Tunas di Tanah Gersang
Nurhidayah
Di tanah retak yang dulu berdebu,
angin hanya menulis sunyi di punggung ladang,
seorang remaja datang membawa mimpi,
menanam harap di sela-sela keraguan.
Tangannya bukan sekadar menggenggam cangkul,
ia merangkul masa depan yang hampir padam,
keringatnya menjelma embun pagi,
jatuh pelan, menyapa bumi yang lama tertidur.
Ia berbicara pada tanah seperti sahabat lama,
“Bangkitlah, kita belum selesai,” katanya lirih,
dan tanah pun berdenyut, perlahan menjawab,
dengan denyut akar yang mulai berani hidup.
Benih-benih kecil ia titipkan pada rahim bumi,
seperti doa yang disemai dalam diam,
matahari menjadi saksi setia,
menyulap harap menjadi warna hijau yang menjalar.
Ladang yang dulu hanya luka panjang,
kini menjelma hamparan mimpi yang berdaun,
padi menari seperti syair kehidupan,
mengalun di antara angin yang kini bersahabat.
Bukan sekadar panen yang ia tunggu,
tapi perubahan yang berbuah nyata,
dari tanah lahir rezeki dan martabat,
dari kering tumbuh kesejahteraan bersama.
Ia tak hanya menanam tanaman,
ia menumbuhkan ekonomi desa yang sempat layu,
dari tangan mudanya lahir produk unggulan,
yang melintasi batas, menjangkau dunia.
Wahai remaja penjaga bumi,
kau adalah puisi yang ditulis oleh alam,
dengan tinta hijau dan bait-bait kesabaran,
mengubah gersang menjadi kehidupan.
Dan ketika panen tiba di ufuk senja,
bumi tersenyum dalam pelukan hasil jerih payah,
sebab cinta pada tanah tak pernah sia-sia,
ia selalu kembali—
menjadi masa depan yang berbuah.
