RESENSI BUKU
Judul: Kalau Tidak Pernah Memberi Bagaimana Bisa Merasa Memiliki (Inspired by Ahmad Najid, Kepala Madrasah)
Penulis: Sri Purwaningsih
Penerbit: PT Nyala Masadepan Indonesia
Tahun Terbit: 2025
Tebal: x + 122 halaman
Identitas dan Gambaran Umum
Buku Kalau Tidak Pernah Memberi Bagaimana Bisa Merasa Memiliki merupakan karya reflektif yang terinspirasi dari perjalanan kepemimpinan Ahmad Najid sebagai kepala madrasah. Ditulis dengan gaya naratif yang komunikatif, buku ini menghadirkan catatan pengalaman nyata tentang dinamika dunia pendidikan, khususnya dalam perspektif kepemimpinan sekolah.
Buku ini terbagi dalam empat bagian utama: Catatan Harian Kepala Sekolah, Guru Oh Guru, Program Sekolah dan Tantangannya, serta Berita Viral Media Sosial. Struktur ini memudahkan pembaca memahami kompleksitas peran kepala sekolah, mulai dari manajemen internal hingga respons terhadap isu eksternal.
Isi dan Pembahasan
Bagian pertama menyoroti dinamika awal kepemimpinan, seperti menghadapi skeptisisme “anget-anget tahi ayam”, membangun visi bersama, hingga mengelola ego dalam teamwork yang dianalogikan dengan sepak bola. Penulis menyajikan refleksi mendalam namun tetap ringan dibaca.
Bagian kedua mengangkat realitas kehidupan guru—profesionalisme, konflik personal, hingga tantangan moral di era digital. Sementara itu, bagian ketiga membahas strategi branding sekolah melalui konsep “lenjeh” (tebar pesona) secara positif sebagai upaya membangun identitas dan daya saing.
Bagian keempat menarik karena membahas isu-isu viral yang melibatkan guru dan sekolah, sehingga buku ini terasa kontekstual dan relevan dengan kondisi pendidikan saat ini.
Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan buku ini terletak pada pendekatan praktis dan kontekstual. Pengalaman nyata menjadikan pembahasan tidak teoritis semata. Bahasa yang digunakan sederhana, reflektif, dan inspiratif.
Namun, bagi pembaca yang mengharapkan kajian akademik dengan landasan teori yang kuat, buku ini mungkin terasa lebih sebagai buku motivasi dan refleksi personal dibanding kajian ilmiah.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, buku ini sangat direkomendasikan bagi kepala sekolah, guru, mahasiswa pendidikan, dan pemerhati dunia pendidikan. Pesan utamanya kuat: rasa memiliki lahir dari kontribusi nyata. Melalui filosofi memberi, penulis mengajak pembaca untuk menjadi agen perubahan di lingkungan pendidikan masing-masing.
Buku ini bukan sekadar catatan pengalaman, melainkan ajakan untuk membangun sekolah dengan hati, komitmen, dan kolaborasi.
