang tua (untuk peserta <18 tahun: harus ada persetujuan + tanda tangan orang tua/wali).
  • kode partisipan (mis. P01, P02) untuk anonimisasi.
  1. Rencana Analisis Data

Pada judul penelitian ini, analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif. Setiap data yang diperoleh selama masa penelitian akan dianalisis satu per satu, sehingga memuat rencana analisis data sebagai berikut:

  1. Analisis data primer hasil eksperimen:
  • Uji Ph (Potential of Hydrogen)

Sebanyak 1 Ml ekstrak kental bangle dilarutkan dalam 5 Ml akuades, kemudian diuji Ph-nya menggunakan kertas indikator universal. Hasil pengukuran dicatat, dibandingkan dengan rentang Ph ideal untuk inhalasi (6,0–7,5), dan dianalisis untuk menilai keamanan serta kestabilan produk.

  • Uji Fitokimia Senyawa Bioaktif

Ekstrak bangle diuji secara kualitatif untuk mengidentifikasi adanya senyawa bioaktif seperti flavonoid, fenol, alkaloid, saponin, dan minyak atsiri dengan reagen kimia standar. Hasil uji disajikan dalam bentuk tabel sederhana (+/-) untuk memudahkan interpretasi dan penarikan kesimpulan mengenai kandungan bioaktif yang relevan dengan efek aromaterapi.

  • Uji Organoleptik

Uji ini dilakukan pada inhaler aromaterapi yang telah diformulasi dengan ekstrak bangle. Parameter yang diamati meliputi bau (intensitas dan kesukaan), warna, serta homogenitas sediaan pada kapas inhaler. Penilaian dilakukan menggunakan skala sederhana oleh panelis terbatas. Hasil dianalisis untuk menilai tingkat penerimaan aroma dan kenyamanan penggunaan produk oleh target pengguna (remaja).

  • Analisis data primer instrumen diperoleh melalui tahap instrumen responden menggunakan kuesioner GAD-7 (Generalized Anxiety Disorder-7), catatan harian frekuensi merokok, serta wawancara terstruktur mengenai pengalaman penggunaan inhaler. Data ini dianalisis secara deskriptif untuk melihat perubahan pola kecemasan dan perilaku merokok sebelum dan sesudah penggunaan inhaler.
  • Analisis data sekunder diperoleh dari kajian pustaka berupa jurnal ilmiah, buku, dan artikel terkait manfaat bangle (Zingiber cassumunar), papermint, lemon, vanilla, dan terapi aromaterapi terhadap kecemasan. Data ini digunakan untuk memperkuat dasar teoritis penelitian dan membandingkan hasil penelitian dengan studi-studi sebelumnya.

 

  1. Hasil dan Pembahasan
  2. Hasil Penelitian
  3. Hasil Pembuatan Ekstrak Kental Bangle

Berikut hasil eksperimen pengolahan bangle mulai dari pemotongan, penghalusan, maserasi, hingga pembuatan ekstrak kental bangle:

                                      

 

 

 

                          Gambar 1,  Bangle basah, kering dan serbuk

 
   

 

 

 

 

 

                           

                   Gambar 2,  Maserat bangle, Pembuatan ekstrak kental

Tahapan pengolahan tersebut menghasilkan perubahan massa bangle. Berikut hasil perubahan massa selama proses pengolahan:

 

Bangle

Jumlah

Basah

1 kg

Kering

170 gr

Serbuk

270 gr

Ekstrak Kental

800 Ml

Tabel 1, Hasil proses  massa  simplisia, maserasi, dan ekstrak kental bangle

  1. Hasil Uji Ph Ekstrak Bangle

Ekstrak kental sebanyak 1 Ml dilarutkan dalam air suling sebanyak 5 ml, hasil larutannya di uji dengan kertas indikator universal.

 
   

 

 

 

 

 

 

Gambar 3, Uji Ph ekstrak bangle

       Pada uji Ph dengan kertas indikator universal, menunjukkan nilai Ph sebesar 5,0 – 6,0. Dibuktikan juga dengan uji Ph menggunakan kertas lakmus, hasil menunjukkan bahwa kertas lakmus merah tetap berwarna merah sedangkan lakmus biru tetap berwarna biru (tidak mengalami perubahan warna lain). Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak Bangle memiliki rentang Ph ideal untuk inhalasi.

  1. Hasil Uji Fitokimia Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Ekstrak Bangle

Berikut hasil yang diperoleh selama uji fitokimia:

 
   

 

 

 

 

 

Gambar 4, Reagen untuk uji fitokimia

 
   

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 5, Hasil uji fitokimia ektrak Bangle

 

No.

Metabolit

sekunder

Perubahan warna

Hasil

1

Flavonoid

Merah (neon), kuning

+

2

Alkaloid

Kuning keruh tampak pudar

+

3

Saponin

Berbusa

+

4

Tanin

Coklat (merah kecoklatan)

+

Tabel  2, Hasil uji Fitokimia ekstrak bangle

Beberapa senyawa aktif seperti alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin ditemukan dalam ekstrak bangle. Kehadiran senyawa-senyawa bioaktif ini memberikan indikasi potensinya sebagai agen fitoterapi yang menenangkan (anxiolytic) sekaligus antioksidan, karena masing-masing senyawa memiliki aktivitas biologis yang relevan dengan proses pengurangan kecemasan, modulasi neurotransmitter, perlindungan sel saraf dari opula oksidatif, serta peningkatan keseimbangan fisiologis tubuh.

  1. Pembuatan HerbaVape-Free Inhaler

Dalam pembuatan HerbaVape-Free Inhaler ekstrak bangle, beberapa bahan yang disiapkan antara lain:

  1. Ekstrak Bangle, bangle mengandung senyawa aktif seperti alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin yang memiliki aktivitas antiinflamasi, opularc, dan efek menenangkan sehingga berpotensi sebagai agen pengurang kecemasan (Saiprasit et al., 2019).
  2. Virgin Coconut Oil (VCO), VCO digunakan sebagai pelarut alami (carrier oil) yang aman, memiliki sifat stabil, mampu melarutkan senyawa lipofilik dari minyak atsiri, dan mendukung kestabilan aroma sehingga lebih tahan lama (Marina et al., 2009).
  3. Lemon esential oil, minyak lemon diketahui memiliki efek meningkatkan mood, menurunkan opula, serta memberikan rasa segar dan relaksasi, menjadikannya opular dalam aromaterapi untuk pengurangan kecemasan (Lv et al., 2013).
  4. Vanilla esential oil, minyak vanilla memiliki aroma manis yang lembut dan terbukti memberikan efek menenangkan, meningkatkan rasa nyaman, serta membantu mengurangi ketegangan emosional (Fukada et al., 2007).

Berikut alur pembuatan HerbaVape-Free Inhaler ekstrak bangle:

Gambar 6, Bagan pembuatan HerbaVape-Free Inhaler ekstrak Bangle

  1. Hasil Uji Organoleptik

Uji Organoleptik, bertujuan menilai aspek sensorik ekstrak Bangle meliputi warna, tekstur dan aroma.

 

No

Uji Organoleptik

Hasil

1.

Warna

        Oranye kekuningan

2.

Tekstur

Tidak terlalu kental, tidak terlalu cair

3.

Aroma

Lembut, segar, dan herbal

Tabel 3,  Hasil Uji Organoleptik

Sesuai dengan data di atas, hasil uji organoleptik ekstrak bangle dapat  

dideskripsikan sebagai berikut :

  • Warna alami cenderung oranye kekuningan. Warna ini berasal dari kandungan pigmen alami dan senyawa metabolit sekunder seperti kurkuminoid serta flavonoid yang umum terdapat pada rimpang keluarga Zingiberaceae (Chan et al., 2011).
  • Tekstur memiliki viskositas sedang, tidak terlalu kental namun juga tidak terlalu cair. Hal ini disebabkan oleh adanya senyawa minyak atsiri dan komponen non-volatil yang larut dalam pelarut selama proses maserasi, sehingga menghasilkan konsistensi ekstrak yang stabil (Azwanida, 2015).
  • Aroma yang dihasilkan lembut, segar, dan herbal. Aroma khas ini berasal dari kandungan minyak atsiri bangle yang kaya akan monoterpen dan seskuiterpen, misalnya sabinene, terpinen-4-ol, dan (E)-1-(3,4-dimethoxyphenyl)but-1-ene yang dikenal berperan dalam memberikan efek relaksasi dan menenangkan (Saiprasit et al., 2019).
  1. Uji Coba Pemberian Inhaler Pada Responden

Penelitian ini melibatkan 4 responden remaja laki-laki berusia 17–18 tahun  

 yang seluruhnya merupakan perokok aktif. Lama merokok bervariasi antara 3

 bulan hingga 2 tahun, dengan rata-rata konsumsi rokok 1–4 batang per hari.

 Proses uji coba kepada responden melalui beberapa tahap, yaitu sebagai

 berikut:

  • Pengukuran Kecemasan (GAD-7)

Instrumen Generalized Anxiety Disorder-7 (GAD-7) digunakan untuk menilai tingkat kecemasan responden sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test) intervensi inhaler aromaterapi bangle.

Grafik 1, Pre-Test GAD-7

Pada pre-test, hasil menunjukkan bahwa mayoritas responden mengalami kecemasan dengan gejala paling menonjol berupa sering khawatir, overthinking, serta mudah marah. Masalah tidur juga cukup dominan, dengan 50% responden menjawab. Gejala lain seperti gelisah dan cemas muncul dengan kategori jarang pada sebagian besar responden.

Grafik 2,  Post-Test GAD-7

Setelah intervensi selama 10 hari, post-test menunjukkan adanya penurunan signifikan. Pada gejala gelisah, semua responden menjawab tidak sama sekali, menunjukkan perbaikan total pada indikator ini. Overthinking, sering khawatir, dan sulit rileks juga mengalami perbaikan drastis, di mana mayoritas responden menjawab tidak sama sekali. Gejala mudah marah menurun dari selalu menjadi dominan jarang, sedangkan masalah tidur masih muncul pada sebagian responden meskipun dengan intensitas lebih rendah.

  • Penilaian Perasaan Sebelum dan Sesudah Menggunakan Inhaler

Selain instrumen GAD-7, responden juga diminta menilai kondisi emosional mereka dengan skala 1–5.

Grafik 3, Kondisi Emosional sebelum menggunakan Inhaler

Sebelum penggunaan inhaler, mayoritas responden menilai perasaan mereka berada di angka 3 (cemas ringan), sementara hanya 9,1% yang merasa sangat tenang (skor 5).

Grafik 4, Kondisi Emosional setelah Menggunakan Inhaler

Setelah menggunakan inhaler, mayoritas responden menilai perasaan mereka meningkat menjadi skor 4 (tenang), dan 36,4% menilai dirinya berada di skor 5 (sangat rileks/nyaman). Tidak ada responden yang memberikan skor 1 atau 2 setelah penggunaan inhaler, yang berarti tidak ada yang merasa semakin tidak nyaman atau sangat cemas.

  • Catatan Harian Responden dan Wawancara Singkat

Selain pengukuran kecemasan dan penilaian pada kondisi emosional, responden juga diminta untuk mengisi catatan harian, dan menjawab pertanyaan pada wawancara singkat.

Grafik 5, Catatan Merokok Harian Responden

Dari catatan harian, terlihat adanya perubahan frekuensi merokok pada responden. Pada awal penelitian, responden rata-rata merokok 1 batang per hari. Setelah penggunaan inhaler secara rutin, jumlah ini menurun. Meskipun beberapa responden tidak dapat menahan keinginan mereka untuk merokok dalam jumlah besar (di atas rata-rata), akan tetapi data menunjukkan bahwa total rokok yang dikonsumsi masih bisa dikendalikan, melihat responden menggunakan rokok hanya di waktu tertentu. Beberapa responden juga melaporkan mampu menahan diri tidak merokok saat muncul rasa ingin merokok, dengan cara mengganti kebiasaan itu menggunakan inhaler. Bahkan, dalam waktu 5 hari terakhir jumlah rokok yang dikonsumsi nol atau responden sama sekali tidak merokok Hasil wawancara mendukung temuan ini. Responden mengungkapkan bahwa aroma inhaler yang segar dan lembut membuat mereka merasa lebih tenang, rileks, dan mengurangi dorongan merokok.

  1. Pembahasan Penelitian

       Selama proses penelitian yang panjang, berikut pembahasan dari hasil penelitian. Pada hasil uji coba pemberian inhaler pada responden, data menunjukkan terjadinya penurunan skor GAD-7 pada hampir semua indikator, serta peningkatan perasaan rileks berdasarkan skala subjektif responden. Temuan ini konsisten dengan penelitian Saiprasit et al. (2019) yang membuktikan bahwa ekstrak dan minyak atsiri bangle memiliki efek ansiolitik (anti-kecemasan) pada hewan percobaan. Kandungan bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, dan saponin dalam bangle berperan dalam memodulasi sistem saraf pusat sehingga menghasilkan efek menenangkan. Dengan demikian, hasil penelitian ini memperkuat bukti bahwa bangle dapat menjadi kandidat terapi herbal untuk kecemasan.

Selain bangle, inhaler ini juga mengandung minyak esensial lain seperti lemon dan vanilla. Lemon oil diketahui mampu meningkatkan mood dan memberikan sensasi segar yang dapat membantu mengurangi kecemasan (Lv et al., 2013). Vanilla juga terbukti memberikan efek menenangkan serta menurunkan respons stres, bahkan pada bayi baru lahir (Fukada et al., 2007). Kombinasi ini memperkuat efek inhaler, sehingga responden merasa lebih rileks dan nyaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan inhaler aromaterapi bangle memberikan efek positif terhadap penurunan kecemasan pada remaja perokok.

Meskipun penelitian ini tidak secara langsung mengukur jumlah rokok yang dikonsumsi pasca intervensi, observasi menunjukkan adanya penurunan frekuensi merokok. Beberapa responden bahkan sama sekali tidak merokok dalam satu hari penggunaan inhaler.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui hubungan erat antara stres dan kebiasaan merokok. Parrott (1999) menyatakan bahwa merokok sering digunakan sebagai mekanisme coping terhadap stres, meskipun pada akhirnya justru meningkatkan ketergantungan nikotin. Dengan menurunnya kecemasan akibat inhaler, kebutuhan responden untuk merokok sebagai sarana mengurangi stres juga ikut berkurang.

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Jumlah responden sangat terbatas, hanya 4 orang, sehingga hasilnya tidak dapat digeneralisasi secara luas. Durasi intervensi juga relatif singkat, yaitu 10 hari, sehingga belum dapat menggambarkan efek jangka panjang penggunaan inhaler. Selain itu penelitian ini tidak melibatkan kelompok kontrol atau plasebo, sehingga sulit memastikan sejauh mana efek inhaler berbeda dari sugesti psikologis responden.

Untuk memperkuat temuan ini, penelitian di masa depan perlu melibatkan lebih banyak responden dengan rentang usia dan latar belakang yang lebih beragam. Penelitian juga perlu dilakukan dengan desain eksperimental menggunakan kelompok kontrol plasebo, serta durasi intervensi yang lebih panjang (misalnya 3–4 minggu). Uji laboratorium tambahan, seperti toksisitas sederhana dan analisis lebih lanjut komposisi kimia bangle, juga penting untuk memastikan keamanan dan efektivitas produk.

Terlepas dari keterbatasannya, penelitian ini menunjukkan bahwa HerbaVape-Free Inhaler berpotensi menjadi solusi komplementer dalam mengurangi kecemasan pada remaja perokok. Produk ini tidak hanya aman dan alami, tetapi juga mudah digunakan dan relatif murah untuk diproduksi. Dengan pendekatan yang sesuai dengan gaya hidup remaja, produk ini dapat menjadi jembatan transisi menuju perilaku yang lebih sehat.

  

  1. Kesimpulan dan Saran
  2. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penggunaan HerbaVape-Free Inhaler berbahan dasar ekstrak Bangle (Zingiber cassumunar) menunjukkan adanya potensi positif dalam membantu mengurangi kecemasan yang dialami perokok remaja. Dari hasil uji coba terbatas pada empat responden, terlihat adanya penurunan skor kecemasan (GAD-7) setelah intervensi 10 hari, serta adanya perubahan perilaku merokok berupa penurunan frekuensi merokok harian.

      Dengan demikian, inhaler aromaterapi bangle dapat dianggap memilki efektivitas awal dalam menurunkan tingkat kecemasan sekaligus mendukung pengurangan kebiasaan merokok pada remaja. Hal ini sejalan dengan tujuan penelitian untuk mengukur keterkaitan penggunaan inhaler berbasis bangle terhadap pola kebiasaan merokok, terutama pada aspek psikologis berupa kecemasan yang menjadi salah satu pemicu utama perilaku merokok.

       Meskipun begitu, kesimpulan ini masih bersifat terbatas karena jumlah responden yang sedikit, durasi penelitian yang singkat, serta tidak adanya kelompok kontrol. Oleh karena itu, hasil penelitian in lebih tepat dipandang sebagai studi pendahuluan (pilot study) yang membuka peluang bagi penelitian lebih lanjut dengan desain yang lebih kuat.

  1. Saran

Berdasarkan keterbatasan penelitian ini, beberapa saran dapat diberikan untuk pebelitian lanjutan maupun penerapan praktis. Penelitian selanjutnya perlu melibatkan lebih banyak responden dengan variasi usia dan latar belakang, serta dilakukan dalam jangka waktu lebih panjang agar hasil lebih valid. Desain eksperimen dengan kelompok kontrol atau plasebo juga penting untuk memperkuat perbandingan efek. Selain itu, uji laboratorium tambahan mengenai kandungan kimia dan keamanan produk dapat memperkaya data.

Secara praktis, HerbaVape-Free Inhaler berpotensi dikembangkan sebagai alternatif terapi herbal yang aman, alami, dan ekonomis bagi remaja perokok. Dengan pendekatan yang dekat dengan gaya hidup remaja, produk ini tidak hanya berfungsi sebagai terapi, tetapi juga sebagai sarana edukasi untuk transisi menuju kebiasaan hidup yang lebih sehat.

Daftar Pustaka

Alwi, H. (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta: Balai Pustaka.

Andini, S., Rahayu, M., & Fitriani, A. (2023). Inovasi Aromaterapi Berbasis Herbal Lokal untuk Kesehatan Mental. Jurnal Inovasi Kesehatan Masyarakat, 5(2), 101–112.

Azwanida, N. N. (2015). A review on the extraction methods use in medicinal plants, principle, strength and limitation. Medicinal & Aromatic Plants, 4(3), 196. https://doi.org/10.4172/2167-0412.1000196

Cahill, K., Stevens, S., Perera, R., & Lancaster, T. (2013). Pharmacological interventions for smoking cessation: An overview and network meta-analysis. Cochrane Database of Systematic Reviews, 5, CD009329. https://doi.org/10.1002/14651858.CD009329.pub2

Chan, E. W. C., Lim, Y. Y., Wong, L. F., Lianto, F. S., Wong, S. K., Lim, K. K., … & Lim, T. Y. (2011). Antioxidant and tyrosinase inhibition properties of leaves and rhizomes of ginger species. Food Chemistry, 124(2), 500–505. https://doi.org/10.1016/j.foodchem.2010.06.060

Choudhary, S., Kaurav, H., & Chaudhary, G. (2021). Citraka (Plumbago zeylanica): A Potential Rejuvenator. In Internasional Journal for Research in Applied Sciences and Biotechnology (Vol. 8, Issue 2, p. 202). https://doi.org/10.31033/ijrasb.8.2.26

Chung, K. T., Wong, T. Y., Wei, C. I., Huang, Y. W., & Lin, Y. (1998). Tannins and human health: A review. Critical Reviews in Food Science and Nutrition, 38(6), 421–464. https://doi.org/10.1080/10408699891274273

Cushnie, T. P., Cushnie, B., & Lamb, A. J. (2014). Alkaloids: An overview of their antibacterial, antibiotic-enhancing and antivirulence activities. International Journal of Antimicrobial Agents, 44(5), 377–386. https://doi.org/10.1016/j.ijantimicag.2014.06.001

Fukada, M., Kano, E., Miyoshi, M., Komaki, R., Watanabe, T., & Nishigawa, Y. (2007). The effect of a vanilla fragrance on the behavioral and autonomic responses in newborn infants. Early Human Development, 83(10), 669–674. https://doi.org/10.1016/j.earlhumdev.2006.12.004

Global Youth Tobacco Survey (GYTS). (2019). Indonesia Report. World Health Organization.

Hughes, J. R. (2007). Effects of abstinence from tobacco: Valid symptoms and time course. Nicotine & Tobacco Research, 9(3), 315–327

Kong, G., Morean, M. E., Cavallo, D. A., Camenga, D. R., & Krishnan-Sarin, S. (2015). Reasons for electronic cigarette experimentation and discontinuation among adolescents and young adults. Nicotine & Tobacco Research, 17(7), 847–854. https://doi.org/10.1093/ntr/ntu257

Koulivand, P. H., Ghadiri, M. K., & Gorji, A. (2013). Lavender and the nervous system. Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine, 2013, Article ID 681304. https://doi.org/10.1155/2013/681304

Lailiyah, M., Astuti, R. P., & Nugroho, A. (2023). Potensi Bangle (Zingiber cassumunar) sebagai Obat Herbal Neuroprotektif. Jurnal Farmasi dan Fitoterapi Indonesia, 10(2), 55–63.

Lailiyah, M., Saputra, S. A., & Aryantini, D. (2023). Uji Aktivitas Antioksidan, Flavonoid Total dan Formulasi Sediaan Krim Ekstrak Bangle (Zingiber cassumunar). Indonesian Journal of Pharmaceutical Education, 3(1), 25–31. https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/ijpe/article/view/28181

Lestari, D., & Puspitasari, R. (2020). Persepsi Remaja terhadap Penggunaan Produk Herbal sebagai Gaya Hidup Sehat. Jurnal Psikologi dan Kesehatan Remaja, 2(1), 44–52.

Löwe, B., Decker, O., Müller, S., Brähler, E., Schellberg, D., Herzog, W., & Herzberg, P. Y. (2008). Validation and standardization of the Generalized Anxiety Disorder Screener (GAD-7) in the general population. Medical Care, 46(3), 266–274. https://doi.org/10.1097/MLR.0b013e318160d093

Lv, X. N., Liu, Z. J., Zhang, H. J., & Tzeng, C. M. (2013). Aromatherapy and the central nerve system (CNS): Therapeutic mechanism and its associated genes. Current Drug Targets, 14(8), 872–879. https://doi.org/10.2174/1389450111314080004

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications

Morissette, S. B., Tull, M. T., Gulliver, S. B., Kamholz, B. W., & Zimering, R. T. (2007). Anxiety, anxiety disorders, tobacco use, and nicotine: A critical review of interrelationships. Psychological Bulletin, 133(2), 245–272. https://doi.org/10.1037/0033-2909.133.2.245

Nugraheni, F., & Fitriana, D. (2022). Efektivitas Vanilla Essential Oil terhadap Ketenangan Psikologis. Jurnal Kesehatan Holistik, 6(1), 21–30.

Panche, A. N., Diwan, A. D., & Chandra, S. R. (2016). Flavonoids: An overview. Journal of Nutritional Science, 5, e47. https://doi.org/10.1017/jns.2016.41

Parrott, A. C. (1999). Does cigarette smoking cause stress? American Psychologist, 54(10), 817–820. https://doi.org/10.1037/0003-066X.54.10.817

Pepper, J. K., & Brewer, N. T. (2014). Electronic nicotine delivery system (electronic cigarette) awareness, use, reactions, and beliefs: a systematic review. Tobacco Control, 23(5), 375–384. https://doi.org/10.1136/tobaccocontrol-2013-051122

Ramadhani, N., & Fitria, R. (2022). Kombinasi Minyak Esensial sebagai Terapi Inhalasi untuk Mengurangi Kecemasan. Jurnal Farmasi Klinis Indonesia, 11(2), 77–85.

Saiprasit, K., Jaisamut, P., & Udomuksorn, W. (2019). Anxiolytic and Anti-inflammatory Effects of Zingiber cassumunar Extract. Journal of Herbal Medicine, 16, 100246. https://doi.org/10.1016/j.hermed.2019.100246

Saiprasit, S., Pithayanukul, P., Bavovada, R., & Saparpakorn, P. (2019). Anti-anxiety effect of Zingiber cassumunar Roxb. extract and essential oil in animal models. Journal of Ethnopharmacology, 235, 53–60. https://doi.org/10.1016/j.jep.2018.12.022

Setyani, R., Pramudito, H., & Putri, A. (2020). Virgin Coconut Oil sebagai Pelarut dalam Formulasi Minyak Atsiri. Jurnal Teknologi Farmasi Indonesia, 9(1), 14–21.

Sparg, S. G., Light, M. E., & Van Staden, J. (2004). Biological activities and distribution of plant saponins. Journal of Ethnopharmacology, 94(2–3), 219–243. https://doi.org/10.1016/j.jep.2004.05.016

Stead, L. F., Perera, R., Bullen, C., Mant, D., Hartmann-Boyce, J., Cahill, K., & Lancaster, T. (2012). Nicotine Replacement Therapy For Smoking Cessation. Cochrane Database of Systematic Reviews, 11, CD000146. https://doi.org/10.1002/14651858.CD000146.pub4

Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Taylor, G. et al. (2014). Change In Mental Health After Smoking Cessation: Systematic review and meta-analysis. BMJ, 348:g1151.

Utami, N. L., & Ramadhanintyas, D. (2024). Hubungan Intensitas Merokok dengan Tingkat Kecemasan pada Remaja. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental, 13(1), 88–96.

WHO Regional Office for South-East Asia. World Health Organization. (2020). Global Youth Tobacco Survey: Indonesia 2019.

Wulandari, S., Prasetyo, R., & Kurniawan, H. (2021). Pengaruh Aromaterapi Lemon terhadap Penurunan Stres Akademik pada Remaja. Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa, 4(2), 77–84.

Yunitasari, D., Maharani, R., & Sari, P. (2021). Aromaterapi Citrus Oil dalam Menurunkan Kadar Kortisol dan Stres. Jurnal Farmasi dan Kesehatan Indonesia, 8(1), 33–41.

 

Lampiran

Daftar Gambar

Gambar 1.  Bangle basah, kering dan serbuk ………………………………………………….. 12

Gambar 2.  Maserat bangle, Pembuatan ekstrak kental …………………………………….. 13

Gambar 3. Uji Ph ekstrak bangle……………………………………………………………………. 13

Gambar 4. Reagen untuk uji fitokimia……………………………………………………………. 14

Gambar 5. Hasil uji fitokimia………………………………………………………………………… 14

Gambar 6. Bagan pembuatan HerbaVape-Free Inhaler ekstrak Bangle……………….. 15

 

Daftar Tabel

 

Tabel 1. Hasil proses  massa  simplisia, maserasi, dan ekstrak kental bangle……….. 13

Tabel 2. Hasil uji Fitokimia ekstrak bangle……………………………………………………..  14

Tabel 3. Hasil Uji Organoleptik……………………………………………………………………… 15

 

Daftar Grafik

 

Grafik 1. Pre-Test GAD-7………………………………………………………….. 17

Grafik 2. Post-Test GAD-7 ………………………………………………………… 17

Grafik 3. Kondisi emosional sebelum menggunakan inhaler……………………….. 18

Grafik 4. Kondisi emosional setelah menggunakan inhaler……………………….. 18

Grafik 5. Catatan merokok harian responden…………………………………………………… 19

 

 

 

Link dokumentasi penelitian: https://sg.docworkspace.com/d/sIHDuxpTfAeC51cYG

Link Log-Book: https://sg.docs.wps.com/module/common/aiGuide/?sid=sIIXuxpTfAeOy1cYG#1758812877150

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait