Search
Search
Close this search box.
Rumi dan Kamera Kecil di Sudut Kota
Rumi dan Kamera Kecil di Sudut Kota

Cerpen

Rumi dan Kamera Kecil di Sudut Kota

Nurhidayah

Di kota kecil bernama Sukamerta, hidup berjalan seperti aliran sungai yang santai—mengalir tanpa tergesa, namun juga tidak pernah berhenti. Waktu di sana seakan mengajarkan satu peribahasa lama yang sering diucapkan para orang tua: pelan-pelan asal selamat. Tidak banyak hiruk pikuk seperti di kota besar, tidak pula sunyi seperti desa yang terpencil. Sukamerta adalah tempat di mana kehidupan bergerak sederhana, namun menyimpan banyak cerita.

Setiap pagi, kota itu selalu terbangun dengan irama yang hampir sama. Matahari perlahan naik dari balik perbukitan, seolah malu-malu menampakkan wajahnya. Jalanan mulai dipenuhi suara sepeda motor para siswa yang berangkat ke sekolah, bercampur dengan bunyi roda gerobak pedagang bubur yang mendorong dagangannya menyusuri gang sempit. Di warung kopi pinggir jalan, para bapak duduk santai berbincang tentang berita semalam, membuktikan pepatah lama: di mana ada kopi, di situ ada cerita.

Di kota yang tenang itulah Rumi tinggal.

Rumi adalah siswa kelas sebelas di sebuah SMA negeri yang tidak terlalu besar. Sekolah itu tidak mewah, tetapi cukup hangat. Hampir semua siswa saling mengenal, dan kabar kecil pun bisa cepat menyebar seperti angin yang membawa daun kering.

Di sekolah itu, setiap siswa memiliki ciri khasnya sendiri. Ada yang terkenal karena jago futsal, ada yang dikenal aktif di organisasi, dan ada juga yang namanya selalu disebut karena suka membuat keributan di kelas.

Sedangkan Rumi…

Ia dikenal karena satu hal yang sangat sederhana.

Pendiam.

Jika seseorang memasuki kelas XI IPS 2 dan melihat ke bangku dekat jendela, kemungkinan besar mereka akan menemukan Rumi sedang menunduk membaca buku. Bukan buku pelajaran, melainkan novel, buku filsafat ringan, atau kadang buku psikologi yang bahkan judulnya terdengar rumit.

Bagi sebagian orang, kebiasaan itu terasa aneh.

Namun bagi Rumi, membaca adalah cara memahami dunia.

Suatu hari, saat jam pelajaran belum dimulai, Arga—teman sebangkunya—menoleh sambil memperhatikan buku yang sedang dibaca Rumi.

“Rum,” katanya.

Rumi mengangkat kepala sebentar.
“Iya?”

Arga menunjuk buku di tangannya.

“Kamu nggak bosan baca terus?”

Rumi menggeleng pelan.
“Enggak juga.”

Arga tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.

“Serius deh, kamu itu kayak perpustakaan berjalan. Ke mana-mana bawa buku.”

Rumi hanya tersenyum tipis lalu kembali menatap halaman yang sedang ia baca.

Ada peribahasa yang pernah ia baca di salah satu buku: buku adalah jendela dunia. Rumi merasa pepatah itu benar adanya. Melalui buku, ia bisa menjelajahi tempat-tempat yang belum pernah ia datangi, memahami pikiran orang-orang yang belum pernah ia temui.

Namun sayangnya, dunia nyata tidak sesederhana buku.

Di kelas, ketika teman-temannya tertawa keras karena sebuah lelucon, Rumi sering hanya menjadi pendengar. Ketika percakapan di grup kelas berjalan ramai, ia lebih sering membaca tanpa ikut menanggapi.

Bukan karena ia tidak peduli.

Bukan pula karena ia merasa lebih baik dari orang lain.

Ia hanya sering merasa… tidak tahu harus berkata apa.

Pikiran Rumi sering berjalan terlalu cepat. Sebelum sebuah kalimat keluar dari mulutnya, ia sudah memikirkan berbagai kemungkinan.

Apa aku terdengar aneh?
Apa mereka mengira aku sombong?
Kenapa berbicara terasa lebih sulit daripada membaca seratus halaman buku?

Pikiran-pikiran itu berputar seperti roda yang tidak berhenti. Ada pepatah yang mengatakan bagai tikus masuk perangkap, semakin bergerak justru semakin terjebak. Begitulah kadang perasaan Rumi ketika pikirannya terlalu ramai.

Ia sering overthinking.

Dan ketika itu terjadi, buku selalu menjadi tempat pelarian yang paling tenang.

Suatu sore sepulang sekolah, Rumi mengayuh sepedanya menuju perpustakaan kota Sukamerta. Perpustakaan itu bukan bangunan baru. Cat dindingnya mulai memudar, jendela-jendelanya dari kayu tua yang sering berderit ketika dibuka.

Namun bagi Rumi, tempat itu terasa seperti rumah kedua.

Di dalam perpustakaan, selalu ada aroma khas kertas lama. Aroma yang bagi sebagian orang mungkin terasa kuno, tetapi bagi Rumi justru menenangkan.

Ada peribahasa yang mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Rumi merasa peribahasa itu berlaku juga pada buku. Semakin ia membaca, semakin ia memahami dunia dan dirinya sendiri.

Hari itu, Rumi berjalan ke rak paling belakang. Tangannya menyusuri deretan buku hingga berhenti pada sebuah buku yang sampulnya agak pudar.

Judulnya menarik perhatiannya.

“Bergerak, Walau Pelan.”

Rumi duduk di kursi kayu dekat jendela dan mulai membaca.

Buku itu bukan novel. Isinya kumpulan kisah orang-orang yang memberi dampak bagi lingkungan mereka dengan cara sederhana. Kisah-kisah kecil, tetapi penuh makna—seperti peribahasa sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.

Saat membaca salah satu bab, Rumi tiba-tiba berhenti.

Bab itu menceritakan seorang pemuda yang sangat pendiam. Ia tidak pandai berbicara di depan umum, sering gugup saat bertemu orang baru, dan lebih suka membaca daripada berkumpul.

Rumi merasa seperti sedang membaca kisah dirinya sendiri.

Ia melanjutkan membaca dengan lebih serius.

Pemuda itu akhirnya menyadari satu hal penting: ia tidak harus berubah menjadi orang yang sangat ramai untuk berguna. Ia hanya perlu menemukan caranya sendiri untuk berbagi.

Ada satu kalimat yang membuat Rumi menatap halaman itu lama.

“Kita tidak harus menjadi orang paling berisik di ruangan untuk memberi pengaruh. Kadang, suara yang paling tenang justru didengar paling dalam.”

Rumi menutup buku itu perlahan.

Kipas angin di atas kepalanya berputar pelan. Dari jendela, sinar matahari sore menyentuh jalanan kota dengan warna jingga yang hangat.

Kalimat itu terasa seperti mengetuk sesuatu di dalam pikirannya.

Selama ini Rumi selalu merasa bahwa dirinya terlalu pendiam untuk berarti.

Namun ada pepatah yang mengatakan, air yang tenang menghanyutkan. Kadang yang terlihat sunyi justru menyimpan kekuatan besar.

Tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di benaknya.

Bagaimana kalau aku juga mencoba melakukan sesuatu?

Malam itu, kamar Rumi terasa lebih sunyi dari biasanya.

Di meja belajarnya ada tumpukan buku, lampu kecil, dan sebuah laptop yang sudah cukup tua. Laptop itu sering ia gunakan untuk mengerjakan tugas sekolah atau menulis catatan kecil tentang buku yang ia baca.

Rumi membuka laptop itu.

Tangannya berhenti di depan kamera.

“Ah… ide bodoh,” gumamnya.

Membayangkan berbicara di depan kamera saja sudah membuat perutnya terasa tidak nyaman.

