Search
Search
Close this search box.
Narto dan Jembatan yang Tak Pernah Benar-Benar Runtuh
Narto dan Jembatan yang Tak Pernah Benar-Benar Runtuh

Nartiodan Jembatan yang Tak Pernah Benar-Benar Runtuh

Nurhidayah

Pagi di desa itu selalu datang dengan cara yang sama—perlahan, dingin, dan sepi. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan hutan yang mengelilingi pemukiman kecil di tepinya. Daun-daun basah oleh embun, dan suara cenggerek yang tak pernah benar-benar berhenti menjadi latar tetap bagi kehidupan yang berjalan sederhana.

Di ujung paling jauh dari desa, berdiri sebuah rumah kecil beratap seng yang mulai berkarat. Rumah itu seperti menolak runtuh, meski sudah lama kehilangan kekuatannya. Dindingnya miring sedikit ke kiri, dan jika hujan turun deras, air akan menetes dari banyak celah—jatuh tanpa henti ke lantai tanah yang dingin.

Di sanalah Narto tinggal. 

Tubuhnya kecil untuk ukuran usianya. Salah satu kakinya tidak tumbuh sempurna, membuat langkahnya tertatih dan tidak seimbang. Ia berjalan dengan bantuan tongkat kayu yang dibuat sendiri oleh ayahnya dulu—sebuah tongkat sederhana yang kini menjadi satu-satunya penopang langkahnya, sekaligus satu-satunya peninggalan yang paling ia jaga.

Hari itu, seperti banyak hari lainnya, Narto bangun sebelum matahari benar-benar menampakkan diri. Bukan karena ia harus pergi ke sekolah seperti anak-anak lain, melainkan karena dingin yang merayap dari lantai membuatnya tak bisa tidur lebih lama.

Ia duduk perlahan, memandang ke sudut rumah. Ada bekas air yang mengering di sana—tanda hujan semalam kembali masuk tanpa izin. Tikar tipis yang ia gunakan untuk tidur masih lembap. Tidak ada bagian rumah yang benar-benar kering.

Perutnya berbunyi pelan.

Nartio menelannya dengan diam.

Ia sudah terbiasa.

Dari kejauhan, samar-samar terdengar suara anak-anak. Riuh, penuh tawa, dan kadang diselingi teriakan kecil yang bahagia. Narti tahu suara itu. Setiap pagi, anak-anak desa berjalan menuju sekolah, melewati jalan setapak yang cukup jauh dari rumahnya. Mereka membawa tas, buku, dan cerita.

“Katanya sekarang dapat makan di sekolah,” ujar salah satu dari mereka beberapa hari lalu.

“Makan gratis, katanya. Program baru itu… MBG,” sahut yang lain.

Narto  tidak benar-benar mengerti apa itu MBG. Ia hanya tahu satu hal—anak-anak itu kini makan bersama di sekolah, sementara ia seringkali hanya menunggu rasa lapar itu hilang dengan sendirinya di rumah.

Ia berdiri perlahan, meraih tongkatnya, lalu berjalan keluar. Udara pagi menusuk, tetapi ia menyukainya. Setidaknya di luar, ia tidak harus melihat sudut-sudut rumah yang mengingatkannya pada kekurangan.

Hutan di belakang rumahnya tampak seperti dinding hijau yang luas. Angin berdesir, membawa suara daun dan serangga yang tak pernah berhenti. Kadang, suara itu terasa seperti teman. Kadang, seperti pengingat bahwa ia benar-benar sendiri.

Namun Narto  bukan anak yang diam.

Mimpi tidak pernah benar-benar mati di dalam dirinya.

Dulu, ketika ibunya masih ada dan ayahnya masih kuat bekerja, Narti sempat bersekolah. Ia ingat betul hari pertama masuk SMP. Seragamnya kebesaran, sepatu pinjaman dari sepupunya, dan langkahnya yang lambat membuatnya selalu tertinggal.

Tapi ia tidak pernah menyerah.

Ia belajar lebih keras dari siapa pun.

Ia mencatat lebih banyak.

Ia bertanya lebih sering.

Namun hidup tidak selalu memberi ruang untuk mimpi bertahan.

Ayahnya jatuh sakit. Ibunya harus bekerja lebih keras. Hingga suatu hari, keadaan memaksa Narto berhenti sekolah.

“Untuk sementara saja,” kata ibunya waktu itu.

Tapi “sementara” itu berubah menjadi selamanya.

Ibunya pergi tak lama kemudian, disusul ayahnya setahun setelahnya. Rumah kecil itu menjadi semakin sepi, dan Narto  harus belajar bertahan sendiri.

Sejak itu, sekolah hanya menjadi kenangan.

Namun mimpi tidak pernah benar-benar hilang.

Kadang, Narto berjalan ke desa. Perjalanan itu tidak mudah. Jalannya berbatu, menurun, dan licin jika hujan. Tapi ia tetap pergi.

Ia duduk di bawah pohon dekat sekolah, menunggu anak-anak ke luar.

“Pinjam bukumu, ya,” katanya suatu sore.

Temannya, Sari, tersenyum dan memberikan buku pelajaran hari itu.

Narto  membawanya pulang.

Membacanya di bawah cahaya lampu minyak yang redup.

Menyalin isinya ke kertas bekas.

Mengulang pelajaran seolah-olah ia masih menjadi bagian dari kelas itu.

Ia tidak ingin tertinggal.

Ia tidak ingin berhenti belajar.

Suatu hari, Sari datang dengan kabar baru.

“Narto, di desa sebelah ada PKBM. Katanya bisa sekolah lagi di sana. Sampai SMA juga bisa!”

Narto terdiam.

“Beneran?” suaranya pelan, hampir seperti takut berharap.

“Iya. Guruku bilang, nanti juga bisa kuliah. Ada bantuan, namanya KIP… KIP-K, gitu.”

Seperti angin segar yang tiba-tiba masuk ke ruangan pengap, kata-kata itu membuat sesuatu di dalam diri Narti hidup kembali.

Malam itu, ia tidak bisa tidur.

Ia membayangkan dirinya kembali duduk di kelas.

Memakai seragam.

Membawa buku.

Mendengarkan guru.

Dan mungkin… suatu hari, kuliah.

Ia tersenyum sendiri di kegelapan.

Namun jalan menuju mimpi itu tidak mudah.

Untuk mencapai PKBM di desa sebelah, Narto harus melewati jembatan tua yang rusak. Jembatan itu pernah diterjang banjir setahun lalu, dan sejak itu tidak pernah benar-benar diperbaiki.

Kayunya lapuk.

Sebagian papan hilang.

Arus sungai di bawahnya deras.

Orang-orang jarang melewatinya sekarang.

Tapi Narto tetap berdiri di depannya pagi itu.

Tongkat di tangannya bergetar sedikit.

Bukan karena lelah.

Tapi karena ragu.

Ia menarik napas panjang.

“Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” bisiknya pada diri sendiri.

Langkah pertama ia ambil dengan hati-hati.

Kayu itu berderit.

Langkah kedua.

Ia hampir kehilangan keseimbangan.

Namun ia bertahan.

Pelan.

Satu langkah lagi.

Dan lagi.

Keringat dingin membasahi dahinya, meski udara pagi masih dingin.

Ia tidak melihat ke bawah.

Ia hanya fokus ke depan.

Pada ujung jembatan.

Pada harapan.

Ketika akhirnya ia sampai di seberang, Narti terduduk.

Bukan karena menyerah.

Tapi karena lega.

Air matanya jatuh tanpa ia sadari.

Ia berhasil.

Dan itu baru permulaan.

Hari pertama di PKBM, Narti datang dengan pakaian sederhana dan buku yang sudah usang. Beberapa orang menoleh. Ada yang heran, ada yang tersenyum.

Seorang guru mendekatinya.

“Kamu Narto, ya?”

Ia mengangguk.

“Selamat datang. Di sini, kita belajar sama-sama. Tidak ada yang tertinggal.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi bagi Narti, itu seperti dunia baru yang terbuka.

Ia duduk.

Mendengarkan.

Mencatat.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa… hidupnya kembali berjalan.

Hari-hari berikutnya tidak selalu mudah.

Kadang hujan turun dan membuat jembatan semakin licin.

Kadang tubuhnya lelah.

Kadang perutnya kosong.

Tapi Narto  tidak pernah berhenti.

Ia berjalan.

Ia belajar.

Ia bermimpi.

Suatu sore, saat ia pulang, matahari tenggelam perlahan di balik hutan. Langit berwarna jingga, dan angin membawa suara cenggerek yang kini terasa berbeda.

Tidak lagi sepi.

Tidak lagi menyesakkan.

Melainkan… menemani.

Narto  duduk di depan rumahnya.

Ia membuka buku.

Membaca pelajaran hari itu.

Dan tersenyum.

Rumah itu mungkin masih bocor.

Hidupnya mungkin masih penuh kekurangan.

Tapi sekarang, ia punya sesuatu yang tidak bisa diambil oleh keadaan.

Harapan.

Dan jembatan itu, yang dulu hampir runtuh, kini menjadi saksi bahwa langkah kecil pun bisa membawa seseorang lebih jauh dari yang pernah ia bayangkan.

Narto  menatap langit.

“Suatu hari,” bisiknya, “aku akan sampai lebih jauh lagi.”

Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar percaya.

 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait