Pojok Sunyi yang Menumbuhkan Cahaya
Nurhidayah
Di pojok-pojok sepi aku belajar diam,
kursi tua jadi saksi bisu kegelisahan,
langkah-langkah lain riuh di kejauhan,
sementara aku tenggelam dalam ruang yang tak bersuara.
Aku bukan tak ingin berbicara,
hanya saja kata-kata sering tersangkut di dada,
seperti hujan yang tertahan di awan,
jatuhnya ragu, gemanya hilang.
Hari-hari berjalan seperti bayang-bayang,
datang tanpa menyapa, pergi tanpa jejak,
aku dan sunyi seperti dua sahabat lama,
saling mengerti tanpa harus saling bertanya.
Namun sunyi kadang terasa berat,
menggantung di langit pikiran yang kelabu,
seolah dunia terlalu luas untukku,
dan aku terlalu kecil untuk didengar.
Hingga suatu hari aku melangkah lebih jauh,
ke ujung desa yang jarang disapa,
di sana angin tak menilai,
dan daun-daun tak pernah menghakimi.
Daun-daun itu berbisik pelan,
menyapa tanpa suara,
menari tanpa irama yang memaksa,
mengajakku duduk tanpa syarat.
Aku mulai memungut mereka satu per satu,
daun kering, daun gugur, daun yang terlupa,
tanganku yang dulu gemetar kini belajar merangkai,
mengubah sunyi menjadi karya.
Dari helai-helai sederhana itu,
lahir bentuk, lahir makna, lahir cerita,
eko-print menjadi jejak kecilku,
bahwa alam pun bisa jadi sahabat berkarya.
Aku tersenyum—pelan, tapi nyata,
ternyata sendiri bukan berarti kehilangan,
di antara daun yang jatuh dan tanah yang diam,
aku menemukan percakapan yang tak pernah sepi.
Kini aku tahu,
bersama alam pun adalah cara bersosial,
dengan makhluk Tuhan yang lain,
yang tak banyak bicara, tapi selalu ada.
Dan di pojok sepi yang dulu menyakitkan,
aku berdiri dengan hati yang lebih terang,
sebab dari kesendirian yang kupeluk,
lahirlah karya—
yang diam-diam menghidupkan.