Namun ia teringat satu pepatah yang sering ia baca: tak ada gading yang tak retak. Tidak ada yang sempurna sejak awal.

Ia menarik napas panjang.

Perlahan, Rumi menyalakan kamera.

Layar menampilkan wajahnya sendiri yang terlihat sedikit canggung.

“Hmm… halo,” katanya pelan.

Ia langsung tertawa kecil.

“Ini mungkin video paling aneh yang pernah aku buat.”

Rumi menggaruk kepalanya sebelum melanjutkan.

“Namaku Rumi. Aku tipe orang yang lebih suka membaca buku daripada ngobrol di keramaian. Kalau kamu juga sering merasa overthinking karena susah bergaul… mungkin kita punya cerita yang sama.”

Kalimat-kalimat itu keluar tanpa rencana.

Tidak dramatis.

Tidak dibuat-buat.

Hanya jujur.

Video itu hanya berdurasi empat menit. Setelah selesai, Rumi menatap tombol unggah cukup lama.

Akhirnya ia mengkliknya juga.

Judul videonya sederhana:

“Kalau Kamu Introvert dan Sering Overthinking.”

Keesokan paginya, Rumi membuka aplikasinya dengan perasaan campur aduk.

Ia tidak berharap banyak.

Namun angka yang muncul membuatnya terkejut.

27 penonton.

Memang tidak besar.

Tetapi komentar-komentarnya membuat Rumi terdiam.

“Aku juga kayak gini.”
“Kirain cuma aku yang ngerasa aneh.”
“Cara ngomongmu tenang banget.”

Rumi membaca komentar-komentar itu berulang kali.

Ada pepatah yang mengatakan ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Rasanya seperti menemukan orang-orang yang memahami perasaannya.

Sejak hari itu, Rumi mulai membuat video lagi.

Tidak sering, tetapi konsisten.

Kadang seminggu sekali. Kadang dua minggu sekali.

Isi videonya sederhana—tentang overthinking, tentang menikmati waktu sendiri, dan tentang menjadi introvert tanpa merasa bersalah.

Suatu hari di sekolah, Arga tiba-tiba menunjukkan sebuah video di ponselnya.

“Itu kamu kan?” tanya Arga.

Rumi mengangguk pelan.

Ia sudah siap jika Arga akan menertawakannya.

Namun Arga justru berkata,
“Videomu keren, tahu. Adikku sering nonton.”

Rumi terdiam sejenak.

Ternyata benar kata pepatah: jangan menilai buku dari sampulnya. Apa yang ia anggap aneh ternyata bisa berarti bagi orang lain.

Beberapa bulan berlalu.

Channel kecil Rumi perlahan berkembang. Tidak besar, tetapi cukup untuk membuat banyak orang merasa tidak sendirian.

Suatu malam, Rumi membaca pesan dari seorang penonton.

“Kak Rumi, aku juga anak SMA. Aku sering merasa sendirian karena tidak pandai bergaul. Setelah nonton videomu, aku jadi sadar kalau introvert bukan berarti antisosial.”

Rumi menatap layar itu lama.

Ia tersenyum pelan.

Kini ia mengerti satu hal penting.

Menjadi pendiam bukanlah kelemahan.

Itu hanya cara berbeda menikmati kehidupan.

Seperti pepatah lama yang sering ia baca: setiap orang punya jalannya sendiri.

Dan kadang, dari langkah kecil yang sunyi itulah perubahan besar bisa dimulai.

Di luar jendela, lampu-lampu kota Sukamerta mulai menyala.

Rumi menyalakan kamera kecilnya lagi.

“Halo,” katanya sambil tersenyum.

“Kali ini aku ingin bercerita… bahwa menjadi diri sendiri ternyata tidak pernah salah.”

Dan dari sudut kota kecil itu, suara Rumi terus berjalan—pelan, namun pasti—seperti aliran sungai yang tidak pernah berhenti menuju lautan.

 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait