Search
Search
Close this search box.
KORAN DARI KOTA
KORAN DARI KOTA

Kisah Inspiratif

KORAN DARI KOTA

By : Poer Manise

Saya masih ingat betul suara langkah Ayah setiap kali pulang ke kampung. Langkahnya terdengar khas di halaman rumah yang berkerikil. Bahkan sebelum sosoknya terlihat di ujung jalan, aku sudah bisa menebak bahwa itu Ayah. Ibu biasanya segera menghentikan pekerjaannya di dapur, sementara aku berlari kecil ke teras, menahan harap agar waktu berjalan lebih cepat. Setiap kepulangannya selalu terasa seperti perayaan kecil yang tak pernah kami rencanakan, tetapi selalu kami nantikan.

Tas lusuh yang dibawanya bukan hanya berisi pakaian kotor atau oleh-oleh sederhana. Di dalamnya tersimpan cerita tentang kerasnya kota, tentang gedung-gedung tinggi yang tak pernah tidur, dan tentang perjuangan seorang lelaki menjaga mimpi keluarganya tetap hidup. Ayah jarang mengeluh. Ia lebih sering tersenyum dan berkata bahwa lelahnya akan hilang saat melihat kami baik-baik saja.

Kini aku mengerti, cahaya di matanya bukan sekadar rindu. Itu adalah cinta yang bekerja dalam diam, berkorban tanpa banyak kata, dan selalu menemukan jalan pulang.

Di tangannya, hampir selalu ada satu benda yang kami tunggu-tunggu: koran. Bagi orang lain mungkin itu hanya kertas penuh tinta. Bagi kami, itu adalah jendela dunia.

Setiap Ayah pulang, kami berlima langsung mengerubunginya. Tas lusuhnya belum sempat diletakkan, kami sudah sibuk mencari lipatan koran di dalamnya. Walaupun Koran-koran tersebut sudah kadaluarsa tanggal terbitnya. Yang paling sering kami rebutkan adalah koran edisi Minggu, terutama Poskota Minggu yang berisi komik-komik menghibur. Saya termasuk yang paling bersemangat. Rasanya seperti menemukan harta karun.

Kami berebut halaman. Kadang sampai bertengkar kecil. Saya biasanya lebih dulu mengambil bagian komik, membacanya sambil tengkurap di lantai rumah yang masih beralas tikar. Tawa kami pecah melihat gambar-gambar lucu dan cerita-cerita ringan yang menghibur. Di kampung kami yang sederhana, hiburan seperti itu sangat langka.

Ayah hanya tersenyum melihat kami.

Beliau sendiri tidak banyak bicara. Pendidikan Ayah hanya sampai sekolah dasar. Sejak kecil ia sudah membantu kakek sebagai nelayan, lalu merantau ke kota demi mencari nafkah. Tetapi meski sekolahnya singkat, pikirannya tidak pernah sempit. Ia percaya bahwa membaca adalah jalan untuk melihat dunia yang lebih luas.

Awalnya, saya hanya tertarik pada komik. Namun lama-kelamaan, rasa penasaran saya tumbuh. Setelah selesai membaca cerita bergambar, saya mulai melirik Koran harian lain yang ayah bawa, seperti  Koran Kompas dan Koran Merdeka. Ada berita tentang peristiwa sosial, tentang kehidupan di kota besar, tentang ilmu pengetahuan dan penemuan baru. Ada kisah orang-orang yang berjuang mengubah hidupnya lewat pendidikan. Saya belum sepenuhnya memahami semuanya, tetapi setiap minggu saya belajar satu hal baru.

Begitu pula saudara-saudara saya. Kami mulai berdiskusi kecil. “Kenapa harga beras naik?” “Kenapa ada anak yang bisa sekolah sampai luar negeri?” Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi anak kampung seperti kami saat itu, itu adalah tanda tumbuhnya sikap kritis.

Di zaman itu, banyak anak di desa kami berhenti sekolah setelah lulus SD. “Yang penting sudah bisa membaca dan menulis,” begitu kata orang-orang. Setelah itu, mereka membantu orang tua baik sebagai nelayan, buruh, pembantu rumah tangga atau menikah muda. Melanjutkan sekolah ke SMP saja sudah dianggap tinggi, apalagi sampai perguruan tinggi. Rasanya seperti mimpi yang terlalu jauh. Namun koran-koran yang dibawa Ayah pelan-pelan mengubah cara kami memandang masa depan.

Dari lembaran-lembaran berita itu, kami tahu bahwa dunia lebih luas dari kampung kecil kami. Bahwa ada profesi guru, perawat, insinyur, dan banyak pekerjaan lain yang bisa memberi manfaat bagi orang lain. Bahwa pendidikan bukan sekadar bisa membaca dan menulis, tetapi jembatan untuk mengubah nasib.

Suatu malam, saya memberanikan diri bertanya, “Yah, kalau kami ingin sekolah tinggi, boleh?”

Ayah terdiam sebentar. Saya tahu beliau memikirkan biaya, memikirkan kenyataan bahwa penghasilannya sebagai pekerja urban tidak selalu tetap. Garis di keningnya terlihat semakin dalam, seakan menghitung angka-angka yang tak pernah benar-benar pasti. Di luar, suara jangkrik mulai terdengar, mengisi jeda yang terasa panjang dan menegangkan.

Saya menunduk, takut jika permintaan itu terlalu berat. Sekolah lanjutan, buku-buku tambahan, ongkos perjalanan, semuanya tentu bukan perkara kecil bagi keluarga kami. Namun di balik diamnya, saya melihat sesuatu yang lebih besar daripada kekhawatiran: tekad.

Akhirnya ia berkata pelan, “Kalau kalian mau belajar sungguh-sungguh, Ayah akan berusaha.”

Kalimat itu sederhana, tetapi bagi saya terdengar seperti janji yang sakral. Bukan janji yang diucapkan dengan kemewahan, melainkan janji yang lahir dari keberanian melawan keterbatasan.

Malam itu saya belajar tentang arti pengorbanan. Bahwa cinta orang tua sering kali hadir dalam bentuk kerja keras yang tak terlihat. Sejak saat itu, setiap kali rasa malas datang, saya teringat wajah Ayah yang penuh pertimbangan namun tetap memilih untuk percaya pada mimpi anaknya. Dan saya tahu, saya tidak boleh mengecewakannya.

Perjalanan kami tidak mudah. Ayah harus bekerja lebih keras di kota. Kadang ia hanya pulang beberapa bulan sekali. Ibu mengatur keuangan sehemat mungkin. Kami juga belajar tanpa main-main. Setiap nilai menjadi bukti bahwa pengorbanan Ayah tidak sia-sia.

Satu per satu, kami melanjutkan sekolah. Lulus SMP, lalu SMA. Ketika akhirnya saya diterima di perguruan tinggi negeri, Ayah memilih pulang sebentar dari kota untuk menemani dan mengantarkan untuk registrasi di kampus impian.  Ia yang hanya tamatan SD, kini melihat kelima anaknya menapaki jenjang yang tak pernah sempat ia rasakan.

Hari ini, empat dari kami menjadi guru. Satu saudara kami menjadi perawat.  Kami mengajar dengan keyakinan bahwa pendidikan dapat mengubah hidup, karena kami sendiri mengalaminya. Satu saudara kami  yang menjadi perawat, merawat pasien dengan empati yang ia pelajari dari kerasnya kehidupan.

Jika mengingat kembali, rasanya hampir mustahil. Dengan kemampuan ekonomi yang terbatas, dengan latar belakang pendidikan Ayah yang sederhana, siapa yang menyangka kami kelima anaknya bisa mengangkat derajat orang tua kami.

Kini Ayah telah menua. Rambutnya memutih, langkahnya tidak lagi sekuat dulu. Keriput di wajahnya semakin jelas, menjadi peta panjang perjalanan hidup yang pernah ia tempuh. Tangan yang dulu kokoh menggenggam tas lusuh dan koran dari kota, kini lebih sering bertumpu pada tongkat kayu sederhana.

Kadang, saat saya mengunjunginya, saya melihat Ayah duduk di teras rumah, membaca koran yang kini kami belikan untuknya. Saya tersenyum sendiri. Dari koran-koran lusuh yang dulu kami rebutkan, lahir mimpi-mimpi besar. Dari seorang ayah sederhana yang hanya tamatan SD, tumbuh lima anak yang percaya pada kekuatan pendidikan.

Kami ingin ia menikmati masa tuanya dengan tenang, tanpa harus merantau lagi. Tidak ada lagi perjalanan panjang dengan bus malam, tidak ada lagi panas terik yang membakar kulitnya. Yang ada hanya pagi-pagi yang damai di teras rumah, secangkir teh hangat, dan waktu luang untuk bercerita tentang masa lalu.

Kadang ia tersenyum dan berkata bahwa ia bangga melihat kami berdiri di kaki sendiri. Namun sesungguhnya, semua yang kami capai adalah jejak dari doa dan pengorbanannya. Kini giliran kami menjaga cahaya di matanya agar tetap menyala, setenang dan setulus dulu.

Dan setiap kali saya membuka lembaran berita, saya selalu teringat satu hal: perubahan besar sering kali dimulai dari hal kecil, selembar koran yang dibawa pulang dengan penuh cinta.

.

 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait